Seni

Ingin Membumikan Sastra, Unstrat UNY Gelar Ngayogyasastra

YOGYAKARTA - Unit Studi Sastra dan Teater Universitas Negeri Yogyakarta menggelar acara Ngayogyasastra. Acara ini merupakan Festival Apresiasi Sastra. Unit Studi Sastra dan Teater (UNSTRAT) adalah salah satu unit kegiatan mahasiswa di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) yang bergelut di bidang kesenian.

Festival itu digelar 24-28 Oktober 2018 dalam rangka memperingati Sumpah Pemuda dan mengapresiasi penyair kenamaan WS Rendra. Kegiatan bertemakan “Kesaksian Sajak Akhir Abad” berpijak pada karya-karya sastrawan, termasuk tema itu juga karya WS Rendra. Acara apresiasi seperti ini dapat menjadi wadah tersendiri bagi penikmat sastra.

Festival berfokus pada puisi tersebut terdiri atas beberapa rangkaian acara, yaitu lomba baca puisi, workshop puisi dan yang terakhir Malam Puncak Ngayogyasastra. Kegiatan workshop puisi berlangsung di aula Kecamatan Ngaglik, Sleman, melibatkan pemuda karang taruna. Panitia ingin membumikan sastra dan ternyata disambut baik oleh warga sekitar.

Pimpinan produksi acara, Bagus Imam Zulfikar, mengatakan selain workshop ada juga lomba baca puisi se-DIY. Lomba terbuka untuk umum, pelajar, mahasiswa dan masyarakat. Lomba berlangsung di aula PSM Swara Wardana UNY.

Malam Puncak Ngayogyasastra di halaman rektorat berlangsung meriah. Berbagai macam pertunjukan, tari-tarian, musikali puisi, pembacaan puisi, musik, juga aksi teatrikal. Ada juga penulisan petisi yang bertajuk Urun Rembug, masyarakat bisa menuliskan apa saja perihal sastra.

“Selain acara-acara di panggung yang didekor sangat apik, tak lupa juga banyak gerai makanan yang berjejer dan menambah kemeriahan acara malam puncak,” kata Bagus ditulis ekspresionline.com

Perhelatan Ngayogyasastra berangkat dari fakta bahwa kondisi sastra belakangan ini cukup memprihatinkan. Sastra telah kehilangan fungsi aslinya dalam kehidupan. Sastra zaman sekarang, terlihat menye-menye, hanya digunakan untuk menyatakan cinta dan percintaan saja.

”Pada zaman dahulu dengan sastra bisa mengguncang dunia. Kita coba mengembalikan makna sastra seperti semula. Sastra sebagai cerminan kehidupan kita,” jelas Bagus.

Pada malam itu panitia mengumumkan pemenang berbagai lomba sekaligus menyerahkan penghargaan. Inti dari Malam Apresiasi Sastra, pembacaan puisi serentak yang dipandu Thomas H Sukiran dilanjutkan deklarasi Sumpah Pemuda. (Siedoo/NSK)

Apa Tanggapan Anda ?