Filosofi tari dijadikan filosofi pengasuhan anak. (ilustrasi: meifadela16.blogspot.com)

Opini

Menerapkan Pola Pengasuhan Anak melalui Filosofi Tari


Siedoo, Dalam sebuah tarian, harus memenuhi tiga dasar tari atau kriteria, yang menjadikan tarian itu menarik. Menarik sebagai seni yang sarat estetika, yang merupakan tontonan berkarakter Indonesia. Ketiga dasar itu dikenal dengan filosofi seni tari, yaitu wiraga, wirama, dan wirasa.

Wiraga berarti raga atau penampilan gerakan para penari. Wirama adalah irama atau gerakan agar selaras untuk mencapai keharmonisan. Sedangkan wirasa adalah penjiwaan, penghayatan, dan pengekspresian gerak dalam tari.

Bapak Pendidikan Nasional, Ki Hajar Dewantara, menjadikan ketiga itu sebagai filosofi dalam pengasuhan anak. Utamanya dalam mengawal tumbuh kembang seorang anak hingga dewasa.

Ki Hadjar, dalam bukunya ‘Pusara’ terbitan 1940 menuliskan ketiga istilah tersebut. Dalam buku itu, Ki Hadjar menggunakan ketiga filosofi itu sebagai tingkatan jiwa dalam mengasuh dan mendidik anak.

“Berhubung khususnya jiwa dalam tiap periode itu, haruslah caranya mengajar atau metodenya dikhususkan ….” Begitulah Ki Hajar menyebutkan agar orangtua memperlakukan anak sesuai tingkatan jiwanya.

Masa wiraga (0-8 tahun)

Seperti ditulis laman sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id, Jumat (2/8/2019), wiraga adalah dasar wujud lahiriah badan beserta anggota badan yang disertai keterampilan. Masa wiraga ini merupakan periode yang amat penting bagi perkembangan badan (jasmani) dan panca indera.

Anak-anak pada masa wiraga diberi peluang menggunakan saraf motorik, otot-otot besar, termasuk berlari, melompat, dan belajar keseimbangan. Agar anak bebas berekspresi, kegiatan di luar ruangan harus lebih banyak dilakukan.

Masa wirama (9-16 tahun)

Kelanjutan masa wiraga adalah masa wirama, di mana gerak yang dihasilkan harus berirama. Meskipun pertumbuhan masih amat kurang, periode ini penting untuk perkembangan pikiran anak.

Pada masa wirama, anak tidak cukup diberikan pembiasaan atau perintah, tetapi sebaiknya mulai diberikan pengertian dan penjelasan tentang segala tingkah laku kebaikan sehari-hari. Hal ini dimaksudkan agar jangan sampai mereka melakukan suatu kebaikan hanya karena kebiasaan, diperintah atau ikut aturan.

Pada masa ini, anak-anak selayaknya memperoleh pengajaran jasmani yang sistematis, yang tidak hanya untuk fisik (raga) tetapi juga pada kesuburan jiwa. Yaitu  memiliki kecepatan berpikir, kemampuan merasa, dan kegigihan (keteguhan kemauan).

Masa wirasa (17-24 tahun)

Dalam bukunya tersebut di atas, Ki Hadjar mengungkapkan wirasa adalah gerak tidak saja harus sesuai irama, namun harus dilakukan dengan rasa (jiwa). Hal ini menjelaskan masa wirasa adalah masa di mana anak-anak sudah remaja menuju kedewasaan.

Anak pada masa ini sudah lebih ‘berirama’. Sehingga mereka bisa mengatur dirinya sendiri, dan memahami potensi diri untuk bekal menghadapi masa depannya sendiri. (*)

 

*Redaksi Siedoo

Apa Tanggapan Anda ?
Banner Hari KORPRI