Internasional

Boyong Enam Medali, Indonesia Peringkat ke-14 dari 110 Negara

JAKARTA - Enam medali berhasil diboyong Indonesia dari ajang Olimpiade Matematika Internasional atau International Mathematical Olympiad (IMO) 2019 ke-60 di Bath, Inggris, baru-baru ini. Satu medali emas, empat medali perak, dan satu perunggu berhasil diperoleh setelah bersaing dari 600 peserta dari berbagai negara.

Koordinator Tim Indonesia untuk IMO 2019, Aleams Barra mengatakan, prestasi Indonesia jauh lebih baik dibandingkan beberapa negara seperti Australia, Inggris, Kanada, Jerman dan Belanda.

“Perolehan medali emas kali ini merupakan yang ketiga kalinya yang pernah kita dapatkan setelah sebelumnya kita juga pernah mendapatkan emas pada tahun 2013 dan 2018,” katanya.

Raihan medali ini mengantarkan Indonesia pada urutan ke-14 dari 110 negara peserta. Satu medali emas IMO 2019 diraih Kinantan Arya Bagaspati dari SMA Taruna Nusantara, Magelang, Jawa Tengah.

Empat medali perak masing-masing dipersembahkan Jonathan Christian Nitisastro (SMAK Petra 2, Surabaya), Alfian Edgar Tjandra (SMA Kharisma Bangsa, Tangerang Selatan), Aaron Alvarado Kristanto (SMAK Petra 1, Surabaya), dan Valentino Dante Tjowasi (SMAK Petra 2, Surabaya).

Sedangkan satu perunggu diperoleh atas nama Farrel Dwireswara Salim dari SMA Kharisma Bangsa, Tangerang Selatan.

Aleams menambahkan, dalam IMO 2019 para siswa diminta untuk mengerjakan enam soal matematika yang harus dikerjakan dalam waktu 4,5 jam. Soal-soal ini meliputi empat bidang yaitu aljabar, kombinatorika, geometri dan teori bilangan.

Soal-soal yang diberikan merupakan soal-soal yang orisinil dengan kesulitan yang cukup tinggi. Untuk dapat mengerjakannya dituntut kecepatan berpikir, ketenangan mental dan kreativitas yang tinggi.

"Jadi tidak sedikit dari para peserta yang memang kesulitan mengerjakannya. Bahkan setingkat matematikawan profesional pun akan kesulitan untuk mengerjakan soal-soal IMO dalam rentang waktu yang singkat seperti itu,” ujarnya.

Selain pelatihan dan pembinaan yang cukup maksimal, ia mengakui bahwa ini adalah tim yang memang sudah siap. "Dari awal proses seleksi mereka memang terlihat sangat siap, baik dari segi fisik dan mental, juga bertanggung jawab," tutur Barra.

Kinantan Arya Bagaspati, satu-satunya siswa peraih emas mengaku sangat bangga. Ia menangis terharu saat pengumuman skor dan meraih medali emas.

"Ga bisa berkata-kata, rasanya kayak belum percaya. Semua kerja keras saya dan tim bisa berbuah manis, dan tentunya juga berkat bimbingan para pembina olimpiade, guru dan khususnya orang tua kita semua," akunya.

Ia berterimakasih  kepada semua yang telah mendukung proses keberangkatan, khususnya pemerintah, dalam hal ini Kemendikbud yang telah memfasilitasi dan mengapresiasi prestasi anak Indonesia.

"Semoga Indonesia semakin baik," ucap Kinan, panggilan akrabnya.

Direktur Pembinaan SMA, Purwadi Sutanto menyampaikan kebanggaannya atas capaian prestasi para peserta IMO yang terus meningkat setiap tahunnya sejak tahun 2013.

Ia berharap Tim Olimpiade Matematika Indonesia bisa konsisten meraih medali emas dan bahkan dapat meningkat lebih baik lagi.

"Mereka sangat luar biasa, dan saya bangga tim IMO bisa mempertahankan tradisi emas ini. Mereka layak mendapat apresiasi tertinggi dari negara dan menjadi inspirasi bagi seluruh siswa di Indonesia," cetusnya.

"Ke depan juga diharapkan akan menjadi para ilmuwan, matematikawan, insinyur dan ekonom yang memberikan kontribusi besar bagi kemajuan ilmu dan teknologi Indonesia,” tambahnya. (Siedoo)

Apa Tanggapan Anda ?