Dalam rangkaian Kongres Kebudayaan, mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) periode 1993-1998, Wardiman Djojonegoro, memberikan kuliah umum di Graha Utama Kemendikbud, Jakarta, Kamis (6/12/2018). (Foto: kemdikbud.go.id)

Tokoh

Mantan Mendikbud Berbicara Pelestarian Sastra Daerah


Siedoo, Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) periode 1993-1998, Wardiman Djojonegoro, memberikan kuliah umum di Graha Utama Kemendikbud, Jakarta. Wardiman mengangkat tema ‘Peningkatan Sastra dan Budaya Daerah: Kasus Naskah dan Panji.’ Kuliah umum itu dalam rangkaian Kongres Kebudayaan Indonesia 2018.

Dalam kuliahnya, Wardiman mengatakan warisan budaya daerah dalam sastra memiliki nilai sejarah yang menarik dan harus dilestarikan. Salah satunya adalah peninggalan naskah-naskah kebudayaan, seperti contoh naskah-naskah dari Aceh yang sangat dilirik oleh Malaysia.

“Karena di setiap fakultas budaya universitas-universitas di Malaysia memiliki publikasi naskah-naskah dari Aceh yang dikaji dengan sejarah,” ujar Wardiman.

Ia menuturkan, dari ribuan warisan naskah budaya yang dimiliki Indonesia, tidak semua dapat disimpan dan dipelihara, karena keterbatasan tempat dan dana. Wardiman juga menyayangkan animo masyarakat untuk menyimpan dan memelihara warisan tersebut juga tidak tinggi. Sehingga masih banyak warisan yang terbengkalai.

Namun ia mengakui, memang tidak mudah untuk memilih dan memilah mana dari warisan itu yang patut disimpan, dipelihara, serta dipublikasikan.

Wardiman memaparkan, pelestarian naskah budaya memiliki beberapa metode, termasuk hambatannya. Misalnya, untuk memilah dan mengumpulkan naskah, diperlukan kegiatan penyimpanan dan pemeliharaan dari kerusakan, dan penyelamatan dari bencana.

Kemudian untuk menyimpan dan memelihara naskah budaya, perlu disediakan gedung tempat menyimpan dengan fasilitas yang mendukung pelestarian, namun seringkali anggaran untuk gedung terbatas.

Digitalisasi naskah

Dalam kajian/penelitian sejarah dari naskah sebagai dasar penelitian sejarah bangsa, masih terdapat kekurangan jumlah peneliti dan program penelitian. Hal ini menyebabkan semakin sulitnya kajian tentang sejarah dan identitas bangsa.

Wardiman pun memberikan salah satu solusi masa kini dalam melestarikan naskah budaya, yaitu dengan digitalisasi dan publikasi melalui web.

“Naskah yang dilestarikan harus didigitalkan, karena naskah digital tidak akan rusak dan dapat dipublikasikan di internet,” katanya.

Wardiman kemudian memberikan contoh sukses pelestarian Naskah Panji yang sudah diakui UNESCO sebagai Memory of The World (MOW). Ia menuturkan, Cerita Panji mulai populer karena terbawa oleh Majapahit, kemudian tersebar ke Bali, Lombok, Makassar, Kalimantan Selatan, dan Palembang.

Setiap daerah memiliki Cerita Panji-nya sendiri, seperti di negara Malaysia yang menjadi hikayat. Setelah Cerita Panji tersebar, hal ini menjadi inspirasi seni tari dan seni pagelaran di daerahnya.

Ditulis kemdikbud.go.id, Wardiman menyayangkan Cerita Panji memiliki nilai hiburan, tetapi penyebarannya tidak dilakukan di televisi, film, atau internet. Ada beberapa strategi yang diusulkan kepada Direktur Jenderal Kebudayaan (Hilmar Farid), salah satunya mengaitkan kegiatan budaya, seperti Panji dengan ekonomi.

Industri budaya yang terdiri dari orang kreatif dan masyarakat yang menerima, lalu kagum dan mau membayar.  Sehingga ada kinerja yang bagus dikaitkan dengan ekonomi, dan salah satu cabang ekonomi yaitu kepariwisataan.

“Dengan adanya strategi ini, harapan kita Cerita Panji dapat dilestarikan dan dibangkitkan kembali,” harap Wardiman. (*)

Apa Tanggapan Anda ?