Ilustrasi penanganan korban bencana. foto: medicaldiaglogues.in

Nasional

Kemendikbud Gelontorkan Rp 226 Miliar untuk Korban Gempa Lombok

KoMMBes Penggalangan Dana Lombok

LOMBOK – Gempa di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) dengan kekuatan 7 SR sepekan yang lalu, membuat bangunan sekolah rusak. Tercatat ada 282 SD, 92 SMP, 48 SMA, 42 SMK, 6 SLB, dan 69 PAUD yang saat ini tidak bisa ditempati untuk kegiatan belajar mengajar.

Yang mengenaskan, gempa tersebut membuat 14 siswa meninggal dunia. Lalu ada 56 siswa mengalami luka fisik tingkat sedang sampai berat, 19 siswa jalani dirawat inap.

Dari 300 ribu orang yang mengungsi, tercatat 3.639 siswa dan guru di dalamnya. Kegiatan belajar mereka terganggu karena rusaknya fasilitas pendidikan dan terganggunya kondisi psikologis siswa dan pendidik.

Berkaca dari kondisi itu, khusus di bidang pendidikan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) memberikan bantuan sebesar Rp 226.426.359.000.

“Bantuan ini kami harapkan dapat segera digunakan untuk rehabilitasi fasilitas pendidikan dan situs cagar budaya yang terdampak gempa,” kata Sekretaris Jenderal Kemendikbud Didik Suhardi sebagaimana ditulis antara.com.

Disamping itu, nominal rupiah tersebut juga digunakan untuk non – fisik. Seperti pada pengembalian mental siswa dan guru yang mengalami trauma.

“Juga untuk penanganan psikososial para siswa, pendidik, tenaga kependidikan, dan pemelihara cagar budaya yang menjadi korban,” tambahnya.

Ditandaskan, Kemendikbud menyiapkan beasiswa berupa bantuan pendidikan melalui Program Indonesia Pintar (PIP) khusus bencana. Termasuk, beasiswa perguruan tinggi bagi siswa yang orang tuanya menjadi korban meninggal dunia.

Kemendikbud juga bekerjasama dengan berbagai pihak dalam upaya penanganan pascabencana, khususnya psikososial. Di antaranya Yayasan Sayangi Tunas Cilik, Wahana Visi Indonesia, Plan International, Dompet Dhuafa, dan Kompak. Tim juga didukung Guru Garis Depan (GGD) dan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Hamzanwadi.

Kemendikbud telah mendirikan Pos Pendidikan Gempa Lombok di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 Tanjung, Kabupaten Lombok Utara.

Ketua Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP) NTB, Minhajul mengatakan, pihaknya belakangan ini fokus pos pendidikan pada penanganan psikososial anak, tenaga pendidik, dan tenaga kependidikan, pendirian ruang kelas tenda (kelas sementara), serta kampanye kembali belajar di sekolah.

“Pos juga mendistribusikan berbagai bantuan untuk pemenuhan layanan dasar para korban terdampak gempa. Juga melakukan pengkajian kerusakan dan kebutuhan penanganan pascabencana,” tandasnya.

Dirjen PAUD dan Dikmas Berikan Trauma Healing

Di sisi lain, Direktorat Pembinaan Pendidikan Anak Usia Dini (Direktorat PAUD) juga menaruh perhatian besar terhadap bencana yang terjadi.

Hingga saat ini, pemerintah dan semua pihak terkait masih melakukan evakuasi korban dari Lombok. Dalam Setiap bencana, anak-anak dan kaum perempuan merupakan korban paling membutuhkan perhatian. Sejumlah bantuan dipersiapkan Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat (Dirjen PAUD Dikmas).

Bersama dengan Palang Merah Indonesia (PMI), Dirjen PAUD dan Dikmas melakukan trauma healing kepada korban gempa bumi di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Berdasarkana informasi dari PMI menyebutkan, masyarakat terdampak di wilayah Kecamatan Sembalun dan Sambelia Kabupaten Lombok Timur masih merasakan trauma. Dampaknya sebagian warga memilih tidur di dalam tenda.

Menurut psikolog anak dan keluarga, Ratih Zulhaqqi, trauma healing bertujuan untuk mengantisipasi post-traumatic syndrome disorder (PTSD). PTSD adalah gangguan stres pascatrauma. Trauma healing untuk anak, kata Ratih, cenderung agak sulit sebab anak seringkali sulit bercerita perihal kecemasannya seperti orang dewasa. Ia berkata, bermain menjadi metode trauma healing yang tepat buat anak.

“(Kalau bermain), mereka enggak merasa sedang diobati, enggak merasakan situasi yang mencekam. Dan yang mendampingi tidak boleh selalu mengungkit cerita (tentang gempa),” katannya sebagaimana ditulis anggunpaud.kemdikbud.go.id.

