Emil Dardak MSc PhD (kiri) didampingi Direktur SDMO yang juga dosen Teknik Industri ITS Dr Ir Sri Gunani Partiwi MT saat proses tanya jawab. foto : Humas ITS

Tokoh

Emil Dardak : Indonesia Membutuhkan Innovation Network


SURABAYA – Seorang insinyur itu bisa memberikan solusi, bukan hanya menjawab pertanyaan. Selain itu, ketika insinyur mendesain sesuatu, aspek kenyamanan itu menjadi sangat penting.

“Maka dari itu, seorang insinyur itu tidak boleh mengesampingkan aspek sosial. Mereka perlu merasakan sendiri bagaimana rasanya saat menjadi pengguna produk desainnya,” kata Wakil Gubernur Jawa Timur terpilih periode 2019-2024, Emil Dardak MSc PhD.

Ia menjelaskan hal itu saat dihadirkan sebagai pembicara dalam silaturahmi Keluarga Besar Insinyur dan Sarjana Teknik se-Jawa Timur yang digelar oleh Departemen Teknik Industri Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) bekerja sama dengan Badan Kejuruan Teknik Industri  Persatuan Insinyur Indonesia (BKTI  PII) di Auditorium Sinarmas Departemen Teknik Industri ITS.

Peraih gelar Doktor Ekonomi Pembangunan termuda di Jepang dari Ritsumeikan Asia Pacific University pada usia 22 tahun ini mengatakan bahwa, Indonesia tidak lagi membutuhkan innovation center. Melainkan innovation network untuk bisa menyelesaikan persoalan yang ada secara bersama-sama.

“Untuk itu, kerjasama tim dan komunikasi itu penting dilakukan di era revolusi industri 4.0 ini,” jelasnya.

Pria kelahiran Jakarta, 20 Mei 1984 ini menyatakan, ketika ITS melakukan sebuah riset, maka ITS harus bekerja sama dengan pakarnya. Misal pakarnya ada di Jerman, maka ITS harus bekerja sama dengan Jerman untuk riset yang dilakukan.

Dalam berpartner, proses komunikasi itu adalah hal yang paling penting. Maka, tidak ada salahnya di ITS diajari pelajaran intercultural communication.

Dalam silaturahmi yang mengangkat tema tentang Visi Keinsinyuran di Era Industri 4.0 ini, Emil mengatakan bahwa di Indonesia insinyur itu masih dipandang sangat inggi daripada scientist murni. Karena insinyur dianggap merupakan seorang problem solver. 

“Insinyur bisa menyelesaikan masalah dengan segala keilmuan yang ada, ilmu eksak maupun noneksak,” ungkapnya.

Paradigma Economy-Driven Technology Development harus berubah menjadi Technology-Driven Economy Develompent. Di mana kegiatan ekonomi itu tumbuh karena inisiasi perkembangan teknologi, dan bukan sebaliknya.

“Saat ini juga kita harus menjadi active technologist yang berarti saat ini kita harus menjadi teknolog yang peka terhadap potensi kemanfaatan teknologi,” tukas suami dari artis Arumi Bachsin ini mengingatkan.

Konsep yang ingin Emil buat yaitu adanya kampung insinyur. Hal itu guna mengubah budaya menomorduakan pentingnya perencanaan insfrastuktur teknis.

“Pemerintah itu seharusnya mendorong inovasi bukan menunggu inovasi, jadi seharusnya pemerintah itu mendanai di awal bukannya di ujung-ujungnya,” tandasnya sedikit mengkritisi.

Emil berharap pemerintah terus mendorong penemuan yang ada. Karena itu, ia juga memandang Pemerintah Provinsi Jawa Timur sangat perlu mengembangakan profesi insinyur.

“Sudah saatnya di era industri 4.0 lonjakan inovasi terjadi di Jawa Timur,” tandasnya.

Sementara itu, Rektor ITS Prof Ir Joni Hermana MSc ES PhD mengatakan, ada tiga hal yang menyebabkan ITS perlu melakukan perubahan. Pertama, perguruan tinggi saat ini berada di generasi ketiga, di mana dosen itu lebih mengarah sebagai fasilitator.

Pada prinsipnya yaitu mahasiswa menjadi subjek dan dosen sebagai pendamping. Kedua, ijazah bukan lagi sebagai syarat cukup, karena yang diperlukan untuk menjadi seorang insinyur itu adalah sertifikat. Ketiga, karena adanya dampak dari era revolusi industri 4.0. (Siedoo)

Apa Tanggapan Anda ?