Daerah

Memerdekakan Belajar Siswa dengan Pameran Gelar Karya  

MAGELANG - Sekolah Menengah Atas (SMA) Muhammadiyah 2 Kota Magelang, Jawa Tengah pamerkan puluhan karya seni dari berbagai genre seni lukis dan seni tiga dimensi pemanfaatan barang bekas, belum lama ini. Pameran tersebut diikuti siswa kelas XII guna menempuh ujian praktik seni.

“Pameran ini bukan hanya sebatas untuk penilaian ujian praktik, namun sebagai wahana untuk memotivasi siswa terjun dalam dunia kreatif dan menemukan kekreatifan di dalam dirinya sendiri,” kata guru seni sekolah setempat, Ardan Pradana.

Ardan menegaskan, pameran tersebut merupakan ruang kreatif untuk memerdekakan belajar siswa. Selain itu dengan adanya pameran tersebut siswa diberikan keleluasaan pikir maupun imajinasi untuk menyulap barang bekas menjadi barang yang bernilai estetis dan penuh akan makna.

“Saya berharap dengan adanya pemanfaatan barang bekas menjadi sebuah karya seni ini kedepannya mereka menjadi lebih peduli dengan lingkungan dan alam. Karena, mereka telah sadar jika barang bekas bisa dimanfaatkan menjadi karya yang sangat bernilai dan mampu menghadirkan keindahan, bukan hanya menjadi sampah semata,” imbuhnya saat ditemui di ruang pameran.

Selain itu di ruang pameran tersebut ada 40 lebih seni lukis dari berbagai macam genre, seperti abstrak, ralis, kaligrafi, kubisme dan lattering. Di ruang pameran tersebut juga banyak menampilkan lukisan menggunakan media, seperti helm, sepatu, tas, sandal, gelas, tempat pensil dan totebag.

“Di sini bukan hanya bisa menikmati karya yang dipamerkan, namun juga bisa melihat proses perjalanan siswa-siswi bergelut dengan karya seni di buku gambar yang ada di stand depan,” imbuh Ardan.

Ardan menambahkan bahwa di awal proses pembelajaran seni banyak siswa yang menganggap seni lukis itu sulit. Namun ia yakin bahwa untuk terjun di dunia seni itu yang paling utama adalah kemauan, dan terus berproses.

“Bakat itu nomor kesekian, namun semangat terus belajar dan berkarya adalah kunci utama dalam berseni. Sebakat apapun orang, jika tidak mau terus belajar dan berkarya maka bakat itu akan luntur,” tegasnya.

Pameran yang digelar di aula sekolah tersebut memamerkan belasan karya dari pemanfaatan barang bekas, seperti stik es krim, bambu, kardus dan tempurung kelapa yang disulap menjadi bentuk karya tiga dimensi berwujud rumah tradisional, angkringan, kapal pesiar, miniatur boneka, alat dapur dan alat makan, kamera DLSR, menara eifel, burung merak, setra vas bunga dari korek api kayu.

“Saya baru sadar ternyata barang bekas bisa menjadi sebuah karya yang sangat indah dan penuh dengan makna. Saya merasa sangat beruntung bisa ikut serta dalam pameran tahun ini walaupun karya saya belum bisa seindah dan sebagus karya seniman-seniman di luar sana,” ujar Fatim, salah satu siswi.

“Semoga kedepannya digelar pameran lagi, agar semua orang mengetahui kalau karya seni itu sangat bermanfaat untuk kehidupan. Selain itu sebagai represing kami sebelum menempuh ujian. Terima kasih gelar karya,” tambahnya.

Dalam pameran yang digelar hari ini, masyarakat SMA Muhammadiyah 2 Kota Magelang sangat antusias. Banyak siswa-siswi yang sangat menikmati pameran saat istirahat berlangsung, bahkan sampai tidak mendengar bel pembelajaran.

“Pameran gelar karya ini sangat menarik, banyak nilai edukasi saya dapatkan di ruang pameran ini. Ternyata karya seni bukan hanya menyajikan keindahan, namun di balik keindahan dan keabstrakan lukisan mengandung makna-makna yang begitu dalam, terlebih dalam kehidupan. Ada salah satu lukisan yang menggambarkan begitu mencekamnya juga kota Wuham,” ujar Puput, salah seorang siswi kelas XII yang nampak sangat menikmati lukisan satu-persatu.

Bukan hanya siswa-siswi yang menikmati pameran ini, guru dan karyawan pun sangat antusias menikmati pameran perdana tahun ini.

“Semoga gelar karya bukah hanya tahun ini saja, namun harus terus ada. Walaupun pembelajran di kelas itu penting, tetapi siswa-siswi juga harus diberikan wadah untuk megekspresikan diri dan memupuk kreatifitasnya. Semoga berbekal gelar karya ini mereka lebih berani berkarya di dunia luar,” tutur Muhibas Sabri, selaku guru sejarah yang sedang menikmati pameran. (Siedoo)

Apa Tanggapan Anda ?