Nasional

Maju Pimnas, Mahasiswa ITS Ciptakan Material Pemurni Biogas


SURABAYA – Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) akan menjadi tuan rumah acara Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) akhir Agustus 2018. Berbagai karya akan tampil dan bersaing untuk memperebutkan juara.

Salah satu yang akan ditampilkan dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Jawa Timur tentang penelitian pada sebuah abu dasar limbah pembangkit listrik tenaga uap. Di dalam ajang kompetisi bidang penelitian ini, diharapkan juga karya mereka mampu menjadi juara nantinya.

Abu dasar atau bottom ash atau  kerap menjadi limbah utama bagi tiap industri Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). Hasil pembakaran batu bara ini biasanya ditimbun di suatu area industri PLTU dan tidak dimanfaatkan secara maksimal. Apalagi abu dasar termasuk limbah B3 (Bahan Beracun dan Berbahaya), yang tentunya menimbulkan bahaya yang serius bagi lingkungan.

Terkait hal tersebut, tiga mahasiswa dari Departemen Kimia ITS Surabaya berhasil memanfaatkan limbah abu dasar sebagai material pemurni biogas yang ramah lingkungan. Ketiga mahasiswa tersebut adalah Pradena Bhesari Fitrah Laharto, Aristin Putri Kusuma Anggraini, dan Umirul Solichah Fauzany. Sedang pencetus ide dan pengarah untuk karya ini adalah mahasiswa pascasarjana Kimia, Randy Yusuf Kurniawan di bawah bimbingan Ir Endang Purwanti Setya N MT.

Menurut tim, biogas mengandung gas metana murni, sementara gas metana di alam bercampur dengan gas pengotor. Untuk memperoleh gas murni tersebut dari alam, dilakukanlah teknik pemurnian gas alam.

“Inovasi dari penelitian timnya ini berharap bisa dikembangkan dan digunakan oleh industri biogas sebagai material pemurni biogas yang ramah lingkungan. Sehingga biaya pembelian biogas oleh masyarakat tidak begitu mahal,” jelas Anggota tim, Umirul Solichah Fauzany.

Tim ini berharap bisa membawa karyanya turut bertarung di ajang bergengsi itu. Selama ini, biasanya teknik pemurnian tersebut sangat mahal karena membutuhkan larutan-larutan kimia yang harganya juga relatif mahal.

“Berbeda dengan penelitian kami yang menggunakan limbah,” jelas Randy Yusuf Kurniawan.

Terkait dengan limbah yang digunakan, Randy menuturkan bahwa limbah abu dasar atau bottom ash yang diperoleh memiliki komponen penyusun utama, yakni silika. Silika tersebut dibentuk menjadi mesopori dan diteliti memiliki kemampuan untuk mengadsorpsi gas metana dari pengotor seperti karbondioksida dan asam sulfida.

“Mesopori merupakan material padatan berpori yang memiliki ukuran meso, yakni 2 sampai 50 nanometer,” urai Randy.

Ketua tim, Pradena Bhesari Fitrah Laharto menambahkan, silika mesopori masih belum cukup untuk meningkatkan daya adsorpsi gas metana. Perlu penambahan zat kimia polietilen glikol (PEG) 4000. Angka 4000 menunjukkan massa molekul PEG yang memiliki sifat kekentalan yang rendah, sehingga ketika diimpregnasi dengan mesopori, maka porinya tidak tertutup.

“Jika pori tersebut terbuka, maka adsorpsi gas metana menjadi lebih mudah dan molekul gas lain akan tertahan, sehingga didapatkan metana murni” tuturnya.

Mahasiswa yang akrab disapa Fira itu, juga menjelaskan bahwa impregnasi merupakan teknik menambahkan suatu material seperti polietilen glikol ke dalam bagian pori (Silika Mesopori).

Dalam melakukan penelitiannya, tim mengambil sampel limbah abu dasar sebanyak lima gram dengan kandungan berat 1,15 gram silika di dalamnya.

“Kandungan silika tersebut sangat sedikit. Sehingga kami perlu meningkatkan kandungan silika dari 1,15 gram menjadi 2,165 gram dengan pemisahan besi dan kalsium agar bagus hasilnya,” jelas mahasiswa semester tujuh itu.

Apa Tanggapan Anda ?