KEMENAG. Humas Kankemenag Kota Magelang, Hari Suryono, SH, MH.  (foto: ist)
Siedoo.com - KEMENAG. Humas Kankemenag Kota Magelang, Hari Suryono, SH, MH.  (foto: ist)
Opini

Etika Islam saat Berinteraksi di Medsos, Simak dengan Baik!

Siedoo, Release dari Komenterian Kominfo menyatakan bahwa konten pornografi berada di tempat teratas, disusul dengan SARA/Kebencian. Selanjutnya hoax, perjudian, penipuan online, radikalisme/ terorisme dan konten yang melanggar nilai sosial budaya.

Salah satu yang memperkeruhnmya karena sebagian besar warganet/netizen yang enggan bersikap selektif. Mereka mudah percaya tanpa konfirmasi sebelumnya, dan tanpa berfikir panjang asal share ke komunitasnya. Singkat kata, bahwa netizen minus etika dan akhlak dalam bersosial media.

Di era keterbukaan informasi ini fitnah yang dalam agama jelas-jelas dilarang keras, malah semakin marak karena mudah menyebarkannya melalui medsos (media sosial). Selain itu medsos juga digunakan  sebagai ajang ghibah, namimah (adu-domba) dan sejenisnya.

Anti prodiktif pula manakalan medsos yang seharusnya menjadi wahana mempererat tali silaturahmi, berbagi pengalaman dan berita yang mencerahkan serta menyejukkan, tapi kini justru sebaliknya lebih sering digunakan secara “barbar” menyebar berita bohong dan melancarkan serangan kepada pihak lain.

Informasi melalaui medsos begitu deras. Jika kita tidak membekali diri dengan keimanan dan ketakwaan, maka kita akan kesulitan memfilter informasi yang masuk.

Bagaimana kita mengetaui kebenaran informasi, sementara di media sosial kita tidak ada penanggung jawabnya. Semua orang menjadi reporter, editor, dan penyunting atas dirinya sendiri. Jika kata-kata yang kita produksi tidak disunting dengan baik, maka akan menyesatkan orang lain.

Etika Bermedia Perspektif Islam

Merujuk QS. Al-Hujarat ayat 6, maka terdapat 2 hal yang harus diperhatikan dalam kaitannya menyikapi sebuah berita yang kita terima. Pada intinya kita terlebih dulu melakukan tabayyun (cek dan ricek) baik terhadap si pembawa berita maupun isi beritanya.

Yang perlu dipastikan kepada si  pembawa berita yakni apakah ia termasuk orang Fasiq atau bukan. Jika ia orang Fasiq maka kita tidak boleh terburu-buru mempercayainya. Sedangkan menyangkut isi beritanya, cek & ricek dilakukan untuk mengetahui kebenaran substantif dari isi berita yang dikabarkannya.

Baca Juga :  Hari Kartini, Menjadi Perempuan Tangguh di Masa Pandemi

Disamping itu, Islam juga mengajarkan membuat opini yang jujur, didasarkan atas bukti dan fakta, lalu diungkapkan dengan tulus. Atau, dalam bahasa Quran “Seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya menjulang ke langit, pohon itu menjulang ke langit, pohon itu memberikan buahnya setiap musim dengan seizin Tuhan-Nya.” (QS Ibrahim: 24-25).

Melansir dari cimahikota.com berikut beberapa etika menggunakan jejaring sosial:

1. Jadikan Sebagai Sarana untuk Menebar Kebaikan. Ladang pahala justru akan mengalir apabila setiap hal yang kita beritakan berkhazanah Islam dan menebar faedah.

2. Mengingat Hisab atas Segala Perbuatan. Timbangan baik dan buruk menjadi titik penentu keberadaan manusia di akhirat, surga atau neraka. Baik buruknya kita saat kita menggunakan medsos tentu akan menjadi catatan perbuatan yang pasti kita pertanggungjwabkan.

3. Lakukan Kroscek Sebelum Berpendapat (Tabayun). Kebiasaan asal menge-share bisa jadi sebab menyebarnya berita hoaks, maka cek & ricek dulu kebenaran beritanya.

4. “CCTV” di Kedua Bahu. Malaikat utusan Allah SWT mengawasi selama 24 jam di bahu kanan dan kiri. Ketika lakukan Like, komen & share pasti terkam dan dimintai pertanggungjawaban.

5. ‎Ruang Keikhlasan Tanpa Mengumbar Riya. Misi kita adalah menebarkan kebaikan bukan karena pujian untuk melambungkan popularitas.

Sebagai ajaran, Islam menuntun umatnya untuk selalu mengutamakan berbuat baik disegala sisi kehidupan, termasuk didalamnya memanfaatkan medsos dengan bijak. Islam pun tidak memiliki pandangan anti mainstream terhadap perkembangan teknologi.

Justru Islam mendorong laju perkembangan teknologi, namun dengan tetap memperhatikan etika dan akhlak agar tetap berada pada jalur yang benar.

Dengan beretika dalam bermedsos diharapkan persaudaraan akan terjadi walaupun hanya di dunia maya. Tali silaturahmi tetap terjalin dan manfaat perkembangan teknologi sebagai sarana mengkaji ilmu pun dapat terwujud. Sebagai Mukmin, mari kita awali dari diri kita sendiri dan mulai saat ini, untuk mewujudkan tatanan di dunia maya yang penuh rahmah dan kedamaian. (*)

Baca Juga :  Bahaya, Memaksa Anak Usia Dini Kuasai Calistung

Penulis

*) Hari Suryono, SH, MH

Humas Kankemenag Kota Magelang

Apa Tanggapan Anda ?