Inovasi

Mahasiswa Brawijaya Tawarkan Pembaruan Pengobatan Kanker

Siedoo, Hingga dekade kedua abad ke-21 ini, kanker masih merupakan salah satu permasalahan dunia dalam bidang kesehatan. Jumlah penderita kanker di seluruh dunia terus meningkat secara signifikan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengestimasi terdapat 9,6 juta kematian yang terjadi akibat kanker pada tahun 2018.

Tim mahasiswa Jurusan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Brawijaya (UB) berusaha membuat suatu terobosan untuk mengatasi penyakit tersebut. Mereka menawarkan pembaruan dalam pengobatan kanker yaitu Nakenit (nanopartikel ekstrak kenikir dan kunyit).

Tim mahasiswa itu terdiri atas Amalia Safira Putri, Tri Dewi Octaviany dan Nopi Tri Wahyudi, dengan bimbingan dosen Anna Safitri, M.Sc., Ph.D. Mereka berhasil mendapatkan pendanaan dalam ajang Program Kreativitas Masyarakat (PKM) tahun 2019 yang diselenggarakan oleh Kemenristekdikti.

Mewakili timnya, Amalia menerangkan, Nakenit yang mereka desain memiliki campuran senyawa yang ada pada kenikir dan kunyit. Sebelumnya kedua tanaman tersebut memang sudah diketahui khasiatnya sebagai anti kanker.

“Jadi diharapkan pencampuran keduanya dengan perbandingan tertentu dapat meningkatkan nilai anti kankernya,” terang Amila, ditulis laman ub.ac.id.

Setelah desain nakenit dihasilkan, akan dilanjutkan pada uji kanker yang sesungguhnya. Dimaksudkan agar tidak hanya menjadi desain, tapi benar-benar mampu menjadi obat yang dapat membantu pemerintah dalam bidang kesehatan, terutama dalam pengobatan kanker.

Nopi Tri Wahyudi menambahkan, penghantaran nanopartikel dideskripsikan sebagai formulasi suatu partikel yang terlarut pada ukuran nanometer atau skala per seribu mikron. Nanopartikel ini memiliki kemampuan untuk menembus ruang-ruang antar sel yang hanya dapat ditembus oleh ukuran partikel.

“Pada kedua tumbuhan tersebut memiliki sifat toksit. Sehingga dapat digunakan untuk memprediksi keberadaan obat alam sebagai anti kanker. Lalu kami ubah menjadi nanopartikel agar mampu lebih menembus pada dinding sel kanker,” tambah Nopi.

Sementara Tri Dewi Oktaviany mengulas, Indonesia merupakan negara tropis yang memiliki banyak jenis tanaman, akan tetapi masih belum banyak diketahui potensinya. Beruntung tanaman kenikir dan kunyit masih banyak dan mudah didapatkan.

“Jadi kami menggunakan tanaman tersebut serta kami ingin mengetahui potensi anti kanker pada kedua tanaman tersebut,” ulasnya. (*)

Apa Tanggapan Anda ?