Opini

MOS Edukatif Perlu Diterapkan

Siedoo, TAHUN pelajaran baru 2018/2019 segera tiba. Pada tingkat SMP atau SMA/SMK, biasanya ada masa orientasi siswa (MOS). Namun perlu diingat bahwa, orientasi ini hendaknya jauh dari tindakan kekerasan atau perpeloncoan serta kegiatan-kegiatan yang tidak bernuansa pendidikan.

Sekolah-sekolah diharapkan mengisi masa orientasi dengan beragam kegiatan yang berfokus pada pengenalan lingkungan dan budaya sekolah. Itu bertujuan untuk menyiapkan siswa baru agar beradaptasi dengan sekolah mereka masing-masing.

Pelaksanaan MOS seyogyanya menjadi tanggung jawab kepala sekolah dan guru. Keterlibatan siswa senior, seperti pengurus OSIS, hanya untuk mendampingi dan mengenalkan kegiatan-kegiatan di sekolah. Bukan untuk ajang pamer kesenioran yang bersifat arogan atau "menakut-nakuti" para yunior.

Cara ini untuk memutus rantai perpeloncoan yang mungkin bisa dilakukan senior kepada yuniornya. Saatnya menghentikan kebiasaan-kebiasaan yang dinilai tidak berkaitan dengan pendidikan, seperti penggunaan atribut yang aneh-aneh oleh siswa baru.

Bahkan, keharusan membawa sesuatu yang sulit didapat. Sampai-sampai orang tua ikut pusing dibuatnya.

Bagaimana tidak? Kadang kegiatan MOS sampai sore, paginya siswa harus membawa ini dan itu yang kadang tidak cukup waktu mendapatkannya. Anak pulang MOS pukul 16.00 sampai di rumah. Kemudian harus menyiapkan barang yang harus dibawa paginya dan sulit didapat.

Misal pisang "dempet" (kembar siam) yang sudah masak, kue dadar gulung warna hijau, sementara pasar sudah tutup. Membawa  koran terbitan Januari 2014, padahal orang tuanya tak pernah langganan koran.

Mau tidak mau orang tua ikut repot. Simalakama memang. Tidak menuruti perintah takut anaknya dihukum, mau menuruti perintah waktunya sudah malam dan tidak cukup.

Betapa sulitnya tugas, sementara waktu tidak mencukupi. Para siswa baru juga perlu istirahat. Lebih parah lagi tugas di atas sama sekali tidak mendidik. Bahkan, jauh dari menyenangkan.

Edukatif dan Menyenangkan

Saat ini rangkaian kegiatan MOS hendaknya edukatif dan menyenangkan. Jangan sampai menjadi momok untuk para siswa baru. Jangan sampai MOS bertujuan mengenalkan lingkungan sekolah, namun justru mereka (siswa) mengenal sekolah tersebut adalah sekolah tidak menyenangkan.

Beberapa kegiatan alternatif yang dapat dilakukan untuk kegiatan MOS di berbagai sekolah menengah. Seperti:

  1. Bakti Sosial

Kegiatan ini sebagai ajang menanamkan kepedulian siswa terhadap lingkungan. Misalnya, membagikan nasi bungkus kepada para tukang becak yang mangkal di tempat-tempat tertentu, buruh panggul di pasar, menyalurkan pakaian pantas pakai kepada yang membutuhkan dan sebagainya. Semua barang dari para siswa yang disiapkan sebelumnya.

Ilustrasi salah satu kegiatan MOS edukatif dan menyenangkan. Foto net.
  1. Berbicara di Depan Umum

Anak yang pemalu atau belum pernah berbicara di depan banyak orang akan terlatih dan belajar berbicara dengan mengikuti kegiatan secara bekelompok. Seperti seolah sebagai pembawa acara, pidato, kuliah tujuh menit dan sebagainya.

  1. Kerja Bakti Sekolah

Mengenal lingkungan sekolah bisa melalui kerja bakti di dalam lingkungan sekolah. Seperti membersihkan halaman, membersihkan taman, membuat taman kelas, membuat apotek hidup, atau mengadakan penghijauan sekolah. Ini lebih bermanfaat daripada mereka hanya berbaris berputar-putar sambil memakai atribut aneh-aneh, caping koran, kalung permen dan sebagainya.

  1. Unjuk Keterampilan atau Bakat

Kegiatan ini lebih seru dan edukatif. Para siswa akan mengenal bakat temannya, para guru dan siswa senior akan lebih mudah mengarahkan bakat masing-masing yunior untuk kegiatan nonakademis. Kegiatan ini juga lebih menghibur dan menyenangkan.

Misalnya keterampilan menganyam, menyanyi, berpuisi, olahraga, dan sebagainya. Sangat jauh berbeda dengan keharusan memakai rompi tas plastik, memakai topi plastik tempat nasi, berkeliling kampung dengan muka coreng-moreng dan sebagainya.

  1. Perlombaan

MOS bisa juga berupa rangkaian perlombaan yang dirancang tidak hanya sekali atau sejenis. Bisa lomba keterampilan, membuat kerajinan, melukis, merangkai bunga, secara berkelompok membuat stand pameran atau bazaar, lomba tari tradisional, dan lain-lain.

Kegiatan ini tentu ada kewajiban masing-masing anak mengikuti minimal satu mata lomba. Tentu MOS akan lebih menarik dan mnyenangkan.

 

MOS Bukan Perploncoan

 

Sekali lagi, MOS bukanlah perploncoan. Namun MOS adalah masa untuk menyiapkan siswa yunior mengenal lingkungan sekolah dan menyiapkan mereka siap menuntut ilmu di sekolah itu. Maka perlu diterapkan MOS edukatif dan menyenangkan.

MOS merupakan pengenalan, langkah awal berprestasi. Jadi kegiatan MOS harus menginspirasi, bukan ajang balas dendam. MOS hendaknya dirancang untuk menyambut siswa baru sesuai visi dan misi sekolah. Bukan banyak kegiatan namun tidak mendidik dan justru memberi kesan negatif terhadap almamater sekolah.

Karena setiap sekolah pasti berlomba dalam promosi untuk merekrut siswa yang berkualitas dan diakui masyarakat di sekitarnya. MOS dibuat lebih edukatif dan mnyenangkan. Tentu hal itu sudah menjadi salah satu ajang promosi sekolah kepada masyarakat melalui para orang tua siswa.

 

*Narwan, S.Pd

Guru SD Negeri Jogomulyo Kecamatan Tempuran

Kabupaten Magelang Provinsi Jawa Tengah

 

 

Apa Tanggapan Anda ?