Opini

Dalam Pola Pengasuhan, Orang Tua Harus Hindari Kata “Jangan” Pada Anak

Siedoo, Seringkali para psikolog mengingatkan kepada orang tua tentang bagaimana berkomunikasi dengan anak, utamanya cara melarang anak melakukan sesuatu yang tidak diperbolehkan. Pada tahun 2014 lalu, di banyak buku parenting disebutkan bahwa orang tua baiknya menghindari kata “jangan!” kepada anak dengan beragam alasan. Tetapi pada 2018, muncul beragam artikel bahwa kata “jangan” boleh digunakan sesuai konteksnya.

Kata “jangan” menjadi paradoks dalam pola pengasuhan. Memang betul dalam beberapa hal, kata ini membatasi gerak gerik anak, tapi di sisi lain memang tidak semua hal boleh dilakukan oleh anak. Artinya perlu memikirkan cara berkomunikasi efektif agar anak tahu bahwa sesuatu itu dilarang karena berbahaya untuk dirinya.

Sangat sederhana mengapa kata “jangan” sebaiknya dihindari. Pertama, biasanya setelah kata jangan muncul kata berlawanan yang dimaksudkan oleh si pelarang (orang tua). Sebagai contoh, “jangan berdiri!” (artinya: anak diminta untuk duduk). Anak pasti bingung, karena bisa jadi tidak memahami apa arti dari “jangan” sehingga ia akan melakukan sesuatu yang dia pahami yaitu “berdiri”.

Kedua, kata apa yang biasanya anak ucapkan ketika kita mengajarkan sebuah kalimat? Sering kali untuk anak yang baru belajar bicara, ia hanya akan mengulangi kata terakhir dari kalimat yang ia dengar. Sebagai contoh, kita minta mereka mengulangi kalimat ini “jangan makan sambil berdiri!”, seorang anak cenderung mudah mengingat akhir kata dari kalimat tersebut, yaitu “berdiri” dan itulah yang akan ia lakukan.

Sebagaimana saat kita pertama kali mengajarkan anak hafalan ayat pendek, dia hanya akan mengulangi kata akhirnya. Misalkan kita minta anak mengucapkan “qul huwallahu ahad”, kebanyakan dari mereka akan mengulanginya dengan kata “ahad”.

Anak sangatlah cerdas, masa golden age itu tentu harus dimanfaatkan dengan stimulus yang tepat, artinya sesuai porsinya. Bisa jadi di usia itu, kemampuan mengulang kembali belum bisa mengulang sebuah kalimat, apalagi kalimat kompleks.

Sehingga jika ingin memberikan instruksi, maka gunakan bahasa yang sederhana dan langsung dipahami. Kita bisa mengubah kata “jangan berdiri!” dengan kata “yuk duduk!”, begitu pun dengan kata atau kalimat lainnya. (*)

Nurul Aeni
Founder Komunitas Media Pembelajaran (KOMED)
Jakarta Selatan 
Apa Tanggapan Anda ?