Nasional

Membumikan Sains Lewat Indonesia Science Expo

TANGERANG – Salah satu sarana penting untuk membumikan sains dan hasil-hasil riset para peneliti maupun inovator yang ada di Indonesia adalah melalui Indonesia Science Expo (ISE). Dengan ISE  masyarakat luas dapat memahami betapa pentingnya sains dalam kehidupan sehari-hari dan mendorong terciptanya science-based society.

ISE kembali digelar tahun ini dari tanggal 1-4 November 2018 di Indonesia Convention Exhibition BSD, Serpong. ISE tahun ini adalah untuk kali ketiga digelar. ISE 2018 dibuka oleh Presiden RI Joko Widodo.

Pada pembukaan itu, Presiden menyampaikan perubahan dunia yang cepat melalui kejutan-kejutan yang kita saksikan dalam keseharian di berbagai belahan dunia. Presiden mencontohkan Belanda, negara dengan wilayah sempit namun menjadi pengekspor pangan terbesar kedua di dunia. Facebook menjadi media terpopuler di dunia saat ini padahal tidak memiliki redaktur, redaksi, bahkan wartawan dan tidak pernah membuat konten berita.

Demikian pula Uber menjadi perusahaan taksi terbesar di dunia padahal tidak memiliki kendaraan. Juga Alibaba menjadi perusahaan ritel dengan omset terbesar di dunia tapi tidak memiliki toko, dan contoh lainnya. Hal ini menunjukan tidak ada yang paling relevan untuk menghadapi tantangan kehidupan kecuali lembaga penelitian.

“Semua keterbatasan dan ketidakmungkinan bisa diterobos oleh ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi,” kata Presiden di Indonesia Convention Exhibition (ICE), BSD City, Tangerang.

Revolusi Industri 4.0 menandai cepatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kini semakin cepat dengan ditandai adanya revolusi industri 4.0. Salah satu dampak revolusi industri 4.0 adalah munculnya artifical intellegence, media digital, internet of thing, virtual reality, mobil tanpa pengemudi, 3-D printing, cryptocurrency, dan nanotechnology.

Presiden Joko Widodo berharap para peneliti ikut menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi yang melahirkan tantangan-tantangan baru. Lahirnya teknologi baru mampu menghilangkan beberapa jenis pekerjaan yang akan mempengaruhi formasi bisnis.

“Hal itu mengharuskan pemerintah bekerja cepat dan efisien, kalau tidak maka akan ditinggal oleh negara lain,” tutur Presiden.

Menghadapi fenomena ini, regulasi pemerintah tidak menyelesaikan masalah. Sebab tidak semua bisa dipagari regulasi. Justru  yang dibutuhkan sekarang adalah standar moralitas yang semakin tinggi beriringan dengan penggunaan teknologi.

Sementara itu, Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Mohammad Nasir mengatakan saat ini per tanggal 21 Oktober 2018 Riset Indonesia berada di ranking 2 ASEAN dengan jumlah riset sebanyak 22.222, Malaysia 24045, Singapura 17.600, dan Thailand 13200 dan saat ini sudah masuk 965 inovasi yang masuk industri baik industri kecil, menengah maupun besar.

Seperti dikutip ristekdikti.go.id, Indonesia Science Expo (ISE) 2018 yang ketiga kalinya ini, sebagai upaya mengenalkan dan menambah wawasan masyarakat terhadap hasil karya anak bangsa dan meningkatkan pengetahuan yang bermanfaat bagi kehidupan manusia serta diharapkan menjadi awal untuk kebangkitan inovasi yang ada di Indonesia.

Peningkatan daya saing di era modern ini mutlak didukung oleh kapasitas dan kompetensi riset yang memadai, sehingga mampu menghasilkan inovasi yang kompetitif secara global. Untuk itu, pemahaman tentang sains dan hasil riset perlu semakin digaungkan di tengah masyarakat luas. (Siedoo/NSK)

Apa Tanggapan Anda ?