Kepala Balitbang Kemenhub Ir Sugihardjo memberikan penjelasan terkait penelitian prototype untuk keselamatan penerbangan.

Inovasi

Angin dan Hujan Penyebab Utama Kecelakaan Penerbangan


SURABAYA –  Berdasarkan data dari Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), salah satu dari tiga penyebab utama terjadinya kecelakaan maupun kejadian penerbangan di antaranya melibatkan faktor angin dan hujan. Faktor angin salah satunya berupa wind shear. Sedangkan faktor hujan dapat menimbulkan genangan air di landasan pacu.

“Ada ketentuan bahwa tinggi genangan di landasan pacu bandara tidak boleh lebih dari 3 milimeter. Karena bisa menyebabkan pesawat tergelincir saat mendarat (landing),” kata Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Kementerian Perhubungan (Kemenhub) RI Ir Sugihardjo MSi.

Ia menyampaikan itu saat Litbang Kemenhub RI bekerja sama dengan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Jawa Timur menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertema Pengembangan Prototype Wind Shear Detector dan Standing Water Detector dalam Upaya Peningkatan Keselamatan Penerbangan di Gedung Rektorat ITS. FGD yang membahas tentang upaya pencegahan kecelakaan transportasi udara ini, diselenggarakan sebagai langkah lanjutan atas penelitian terhadap dua prototype (purwarupa). Yakni Wind Shear Detector dan Standing Water Detector, yang merupakan prototype hasil inovasi tim peneliti ITS.

Kedua prototype ini diyakini mampu menjadi solusi atas terjadinya kecelakaan pesawat udara, khususnya saat mendarat (landing) dan lepas landas (take off). Sugihardjo menyatakan, dengan kedua alat prototype ini, ketika terjadi wind shear dan ada genangan air, bagian Air Traffic Controller (ATC) bandara dapat menginformasikan kepada pilot tentang kondisi di landasan pacu. Sehingga nantinya, pilot dapat memutuskan lebih dini, apakah akan terus atau menghindar dari landasan pacu.

Pria yang juga pernah menjabat Direktur Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Ditjen Perhubungan Darat ini meyakini, kedua alat yang sedang diteliti tersebut sangat diperlukan. Karena hal ini mengacu pada keselamatan penerbangan.

“Jika kita sudah mengembangkan alat ini, kita juga sudah mendorong produksi dalam negeri. Sehingga kita tidak (lagi) bergantung pada produk luar,” jelas mantan Staf Ahli Menhub bidang Logistik dan Multimoda ini.

Ia juga meyakini, jika hal ini berhasil dikembangkan, maka akan menjadi prestasi tersendiri karena berhasil menghemat devisa negara. Penelitian yang telah diujicobakan di Bandara Trunojoyo, Sumenep, Madura ini ditargetkan tahun depan sudah bisa dikembangkan lebih lanjut hingga ada sertifikasi dan produksi agar bisa diterapkan penggunaannya di bandara-bandara se-Indonesia.

Saat ini masih belum ada satu pun bandara di Indonesia yang menggunakan alat seperti ini. Sementara itu, Dr Dra Melania Suweni Muntini MT, Kepala Peneliti Bidang Instrumentasi ITS yang mengkoordinasi kedua penelitian tersebut mengungkapkan bahwa kedua alat ini sangat penting adanya.

“Dengan kedua alat ini, potensi kecelakaan dengan penyebab wind shear (angin samping, red) dan standing water (genangan air, red) di landasan pacu dapat dicegah semaksimal mungkin,” jelas dosen yang juga Kepala Unit Protokoler, Promosi, dan Humas ITS ini. (Siedoo) 

Apa Tanggapan Anda ?