Trauma Anak-anak Paling Mendalam

Sekretaris Dirjen PAUD dan Dikmas, Dr Wartanto menyebutkan salah satu kelompok yang paling rentan terhadap bencana alam adalah anak-anak. Hal ini karena secara fisik dan mental masih dalam masa pertumbuhan dan masih tergantung dengan orang dewasa.

“Mengalami kejadian traumatis dan mengerikan akibat bencana dapat mengakibatkan stress dan trauma mendalam bagi anak-anak, bahkan orang dewasa sekalipun. Pengalaman trauma yang dialami anak apabila tidak segera diatasi, maka akan berdampak buruk bagi perkembangan mental dan sosial anak hingga dewasa. Semoga dengan program trauma healing anak-anak yang berada di tempat pengungsian dan daerah bencana psikologisnya cepat dipulihkan,” katanya.

Tidak mudah memulihkan kesehatan psikis ataupun mental anak-anak korban bencana. Perlu waktu panjang serta metode yang tepat untuk menangani mereka. Namun, yang masih menjadi polemik adalah penanganan anak-anak korban bencana dari trauma berkepanjangan masih diwarnai dengan kepentingan politik dan ego masing-masing lembaga atau organisasi yang menangani.

Bahkan tak jarang ada lembaga atau organisasi mengklaim hanya merekalah yang boleh menanganinya. Seharusnya penanganan anak-anak korban bencana dilakukan tanpa batas dan diberi kebebasan seluas-luasnya. Dampak trauma mental yang dialami anak-anak lebih besar dibandingkan dengan dampak secara fisik.

Anak-anak tidak saja kehilangan orangtua. Tetapi juga kehilangan pendidikan, teman, saudara, keceriaan, kehilangan lingkungan tempatnya bermain dan yang paling mencemaskan adalah kehilangan masa depan mereka.

Salah satu cara untuk menghilangkan traumatis pada anak-anak korban bencana adalah dengan cara trauma healing. Trauma healing sangatlah penting bagi anak-anak yang mengalami peristiwa mengerikan itu. Trauma healing sendiri dapat dilakukan pada anak-anak dan orang dewasa. Tentunya dengan cara yang berbeda.

Program Trauma Healing

1. Bentuk Kelompok Bermain
Terhadap anak-anak, program trauma healing dapat dilakukan dengan membangun kelompok bermain atau kegiatan-kegiatan bermain, belajar, membaca, melukis dan kegiatan seni lainnya. Dengan cara seperti ini, maka anak-anak akan dapat mengekspresikan emosi yang ada di dalam dirinya. Pada orang dewasa, trauma healing dilakukan dengan cara konseling dan berbagi cerita.

2. Ciptakan Lingkungan Kondusif
Dalam konteks trauma healing, lingkungan sosial menjadi salah satu faktor dalam membantu seseorang dari trauma. Dukungan dan dorongan sangat dibutuhkan dan hal ini akan lahir ketika seseorang mampu membangun komunikasi sosial yang pada akhirnya akan menghilangkan perasaan sepi, terasing, terisolasi dan sebagainya.

Selain itu pula, proses pemuihan trauma juga tergantung pada faktor internal individu sendiri yang berupa persepsi dan keyakinan.

3. Dilakukan Secara Teratur
Trauma healing sendiri diutamakan pada anak-anak dan lansia, yang biasanya mengalami trauma paling kuat, baik stres maupun depresi. Trauma healing seharusnya dilakukan secara teratur agar dapat membangun kembali mental para korban.

Terhadap anak-anak, misalnya, program trauma healing dapat dilakukan dengan membangun kelompok bermain yang diikutkan ke dalam kelas, atau kegiatan-kegiatan bermain, belajar, membaca buku, kegiatan kesenian-seperti tari, musik, dan melukis. Bahkan kegiatan beragama.

4. Tujuan Trauma Healing
Trauma healing yang diberikan pada anak-anak bertujuan agar mereka mampu melupakan kejadian-kejadian yang terjadi pada masa lampau. Sehingga membuat mereka lebih siap apabila bencana datang kembali. Kegiatan-kegiatan trauma healing yang diberikan pada anak-anak berbeda pada orang dewasa. Pada orang dewasa, program yang lebih tepat berupa konseling.

5. Tata Ulang Lingkungan
Terakhir yang tidak kalah pentingnya adalah pembangunan kembali wilayah atau lingkungan, serta penempatan korban di wilayah baru. Dengan hal tersebut, ingatan tentang bencana di benak mereka bisa terhapus, dan kehidupan baru bisa dimulai. (Siedoo) 

Apa Tanggapan Anda ?