Prof. Herri Susanto: Indonesia punya potensi energi hasil gasifikasi. foto : Humas ITB

Tokoh

Guru Besar ITB Prof Herri Susanto, Berbicara Penelitian Gasifikasi di Indonesia


Siedoo, Indonesia sudah memulai proyek gasifikasi sejak 1985. Program ini bertujuan untuk menghasilkan listrik-listrik di desa. Selain itu, program tersebut hadir dengan harapan akan lahir para pakar baru dari unit kerja proyek gasifikasi untuk melanjutkan keilmuan dan mengembangkannya.

Kota-kota yang menjadi tempat pembangunannya dahulu adalah Irian Jaya, Maluku, Kupang dan kota lainnya. “Kalau di luar negeri, pembangkit gasifikasi ini sebenarnya banyak mendapatkan perhatian,” kata Prof. Dr. Herri Susanto, IPM., Guru Besar Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung (ITB).

Ia menyampaikan itu berkaitan dengan penelitian “Pengembangan Teknologi Gasifikasi untuk Mendukung Kemandirian Energi dan Industri Kimia” yang disampaikan pada Orasi Ilmiah di Aula Barat Kampus ITB, Jalan Ganesha no 10 Bandung, Jawa Barat.

Umumnya, di dunia barat, gasifikasi biomasssa ini dimanfatakan untuk mendapatkan panas mulai dari 60 kW, 100 kW, sampai 1,5 MW dengan bahan baku limbah padat. Sementara Indonesia dikenal kaya akan sumber daya alam, seperti dari batu bara dan biomassa. Namun, sayangnya Indonesia masih belum berjaya dalam energi melalui hasil gasifikasi yang notabene bahannya adalah batubara dan biomassa.

“Riset ini telah dilakukan sejak 1978 dalam proyek JTA-9a, kami bukan hanya berbicara soal biomassa menjadi listrik. Melainkan juga produksi bahan kimia untuk industri dari proses gasifikasi batu bara dan biomassa,” jelas Pof. Herri.

Sebelum membahas gasifikasi, Prof. Herri mengajak untuk memahami seberapa besar potensi biomassa sebagai energi alternatif. Biomassa sendiri bisa dibagi empat jenis, yaitu partikel besar, partikel kecil, bentuk serampangan (basah sekali), fast growing tree. Pembagian jenis tersebut didasari oleh kadar air, bulk density, dan bentuk fisik.

Berikutnya diperkenalkan juga karakterisitik dari biomassa. Seperti perbandingan fixed carbon sekam padi 19.70% dan tandan kosong sawit 8.04% yang menunjukkan ada berapa besar bahan ‘bisa’ dibakar di dalam biomassa tersebut.

“Apa yang menguntungkan Indonesia adalah ada banyak sekali bahan biomassa ini di negeri ini karena memang ini adalah negara pertanian,” ungkap dosen magister dan doktoral Teknik Kimia ITB tersebut.

Ia juga menjelaskan bahwa biomassa punya sifat yang hampir sama dengan batu bara. Jadi biomassa juga akan menghasilkan gas bahan bakar, gas sintesis, dengan tambahan dari batu bara adalah etanol, arang, bio-oil, dan lain sebagainya.

Prof. Herri juga menyampaikan alat gasifikasi yang biasa disebut gasifier. Ada tiga jenis gasifier yaitu fixed bed, fluidized bed, dan entrained bed. Tahapan proses pembuatannya, biomassa yang basah akan dikeringkan terlebih dahulu.

Setelah itu akan dilakukan proses piorolisis untuk mendaptkan produk bakar seperti metana. “Intinya kita akan membuka biomassa yang terdiri dari atom C,H,O menjadi tinggal C dan H saja sehingga bisa dijadikan bahan bakar mesin,” jelasnya.

Produk keluarannya nanti adalah gas metana yang memang telah banyak dikenal sebagai bahan bakar. Prof. Herri beserta tim juga mengembangkan plant gasifikasi sendiri di daerah Riau. Sejak tahun 2010 sampai 2011, ia telah menghasilkan 5 unit PLTD Gasifikasi berdaya 80 kW sampai 100 kW. Dengan adanya PLTD Gasifikasi ini, perusahaan di Riau terebut dapat menghemat biaya sampai 976 rupiah per kWh nya saat kerja dengan beban tinggi dan menggunakan dual fuel.

Prof. Herri juga menunjukkan perancangan PLTUBm dan PLTBm (pembangkit uap dan gas dengan umpan bakar biomassa) yang ia buat sendiri. Ia menjelaskan bahwa dengan 0.62 ton/jam biomassa dalam unit gasifikasi bisa menghasikan daya sampai 500 kW. Bahkan dengan PLTUBm dan 18.4 ton cangkang sawit tiap jamnya bisa mneghasilkan listrik net sampai 10 MW.

”Saya bisa menjamin bahwa sebenarnya Indonesia siap dengan PLTUBm dan PLTGBm, tapi ya kita butuh kepercayaan dan kerja sama pemerintah,” ungkapnya.

Selain sebagai energi alternatif, biomassa juga bisa menjadi bahan kimia DME (dimethyl eter) yang banyak dibutuhkan oleh industri kimia. Ini dikarenakan dalam proses gasifikasi, biomassa bisa diolah menjadi gas sintesis yang menghasilkan metanol, ammonia, atau jenis bahan kimia lainnya.

Hal ini tentu saja sangat menarik karena bahan bakar biomassa yang umunya diubah menjadi DME adalah sawit yang tidak sulit dijumpai di Indonesia.

Ia bercerita, bahwa ide produksi DME secara masif bukanlah hal baru. Di Tiongkok, usaha ini telah dimulai sejak 2007, namun menghasilkan kerugiaan pada 2015 disebabkan adanya shifting pasar di Cina dari metanol menjadi MTO. Walau begitu, menurut Prof. Herri, Indonesia tidak bisa disamakan dengan keadaan Cina saat itu karena ada perbedaan permintaan pasar.

“Bahkan di Indonesia baru ada satu pabrik yang fokus menghasilkan DME, saya yakin kita bisa bersaing masuk ke pasar itu. Bahkan kalau bisa kita juga bikin pabrik etanol dekat plant batu bara jadi bisa efisien proses bisnisnya,” jelasnya. (*)

Apa Tanggapan Anda ?