Nasional

Harkitnas, Refleksi Komitmen Kebangsaan

JAKARTA - Peringatan Harkitnas (Hari Kebangkitan Nasional) ke-110 menjadi momentum penting di tengah masalah kebhinekaan, disintegrasi bangsa, beragam persoalan kompleks yang sedang dihadapi Bangsa Indonesia.

Hal tersebut ditandaskan Direktur Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Hilmar Farid. Menurut dia, momen ini penting untuk menegaskan kembali komitmen kebangsaan.

“Bangsa ini kan sebetulnya diikat oleh komitmen bukan karena materi bukan karena hal-hal lain. Tapi karena adanya komitmen kebangsaan,” kata Hilmar Farid sebagaimana ditulis Antara.

Dia menekankan pentingnya masyarakat untuk kembali mengingat betapa komitmen kebangsaan telah menyatukan para pemuda dari berbagai pelosok nusantara untuk mendirikan organisasi Boedi Oetomo pada 1908.

Pemuda di masa lalu dengan segala keterbatasannya berhasil mengikatkan diri mereka menjadi satu.

“Modalnya jiwa kebangsaan yang membimbing mereka,” tandasnya.

Menurut dia, tujuan utama mereka yang terbesar yakni menyelenggarakan pendidikan untuk kaum marjinal. Sehingga, solusi persoalan bangsa diperoleh.

Hilmar mencontohkan, ternyata masih ada orang-orang yang bersuka rela menyelenggarakan pendidikan untuk masyarakat tidak mampu seperti yang dilakukan oleh Sekolah Kartini.

Hal itu tidak lain didorong oleh komitmen kebangsaan yang menurut dia menyadarkan orang-orang tertentu untuk merasa terpanggil melayani bangsa ini.

Lahir dari Dunia Pendidikan

Sementara itu, Raihan Iskandar yang pernah menjadi anggota DPR RI periode 2009-2014, anggota komisi X bidang Pendidikan dan Kepemudaan mengungkapkan, sejarah lahirnya kebangkitan nasional pada 1908 disebabkan oleh munculnya kaum terpelajar. Tokoh-tokoh pergerakan nasional yang menjadi penggerak munculnya organisasi-organisasi modern pada masa itu, seperti Dr. Wahidin Sudirohusodo, dr. Sutomo, Soekarno, Agus Salim, dan sebagainya, lahir dari dunia pendidikan.

"Pengaruh pendidikan pada masa perjuangan membuka kesadaran kaum terpelajar untuk bangkit dari keterpurukan sebagai bangsa yang terjajah," ujarnya sebagaimana ditulis kompas.com.

Kala itu, kata dia, meski awalnya Belanda hanya membuka sekolah-sekolah bagi golongan bangsawan dan mampu, tetapi justru dimanfaatkan oleh golongan elit Indonesia untuk mengubah nasib bangsanya.

"Oleh karena itu, momentum hari Kebangkitan Nasional tahun ini harus dijadikan inspirasi bagi Pemerintah untuk memajukan bangsa melalui pendidikan," ujarnya.

Teruslah Berkarya

Pelopor perda pendidikan gratis di Indonesia, Ichsan Yasin Limpo, mengajak semua elemen bangsa untuk terus berkarya.

“Belakangan ini kita dibuat sibuk dengan berita-berita teror dan hoax, bahkan berbagai tragedi yang menimpa negeri ini,” kata Ichsan Yasin Limpo melalui akun Instagram-nya.

Ia menaruh harapan besar agar Harkitnas tidak sekadar diperingati secara seremoni belaka. Melainkan ada aksi nyata memberikan yang terbaik bagi bangsa dan negeri ini.

Melalui hari kebangkitan nasional kali ini, ia turut mengajak kepada seluruh masyarakat Indonesia untuk menjadikan hari kebangkitan nasional sebagai sebuah refleksi menumbuhkan kembali semangat kewarganegaraan.

“Untuk terus berkarya dan berbuat untuk negeri,” tambahnya.

Selain itu, Yasin Limpo yang juga doktor hukum pendidikan mengajak untuk terus menebar kebaikan, sekaligus bertanggungjawab bersama mendorong peningkatan kualitas pendidikan anak bangsa.

Apa Tanggapan Anda ?