Nasional

Berikut Lima Teknologi Utama Penopang Pembangunan Sistem Industri 4.0

SURABAYA - Making Indonesia 4.0 merupakan sebuah roadmap (peta jalan) yang terintegrasi untuk mengimplementasikan strategi dalam menghadapi revolusi industri 4.0. Sektor industri nasional perlu banyak pembenahan, terutama dalam aspek penguasaan teknologi yang menjadi kunci penentu daya saing di era industri 4.0.

Terdapat lima teknologi utama yang menopang pembangunan pada sistem industri 4.0. "Kelimanya yaitu Internet of Things (IoT), Artificial Intelligence (AI), HumanMachine Interface, teknologi robotik dan sensor, serta teknologi 3D Printing," kata Menteri Perindustrian RI, Ir Airlangga Hartarto MBA MMT saat sebagai keynote speaker pada acara Departemen Manajemen Bisnis (MB) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Jawa Timur.

Seminar nasional bertajuk Sosialisasi Roadmap Industri 4.0 berlangsung di Gedung Pusat Robotika ITS itu sebagai solusi dari permasalahan tersebut. Revolusi industri 4.0. dinilai seringkali menjadi tidak bersahabat dengan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang juga memiliki peran penting dalam ketahanan ekonomi nasional. Melalui momentum ulang tahunnya ke-8, Departemen Manajemen Bisnis ITS menggelar acara tersebut.

Dalam paparannya, Airlangga menjelaskan bahwa semua negara masih mempelajari implementasi sistem Industri 4.0. Sehingga dengan penyiapan peta jalannya, Indonesia berpeluang menjadi pemain kunci di Asia.

"Untuk itu, saya berharap akan terjadi langkah kolaboratif yang melibatkan beberapa pemangku kepentingan. Mulai dari institusi pemerintahan, asosiasi dan pelaku industri, hingga unsur akademisi agar roadmap ini dapat berhasil," harapnya.

Dr Ir Arman Hakim Nasution MEng, Ketua Pelaksana seminar mengungkapkan, dari Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jawa Timur tahun 2018 yang berjumlah sekitar Rp 2 triliun, 54,5 persennya disumbang oleh UMKM. Untuk diketahui juga, UMKM ini menyerap tenaga kerja sebesar 18,95 juta, sedangkan usaha besar hanya menyerap 373,294 tenaga kerja.

"Hal ini membuktikan bahwa keberadaan UMKM di Indonesia memiliki pengaruh besar terhadap perekonomian," tegas dosen MB ini mengingatkan.

Arman mengutarakan bahwa program yang dirancang oleh Kementerian Perindustrian Republik Indonesia (RI) yaitu Making Indonesia 4.0 memprediksi bahwa akan terjadi pengurangan besar-besaran tenaga kerja di era ini. Oleh karena itu, UMKM harus siap menghadapi hal ini, mengingat fakta bahwa UMKM menyerap tenaga kerja 54 kali lebih banyak daripada usaha besar.

Oleh karena itu, melalui kegiatan yang mengangkat topik Peranan Industri UMKM dalam Ketahanan Ekonomi Nasional di Era Disruptive ini, Arman berharap peserta yang terdiri dari mahasiswa dan beberapa pelaku UMKM di Jawa Timur akan menyerap semua materi. Terutama mengenai roadmap Making Indonesia 4.0.

Menurut Arman, hasil seminar nasional ini dirumuskan pula oleh tim panel dan setelah itu akan diusulkan kepada tim kampanye kedua capres, sebagai bahan untuk debat capres terakhir Sabtu (30/3/2019).

"Siapapun yang menang, kami berharap rekomendasi dari hasil seminar kali ini dapat dijadikan pedoman dalam membuat kebijakan ke depannya," tutur Arman berharap.

Sementara itu, Rektor ITS, Prof Ir Joni Hermana PhD MScEs menyampaikan harapannya terkait hasil dari seminar tersebut. Ia berharap hasil kajian tersebut dapat dijadikan dasar dalam pembuatan kebijakan untuk menghadapi era disrupsi ini. Hal tersebut ia harapkan sebagai bentuk kontribusi ITS untuk Indonesia.

“Bahkan untuk menghadapi era disrupsi ini ITS juga telah menerapkan kurikulum-kurikulum yang mendorong mahasiswanya untuk menjadi entrepreneur nantinya, dan terbukti sampai saat ini 5,7 persen alumni ITS sudah menjadi entrepreneur yang dapat dibilang sukses," jelas guru besar Teknik Lingkungan ini. (Siedoo) 

Apa Tanggapan Anda ?