Nasional

Guru Besar ITB : Jadikan Gempa Sebagai Acuan Rekonstruksi di Palu

BANDUNG - Peristiwa bencana alam di Palu dan kawasan Sulawesi Tengah mengundang keprihatinan berbagai pihak. Gedung, bangunan, rumah mengalami rusak parah. Diharapkan, kejadian bencana tersebut dapat menjadi pelajaran untuk menghadapi bencana serupa.

Guru Besar di Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan Institut Teknologi Bandung (ITB), Jawa Barat Prof. Iswandi Imran, Ph.D menyatakan, kejadian gempa tersebut harus dijadikan acuan dalam rekonstruksi di Palu. Mengingat tingkat kegempaan di Palu tinggi, perlu ada program retrofitting untuk bangunan-bangunan yang bertahan tapi terindikasi rawan terhadap gempa.

"Perlu lebih ditingkatkan lagi sosialisasi standar bangunan tahan gempa untuk wilayah Palu," jelasnya.

Ia menyampaikan itu saat acara Diskusi Terbuka Pembelajaran Gempa Lombok dan Gempa Palu untuk Mitigasi Bahaya Kegempaan dan Tsunami di Jawa Bagian Barat di Aula Timur ITB, Jalan Ganesha no 10 Bandung. Ia menyampaikan materi berdasarkan hasil survei lapangan kerusakan bangunan setelah gempa di Palu dan Lombok.

Setelah gempa, di Palu banyak ditemukan rumah rusak termasuk hotel-hotel yang roboh lantai dasarnya. Hal itu mengindikasikan kekuatan dinding atau beton penyangga di lantai dasar kurang kuat.

Misalnya itu terjadi Hotel Mercure dan Hotel Roa-roa. Namun beberapa bangunan lain seperti Mall masih utuh dan berdiri kokoh karena mengikuti standar yang berlaku.

"Berbagai runtuhan yang diamati yang paling banyak ditemukan, permasalahan bangunan adalah aspek detailing," ungkapnya sambil menampilkan foto contoh kerusakan.

Seperti Siaran Pers yang dikirim ke Redaksi Siedoo, ia memaparkan bahwa banyak ditemukan pula, bangunan dengan inti betonnya hancur karena tulangannya kurang, terjadi penyatuan tangga dalam sebuah bangunan, kerusakan elemen non-struktural. Seperti rangka atap baja ringan kurang ditopang sistem penguat sehingga mudah bengkok, dan banyak temuan lainnya.

Banyaknya kerusakan tersebut salah satunya disebabkan karena tidak mengikuti kaidah bangunan tahan gempa. Standar bangunan tahan gempa sendiri sebetulnya sudah diatur oleh pemerintah melalui Kementerian PUPR.

Namun di lapangan, banyak bangunan kurang memenuhi standar yang ditentukan. Misalnya dinding dari bata yang seharusnya dilengkapi dengan kolom-kolom pengikat, agar bisa menjaga dinding tak roboh meskipun terkena guncangan.

Dari hasil temuan tersebut, kesimpulan yang diambil Prof. Iswandi antara lain penyebab banyaknya kerusakan bangunan setelah gempa terjadi karena inkonsistensi desain. Khususnya terkait ketentuan detailing, inkonsistensi kontruksi khususnya terkait bahan dan kualitas.

"Dan penyatuan elemen-elemen non-struktural yang kaku, serta kurangnya perawatan," tandasnya. (Siedoo)

Apa Tanggapan Anda ?