Nasional

Revolusi Industri 4.0, Timbul Tenggelamnya Sebuah Pekerjaan

SURABAYA - Perkembangan teknologi dan industri 4.0 dapat mengubah banyak hal dan tumbuh hal-hal baru. Beberapa tahun ke depan dokter robot akan hadir di Amerika, mobil akan diciptakan melalui 3D Printing.

"Bisa jadi puluhan tahun ke depan akan ada rumah yang dibangun dengan 3D Printing juga," kata Ketua Wantimpres, Prof Sri Adiningsih.

Apa yang disampaikan itu, saat Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Jawa Timur menggelar Seminar Nasional bertajuk Strategi Pembangunan Nasional Menghadapi Revolusi Industri 4.0 di Gedung Rektorat ITS. Seminar yang dibuka Rektor ITS Prof Ir Joni Hermana MScES PhD ini menghadirkan dua pembicara utama yaitu Ketua Dewan Pertimbangan Presiden RI (Wantimpres) Prof Sri Adiningsih dan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Dr Saiful Rachman MM.

Seminar juga dihadiri para pimpinan ITS dan beberapa pimpinan SMP dan SMA se-Jawa Timur. Sri Adiningsih menambahkan, hadirnya revolusi industri 4.0 menyebabkan munculnya banyak startup. Indonesia menargetkan hadirnya ribuan startup baru. Contohnya adalah platform Tokopedia, platform ini diakses hingga 50 juta pengguna.

"Apabila banyak startup seperti ini maka akan tercipta banyak lapangan pekerjaan," ujar Ekonom dari Universitas Gadjah Mada ini.

ITS menggelar acara itu, tidak lepas dari semakin pesatnya perkembangan zaman saat ini, perlu disiapkan sejumlah strategi untuk menghadapinya. Terutama dalam era revolusi industri 4.0.

Rektor ITS mengatakan bahwa awal mula revolusi industri 4.0 yakni ketika peran manusia digantikan oleh mesin. Oleh sebab itu banyak sektor pekerjaan yang akan berkurang.

"Namun jangan khawatir karena hukum keseimbangan alam pasti terjadi. Yakni ketika banyak pekerjaan hilang maka akan timbul pekerjaan baru lagi," tutur guru besar Teknik Lingkungan ini.

Joni juga menambahkan, revolusi industri 4.0 juga berpengaruh pada perilaku anak zaman sekarang. Mereka bukan lagi anak-anak yang masuk sekolah pukul 07.00 dan pulang pukul 17.00. Tapi mereka adalah anak-anak zaman milenial yang tidak ingin repot.

"Sekolah pun harus mampu menyesuaikan perkembangan maupun cara belajar anak zaman sekarang," ujarnya mengingatkan.

Joni bercerita, Albert Einstein pernah mengatakan bahwa kesuksesan seseorang 20 persen ditentukan oleh IQ dan sisanya adalah kerja keras. Setelah perkembangan zaman, ternyata kerja keras tersebut adalah kemampuan softskill. Kemampuan ini sangat dibutuhkan untuk menghadiri revolusi industri 4.0.

“Oleh sebab itu, penting adanya sertifikasi tentang softskill yang menunjukkan kemampuan mereka, tandasnya. (Siedoo)

Apa Tanggapan Anda ?