Suasana saat Camp Nasional Internasionalisasi Mahasiswa di ITS Surabaya. Untuk membangkitkan internasionalisasi mahasiswa, ITS menggelar Camp Nasional.

Nasional

Pentingnya Camp Nasional Internasionalisasi Mahasiswa


SURABAYA – Sembilan universitas di nusantara berkumpul di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Jawa Timur. Sebanyak 22 peserta mengikuti Camp Nasional Internasionalisasi Mahasiswa hingga 10 Maret 2018. Kegiatan dibuka langsung Dr rer nat Ir Maya Shovitri, MSi, Wakil Direktur Penerimaan dan Mobilitas Direktorat Hubungan Internasional (Internasional Office) ITS di gedung Rektorat ITS.

Universitas yang terlibat dalam kegiatan tersebut berasal dari berbagai wilayah di Indonesia. Antara lain Universitas Negeri Gorontalo, Universitas Tadulako, Universitas Kalimantan Utara, Politeknik Negeri Bandung, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, Politeknik Negeri Jember, Universitas Surabaya, Universitas Internasional Semen Indonesia dan Politeknik Elektronika Negeri Surabaya.

Program yang mulai digelar pertama kali pada Februari 2017 lalu ini, dapat memberikan bekal berupa soft skill atau keahlian. Nantinya dapat digunakan oleh peserta saat pulang ke universitasnya masing-masing.

“Peserta layaknya mendapat LKMM (Latihan Keterampilan Manajemen Mahasiswa, red) dari ITS,” kata Ketua Pelaksana Camp Nasional Salma Arizka Putri.

Dalam kurun waktu beberapa hari ke depan, peserta akan diberikan pelatihan terkait internasionalisasi, kunjungan ke Konsulat Jenderal Jepang di Surabaya, kunjungan ke Rumah Bahasa, mendapat informasi terkait volunteer atau relawan kegiatan internasional, manajemen kegiatan berbasis Analisis Kondisi Lingkungan (AKL) dan strategi. Serta, tentunya diberikan berbagai kasus menarik yang akan mereka selesaikan melalui diskusi antar kelompok.

Dari hasil akhir rangkaian kegiatan ini, diharapkan para peserta yang mengikuti progam Camp Nasional mampu membawa napas internasionalisasi di universitasnya masing-masing. Serta, tercapainya kerjasama untuk semakin membawa Indonesia menuju peradaban global.

“Dengan mengadakan internasionalisasi di kampusnya, tentunya mahasiswa juga ikut andil dalam meningkatkan ranking Indonesia di dunia internasional,” kata Mahasiswi Teknik Industri ITS angkatan 2016 tersebut.

Acara ini digelar tidak lepas dari tantangan dunia global menuntut mahasiswa Indonesia untuk aktif dalam proses pembelajaran internasional. Dalam kegiatan ini diberikan pelatihan intensif yang bertujuan untuk mengajak seluruh mahasiswa Indonesia yang merupakan pengurus dari berbagai organisasi mahasiswa. Hal ini sebagai upaya untuk menginisiasi pergerakan internasionalisasi di perguruan tinggi masing-masing.

Menurut Wakil Direktur Penerimaan dan Mobilitas Direktorat Hubungan Internasional (Internasional Office) ITS Maya Shovitri, semakin menghilangnya pembatas antara negara-negara di dunia akibat globalisasi, membuka ruang yang luas untuk pertukaran informasi di berbagai bidang. Tak terkecuali pendidikan.

Menurunnya peringkat daya saing Indonesia yang dirilis oleh World Economic Forum (WEF) dari 37 menjadi 41 di dunia, salah satunya disebabkan masih rendahnya tingkat pendidikan di negeri ini. Untuk itu dibutuhkan wadah untuk mengembangkan pendidikan mahasiswa Indonesia menuju kancah internasional.

“Dengan melakukan internasionalisasi yang menjunjung nilai nasional, mahasiswa Indonesia tidak hanya berkontribusi untuk negaranya. Namun, juga menyumbangkan pemikiran bagi dunia global,” jelas dosen Biologi ITS ini.

Apa Tanggapan Anda ?