Ilustrasi banjir. l sumber : int

Opini

Masukkan Komponen Kebencanaan dalam Kurikulum Sekolah

Ads SMK IT Maarif

Siedoo, Persoalan kebencanaan bukan hanya peran pemerintah. Namun, semua pihak termasuk masyarakat dan sekolah. Semuanya harus siap dan mempunyai kapasitas dalam persiapan menghadapi datangnya bencana. Mampu menjaga kesehatan pada saat bencana serta penanganan masalah kesehatan pascabencana.

Untuk persiapan, semua bisa diawali penerapannya di tingkat sekolah. Artinya adalah memasukkan komponen kebencanaan di dalam kurikulum sekolah, baik intra maupun ekstra kurikuler. Khususnya intra kurikuler, dinilai dapat mengembangkan kompetensi yang diturunkan menjadi sasaran belajar siswa yang kemudian dimasukkkan dalam mata pelajaran.

Mendikbud Nadiem Makarim sedang giat mengusung ‘kemerdekaan belajar’. Tentu strategi pembalajaran seperti ini akan direspon.

Dalam menjalankan strategi itu, para guru diberi kebebasan untuk mamasukkan sasaran belajar dan pelajaran terkait kebencanaan. Strategi pembelajarannya juga bisa macam-macam. Dari simulasi, praktikum, role play, diskusi kelompok, dan strategi lain yang sekira menarik untuk siswa.

Selain itu, juga dapat dengan membentuk kader kesehatan sekolah lewat program UKS yang selama ini sudah ada di bawah pembinaan Dinas Pendidikan dan Dinas Kesehatan.

Lewat  program kader kesehatan sekolah, siswa yang potensial bisa dilatih bagaimana persiapan menghadapi bencana seperti banjir, menjaga kesehatan pada saat banjir dan penanganan setelah banjir. Setelah dilatih, mereka bisa mensosialisasikannya ke teman-teman lain di sekolah dan keluarga.

Selain di tingkat sekolah, peran dari kelompok masyarakat dan komunitas juga dapat memberikan pendekatan edukasi sebelum terjadi bencana. Pada bagian lain, pendekatan juga disebutnya dapat dilakukan pada tingkat keluarga.

Untuk tingkat komunitas, pendekatannya bisa lewat individu, keluarga dan masyarakat. Pendekatan individu dilakukan di fasilitas pelayanan kesehatan untuk pasien-pasien yang datang ke puskesmas.

Untuk tingkat keluarga, bisa lewat kegiatan home visit atau kunjungan rumah untuk keluarga yang beresiko terkena banjir dan mengalamai masalah kesehatan akibat banjir.

Untuk pendekatan masyarakat, bisa lewat forum-forum yang ada di masyarakat seperti posyandu, posbindu, PKK, dan lainnya. Penting juga melatih kader kesehatan di masyarakat untuk topik-topik terkait bagaimana persiapan menghadapi banjir, menjaga kesehatan selama banjir dan penanganan masalah kesehatan setelah banjir.

Kader kesehatan dan tokoh masyarakat juga perlu dibekali dengan pengetahuan dan keterampilan tentang mitigasi bencana dan penanganan awal jika terjadi musibah banjir. (*)

 

Agus Setiawan, S.Kp., M.N., D.N

Dewan Pakar Ikatan Perawat Kesehatan Komunitas Indonesia

(Disarikan dari berita rri.go.id)

Apa Tanggapan Anda ?
Ads Samanata