Daerah

Pengolah Sampah Buatan Telkom University Bisa Hasilkan Listrik

BANDUNG – Setelah melalui penelitian selama 4 tahun, akhirnya Fakultas Ilmu Terapan Telkom University, Bandung, Jawa Barat berhasil menciptakan Tempat Olah Sampah Setempat Terpadu Mandiri Sabilulungan (TOSS TMS). TOSS ini bisa menghasilkan energi listrik dan telah dimanfaatkan di beberapa tempat.

Bahkan menurut Dosen Ilmu Terapan, Agus Gandapermana, keunggulan alat TOSS bisa menghasilkan energi listrik, juga pakan ternak. Panas pembakaran bisa diatur untuk membakar sampah organik menjadi pakan ternak.

“Dengan panas pembakaran yang telah diatur, sampah organik dibakar dicampur dengan nutrisi yang kemudian bisa dicetak jadi pakan ternak,” jelas Agus.

Untuk efisiensi dalam penggunaan, TOSS menganut prinsip berbasiskan energi terbarukan. Untuk menggerakkan mesin dibutuhkan solar dan air dengan perbandingan 1 liter solar dan 4 liter air sebagai bahan bakar. Sehingga, biaya pengoperasian TOSS lebih murah.

Menurut Agus, harapan diciptakan TOSS ini untuk menuntaskan masalah sampah secara mandiri. Untuk mengelola sampah secara mandiri ini telah diterapkan di salah satu komplek Perumahan Buah Batu, Bandung. Namun harus menggunakan mesin dengan kapasitas volume 300 Kilogram.

“Sebab di komplek perumahan tersebut jumlah penghuninya ada sekitar 400 orang,” ujar Agus.

Dilansir jabarekspres.com, Agus menyebutkan, saat ini, pihaknya sudah menciptakan TOSS dengan berbagai kapasitas dari 300-500 Kilogram. Ke depan akan diciptakan alat pengolah sampah medis dengan sistem robotik. Yang saat ini mulai dilakukan penelitian untuk itu.

Dekan Telkom University Teguh Widodo mengatakan, diciptakan alat ini sebagai bentuk pengabdian hasil karya ilmiah untuk masyarakat berbasis Information Comunication Technology (ICT).

Teguh juga menilai, dalam pembuatan TOSS merupakan perpaduan teknologi mesin, teknologi kontrol. Bahkan, rencana ke depan diintegrasikan dengan sistem sensor berbasis internet of think. Sehingga, sampah bisa dikontrol lewat android.

Pengelolaan teknologi ini, kata Teguh, menerapkan manejemen input dan proses. Sehingga mengahasilkan nilai efisien dan efektif. Bahkan, limbahnya masih bisa dimanfaatkan kembali.

“Bagaimana pun permasalahan sampah sebetulnya dapat diselesaikan oleh manusianya sendiri dengan cara memprosesnya. Untuk itu alat olah sampah ini akan terus disempurnakan,” jelas Teguh. (Siedoo/NSK)

Apa Tanggapan Anda ?