Berkesenian mengajarkan siswa untuk berani bersikap serta melatih mental dan sifat anak kearah yang positif.

Daerah

Siswi Ekonomi Sutradarai Pementasan Teater

KoMMBes Penggalangan Dana Lombok

MAGELANG – Siswa – siswi kelas XI SMK 17 Magelang, Jawa Tengah menggelar pentas seni teater dalam rangka studi pentas penugasan siswa. Pentas digelar secara bergilir selama beberapa hari dengan mengambil waktu setelah jam pelajaran.

Dalam pentas teater ini, setiap kelas dibagi menjadi 2 kelompok dan setiap kelompok terdiri dari 13 – 15 siswa. Setiap kelompok menyajikan tema yang berbeda-beda dalam setiap pementasan, dengan kesuluruhan prosesnya dipersiapkan secara mandiri oleh siswa. Persiapan yang dilakukan mulai dari awal hingga pementasan berlangsung.

“Proses keseluruhan mulai penyutradaraan, naskah, kostum, musik, tata letak dan keseluruhan set nya dikerjakan secara mandiri oleh siswa,” kata Tri Setyo Nugroho SE, Waka Kesiswaan dan guru matadiklat Seni dan Keterampilan SMK 17 Magelang.

Selama ini, SMK 17 Magelang mempunyai prodi Akuntansi dengan nilai tambahnya dari sisi seni dan budaya. Dalam pementasan seni dan budaya, SMK 17 Magelang terbilang sangat mumpuni dibidangnya. Termasuk dengan diraihnya berbagai penghargaan dan juara diberbagai ajang, mulai dari daerah hingga tingkat nasional yang mewakili Provinsi Jawa Tengah.

Dalam salah satu gelaran pentas yang diadakan, pononton memadati ruangan yang telah dipersiapkan. Mereka terdiri dari siswa dan guru. Pentas yang membawakan judul “Pada Suatu Hari” tersebut berlangsung selama kurang lebih 45 menit.

Selama pentas ini berjalan, pononton seakan terbawa oleh suasana yang dibangun oleh pemeran pertunjukan. Sesekali para penonton tertawa terbahak – bahak, ketika diset suasana lucu dan terdiam hening pada saat set “konflik” dimainkan. Diakhir sesi, beberapa siswa dan Setyo Nugroho yang juga mengikuti jalannya pertunjukkan, memberikan saran dan masukkan mengenai jalannya pentas.

Saran dan masukan ini dimaksudkan agar menjadi bahan evaluasi untuk dapat lebih baik kedepannya. Berbagai tip dan teknik diungkapkan dalam sesi ini untuk membuat seni pertunjukan menjadi “natural” dan lebih “hidup”.

Rahayu Nidaul Khusna, siswa kelas XI yang menjadi sturadara pertunjukan mengatakan, mereka sudah memulai persiapan sejak awal Januari 2017. Inti pesan yang ingin disampaikan dalam pentas ini tentang dampak perceraian.

“Pesannya agar penonton dapat melihat kejadian nyata yang sering terjadi dalam berumah tangga. Termasuk tentang perceraian, dan mempunyai bekal pengetahuan yang cukup dalam membina rumah tangga kedepannya,” kata Khusna.

Segala tingkah laku dan sikap orang tua dapat menjadi contoh bagi anak. Termasuk saat mereka telah besar dan berumah tangga. Sikap ini akan dapat berdampak baik dan buruk bagi kehidupan anak-anak kedepannya.

“Bagaimanapun perceraian dapat berdampak psikologis bagi anak. Dan tidak menutup kemungkinan kejadian ini akan dicontoh setelah mereka dewasa,” jelas Khusna.

Tujuan sekolah mengadakan acara ini tidak lain untuk mengedepankan seni dan budaya dalam proses belajar mengajarnya. Selain itu untuk membangkitkan apresiasi siswa terhadap seni dan budaya itu sendiri. Dengan adanya apresiasi dan pertunjukkan ini, diharapkan akan terbangun kerja kelompok dan kemandirian siswa.

Setyo Nugroho menyampaikan bahwa, pentas seperti ini sering digelar di lingkungan sekolah untuk mengetahui dan menyalurkan minat bakat serta potensi siswa. Dengan adanya pertunjukan, siswa dapat memahami apresiasi yang seharusnya mereka lakukan. Bahkan, apabila ada workshop siswa lebih antusias mengikutinya.

“Dengan seringnya pentas dan pertunjukkan, siswa kami dapat lebih memahami apresiasi seperti apa yang seharusnya ditunjukkan,” kata Setyo Nugroho, yang akrab disapa Gepeng ini.

Diakui bahwa, pertunjukkan seni dan budaya seperti ini membawa dampak yang positif bagi anak didiknya. Perubahan mental dan sikap yang sangat terasa dari anak didik mereka adalah tentang rasa percaya diri yang semakin baik. Serta, keberanian mengungkapkan pendapat dan berekspresi.

Apa Tanggapan Anda ?