Tokoh

Tiga Aspek Transformasi Pendidikan Versi Chairul Tanjung

Siedoo, Indonesia menghadapi beberapa tantangan yang harus segera diselesaikan agar mampu bersaing ke depannya. Tantangan tersebut yaitu generasi millenials yang memiliki semangat tinggi, namun lemah dalam eksekusinya.

Kemudian lapangan pekerjaan semakin berkurang akibat perkembangan teknologi yang semakin tinggi. Investor lokal juga kalah bersaing dengan investor asing, dan masalah kontribusi sektor industri yang semakin menurun.

Oleh karena itu, dibutuhkan adanya transformasi sistem pendidikan yang menekankan pada tiga aspek. Yaitu, inovasi, kreativitas, dan entrepreneurship yang didasari dengan semangat kepahlawanan.

"Tiga aspek tersebut merupakan langkah yang baik untuk menghadapi tantangan perubahan zaman," kata  Prof Dr (HC) drg Chairul Tanjung MBA saat orasi ilmiah pada peringatan Dies Natalis ke-58 Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) di Graha Sepuluh Nopember ITS, Surabaya, Jawa Timur.

Era disrupsi serta faktor perkembangan revolusi industri yang ke-4 (4.0) memberikan tantangan dan peluang tersendiri bagi ITS di masa depan untuk lebih berinovasi dan kreatif. Hal itu menjadi topik utama dalam orasi ilmiah yang disampaikan pria yang akrab disapa CT tersebut.

"ITS juga harus mampu menerapkan sistem pendidikan yang berbasis inovasi, kreativitas, dan entrepreneurship. Selain itu, ITS harus mampu meneladani semangat kepahlawanan dalam perkembangannya menuju ITS yang baru," jelasnya.

Pada kesempatan ini, pengusaha papan atas Indonesia tersebut membawakan orasi ilmiah dengan judul Kreativitas, Inovasi, Entrepreneurship, dan Nilai Kepahlawanan sebagai Motor Penggerak Masa Depan ITS. Dalam penjelasannya, ia memaparkan tentang perubahan yang terjadi secara cepat dan berdampak besar dalam era disrupsi. Valuasi perusahaan berbasis teknologi juga semakin tinggi.

Ia mencontohkan bila dulunya perusahaan General Electric (GE) yang berfokus pada pengembangan mesin pesawat, peralatan rumah tangga, dan alat transportasi mampu menguasai dunia pada waktu itu. Namun, sekarang bisa dilihat bahwa tren perkembangan teknologi telah bergeser.

Sehingga, perusahaan teknologi digital menguasai ekosistem dan ekonomi dunia. Contoh sederhananya yaitu Google, Facebook, Amazon, dan lainnya.

Nilai perusahaan dulu ditentukan oleh fisiknya seperti tanah, bangunan, pabrik, dan sebagainya. "Namun sekarang aset yang paling berharga adalah data," jelas founder sekaligus Chairman CT Corp ini.

Perubahan itu turut berdampak pada generasi sekarang, atau bisa disebut generasi millenials. Mereka memiliki pola hidup dan budaya yang berbeda.

"Sehingga dibutuhkan pula penanganan yang berbeda," ungkapnya.

Apa Tanggapan Anda ?