Ilustrasi kegiatan belajar mengajar. foto: busy.org

Opini

Umar Bakri Menjadi Tumpuan Semua Persoalan

SMK Muhammadiyah 2 Muntilan

Siedoo, MENJADI guru sungguh sangat mulia. Tidak hanya membutuhkan inteligensi yang baik, tetapi juga membutuhkan sentuhan dedikasi tinggi, jiwa besar, pribadi yang konsisten mencetak generasi ke generasi tanpa henti dan tanpa letih.

Hal tersebut ditandaskan Machasin, Dosen Universitas Riau sebagaimana ditulis Riau Pos. Dijelaskan, guru memberi ilmu pengetahuan, mengayomi, mengajari dan bahkan siap berkorban waktu dan tenaga buat anak didiknya.

Sebagai pendidik, guru menjadi panutan dalam masyarakat. Karena di tangan gurulah ilmu dapat berkembang dan sampai kepada setiap insan.

“Para Umar Bakri ini secara sukarela merasa terpanggil jiwanya dalam memberikan ilmu, dan ia selalu tampil mempesona, yang secara tegas mengikrarkan dirinya sebagai upaya mewujudkan cita-cita bangsa. Sehingga, mampu melaksanakan estafet kepemimpinan bagi generasi muda calon pemimpin bangsa. Begitu mulianya profesi sebagai seorang guru,” katanya.

Namun, mengapa masyarakat kurang peduli terhadap guru. Dulu, ketika seorang wartawan dianiaya meliput jatuhnya pesawat milik TNI AU, negeri Indonesia dibuatnya heboh.

Sebaliknya ketika seorang guru dianiaya dan ditodong pistol oleh orangtua siswa, sepertinya masyarakat tidak peduli. Tak ada yang bereaksi, dan tak ada pembelaan serta dukungan moril untuk mereka.

“Nasib guru memang selalu terpinggirkan, tak terperhatikan, dan selalu terus dipersalahkan. Terlebih lagi mereka yang berstatus guru bantu atau guru honor,” jelasnya.

Menurutnya, sungguh sangat memprihatinkan sebagai Umar Bakrie yang secara financial penghasilannya tidak mencukupi. Namun, mereka dengan ikhlas tidak pernah mengeluh dalam memberikan yang terbaik buat dunia pendidikan di negeri ini.

Dengan menjadi guru akan mampu membuka cakrawala pengetahuan untuk diri dan lingkungannya.

“Sayangnya semangat kerja dan energi positif yang dipancarkan oleh para guru, tidak diimbangi dengan sistem yang terintegrasi. Terjadilah kepincangan dalam pengelolaan sistem pendidikan di negeri ini,” bebernya.

Ia menyebut, hadirnya sekolah unggulan, dan sekolah-sekolah yang berlabel internasional, membuat sistem pengelolaan pendidikan telah tergadai oleh kaum kapitalis. Yang justru membuat kebingungan masyarakat.

“Muncullah penilaian bahwa sekolah berlabel internasional hanya milik orang-orang berduit. Jangan harap orang miskin bisa masuk ke sekolah bergengsi, karena semua siswanya berasal dari kasta berpenghasilan tinggi,” tandasnya.

Kastanisasi sekolah yang mengabaikan aspek sosial budaya, melahirkan istilah baru yaitu sekolah elite, guru elite dan kepala sekolah elite yang kesemuanya terukur dari aspek financial.

Tugas guru sepanjang jalan, seluas lautan dan sedalam samudra. Peran dan tanggungjawab guru bukanlah persoalan yang ringan. Tetapi, menyangkut masa depan bangsa.

Persoalan dunia pendidikan, ibarat benang yang centang-perenang menjadi satu, begitu pelik, rumit dan kompleks.

“Sehingga, kita bingung harus mulai memperbaikinya dari sisi mana,” ujarnya.

Semua permasalahan di dunia ini tampaknya ditumpukkan kepada guru untuk menyelesaikannya. Saat marak tawuran pelajar dan tindakan anarkis mahasiswa, pendidikan budi pekerti diingat.

Saat tindakan asusila anak-anak meningkat, pendidikan seks dipertimbangkan. Saat korupsi merajalela, pendidikan karakter digalakkan.

Ketika banyak angkatan muda menjadi pasukan berani mati, cuci otak sebagai pelaku bom bunuh diri pun kembali menoleh ke pendidikan agama dan Pancasila.

“Lalu ke manakah elemen-elemen itu, selama ini? Tentunya kita serahkan kepada para petinggi yang berkompeten mengurus pendidikan di negeri ini. Semoga,” tegasnya.

Apa Tanggapan Anda ?