Siedoo.com -
Inovasi

Tekan Biaya Pengobatan, UMS Ciptakan Alat Terapi Kesehatan

Siedoo, Ketergantungan alat terapi kesehatan dari luar negeri sangat tinggi, sehingga harganya pun mahal. Melihat hal ini, sekelompok dosen UMS berusaha membuat alat terapi sendiri yang nantinya bisa terjangkau banyak orang.

Ketua Tim Riset Totok Budi Santoso mengungkapkan, riset dan pengembangan alat terapi kesehatan itu merupakan bagian dari program pengembangan produk intelektual kampus. Dia bersama anggota tim lainnya, yakni M. Djunaidi, Wahyuni, dan Nurgiyatna berharap riset mereka akan mempercepat pengembangan budaya kewirausahaan di perguruan tinggi.

Saat ini, banyak bagian pelayanan rehabilitasi medis di rumah sakit yang menggunakan peralatan elektrostimulasion, pemanas infra red, penarik ruas tulang belakang (traksi), dan peralatan gymnasium untuk menunjang terapi bagi klien yang diperoleh lewat impor.

Menurut Totok, seperti dilansir suaramerdeka.com, berdasar data Kemenkes pada 2017, nilai pasar alat kesehatan di Indonesia mencapai Rp 12 triliun. Dari jumlah itu, 94% di antaranya merupakan produk impor. Diprediksi pada 2035 nanti, nilai pasar alat kesehatan akan mencapai Rp 35 triliun.

“Di Indonesia hanya ada 193 industri alat kesehatan yang mampu memproduksi alat kesehatan non-elektromedik. Masih jarang yang mampu memproduksi alat kesehatan elektromedik,” jelas Totok.

Tekan Biaya Pengobatan

Sementara Nurgiyatna menambahkan, apabila rumah sakit, dokter, dan tenaga medis telah menggunakan alat kesehatan buatan dalam negeri, maka biaya pengobatan pasien bisa ditekan hingga 20-30%. Di sisi lain, pelaku industri alat kesehatan di Indonesia akan berkembang dan menjadi kekuatan ekonomi tersendiri.

“Penggunaan komponen atau alat kesehatan produksi dalam negeri juga akan menurunkan biaya pembelian dan perawatan alat. Sehingga pada akhirnya dapat menurunkan biaya kesehatan masyarakat Indonesia,” tuturnya.

Karena itu, tim UMS itu akan terus mengedepankan riset pengembangan alat kesehatan agar benar-benar dapat membantu masyarakat Indonesia. Terutama para pasien yang membutuhkannya. (*)

Apa Tanggapan Anda ?