Internasional Tokoh

Mahasiswa UMS Teliti Suku Khazakh Mongolia

SURAKARTA - DUA mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Jawa Tengah yang tergabung dalam Mahasiswa Muslim Pecinta Alam (Malimpa) bakal menaklukkan gunung es tertinggi di Mongolia, Khuiten. Tak sekadar mendaki, kedua mahasiswa itu juga akan meneliti khazanah Islam tertua di tengah suku Kazakh.

Kedua mahasiswa tersebut adalah Ajeng Nurtri Hidayati (20) dan Ibal Nurii Anam (20). Getaran suara mereka samar-samar terdengar saat kedua mahasiswa tingkat akhir itu menyampaikan pesan di sela-sela pelepasan di Aula Pascasarjana UMS, Jalan Ahmad Yani, Kecamatan Kartasura, Kabupaten Sukoharjo, Provinsi Jawa Tengah, Senin (10/09/2018).

Meskipun tampak gugup, Ajeng yang merupakan mahasiswi Fakultas Ilmu Komunikasi dan Informatika (FKI) perlahan-lahan berusaha meyakinkan bahwa, dirinya bisa menjadi mahasiswa yang pertama menggapai puncak gunung es setinggi 4.374 meter di atas permukaan laut (dpl) itu.

Ajeng menjelaskan, untuk menjadi bagian dalam misi Malimpa UMS International Expedition (MUIE) Thread The Land of Mongolia itu, dia harus bersaing dengan belasan anggota pecinta alam lainnya. Dia sudah mempersiapkan diri sejak Februari 2018 lalu.

Dia tidak hanya berlatih fisik di sejumlah gunung seperti Sindoro dan Merapi. Tetapi juga menjalani simulasi bertahan di tengah cuaca 0 derajat Celsius serta belajar bahasa Mongolia.

Pasalnya, perjalanan ke puncak gunung dan lokasi permukiman suku Kazakh harus melalui darat yang antara lain ditempuh dengan menunggang kuda dan unta.

“Kami akan dipandu orang asli sana,” ungkapnya.

Pemimpin ekspedisi, Iqbal yang merupakan mahasiswa Fakultas Teknik menuturkan, Mongolia dipilih karena memiliki kawasan gunung es yang eksotik. Selain itu, di kawasan tersebut terdapat sebuah peradaban yang tersohor. Meskipun dianggap negara kecil, di negeri itu terdapat tokoh besar Genghis Khan yang mempu menaklukkan hampir sepertiga negara di muka bumi ini.

Bahkan ada sebuah suku tradisional yang menganut Islam dan mampu bertahan ratusan tahun di Mongolia.

”Ini yang yang akan kami teliti. Mereka minoritas di Mongolia tetapi terawat dengan baik lewat toleransi, baik lewat sosial maupun kebudayaan,” jelasnya.

Dia menambahkan, ekspedisi tersebut dilakukan selama 11-27 September. Selain melakukan penelitian, tim juga akan berusaha mengibarkan bendera merah putih dan bendera UMS yang baru saja memperingati HUT Ke-60 di puncak gunung, serta memperkenalkan potensi Indonesia. Sebelum ke Mongolia, mereka akan singgah terlebih dahulu di Beijing, Tiongkok.

“Tiba di Mongolia, kami akan menghadiri festival di sana dulu untuk ikut mempromosikan potensi Indonesia,” jelasnya.

Acara pelepasan tersebut dihadiri antara lain oleh Wakil Rektor III UMS Taufik Kasturi, Kabag Bakat, Minat dan Beasiswa, Suryadi, dan Dekan FKI Nurgiyatna.

Taufik mengatakan, Khuiten adalah salah satu dari 10 gunung es bermedan berat di dunia. Menaklukkan puncak gunung itu adalah salah satu misi, di samping memotret kehidupan suku Kazakh.

“Suku itu minoritas, tetapi hidup berdampingan dengan penduduk lainnya dan bertahan hingga sekarang. Ini bisa jadi contoh,” jelasnya.

Lebih lanjut Taufik menerangkan, misi mahasiswa UMS ini juga diharapkan menguatkan hubungan bilateral kedua negara.

Tim juga dijadwalkan melakukan studi banding di Institute of Finance and Economics, National University Mongolia. Menurutnya, kedatangan kedua mahasiswa ke universitas tersebut akan menjadi titik awal bagi pertukaran budaya kedua negara.

 

Siedoo/UMS/NSK

Apa Tanggapan Anda ?