Seorang ibu membacakan buku cetak untuk anak batitanya. (ilustrasi: nakita.grid.id)

Opini

Menurut Peneliti, Membaca Buku Cetak Lebih Bermanfaat untuk Balita Daripada Buku Elektronik


Siedoo, Para peneliti menemukan bahwa ketika orang dewasa membacakan cerita untuk batita (bawah tiga tahun), percakapan yang muncul dari kegiatan tersebut lebih bermakna. Yaitu ketika cerita-cerita itu dibacakan dari buku cetak daripada dibacakan dari buku elektronik atau e-book.

Hasil percobaan kecil menunjukkan bercerita menggunakan buku elektronik mungkin tidak terlalu bagus untuk perkembangan anak-anak.

Dokter anak merekomendasikan untuk tidak memberikan gawai sama sekali kepada di bawah usia dua tahun. Mereka memperingatkan bahwa tablet, ponsel pintar dan permainan digital dapat menghalangi permainan kreatif dan interaksi dengan pengasuh. Yang sebenarnya penting untuk pertumbuhan sosial, emosional dan kognitif anak.

Tetapi banyak orang tua, yang mengizinkan anak menonton film kartun atau bermain video game, mungkin masih menggunakan buku elektronik untuk membacakan cerita bagi anak-anaknya. Mereka beranggapan bahwa buku eletronik lebih nyaman dibawa daripada harus menjejalkan banyak buku cetak. Banyak orang tua juga percaya bahwa aplikasi bacaan dan buku elektronik dapat memudahkan anak-anak untuk mempelajari alfabet.

Kemampuan Sosial, Motorik Anak

“Kita tahu membaca buku bersama adalah kegiatan perkembangan yang luar biasa untuk terlibat dengan anak. Tidak hanya dengan memperkenalkan bahasa dan kosa kata, tetapi juga memberikan kesempatan untuk lebih dekat secara fisik dan dapat meningkatkan momen emosional,” kata penulis utama dari studi tersebut, Dr. Tiffany Munzer dari Rumah Sakit Anak CS Mott Universitas Michigan di Ann Arbor dikutip dari voaindonesia.com.

“Orang tua dan balita mengetahui cara bagaimana bisa terlibat melalui buku, tetapi saat tablet juga digunakan, hal itu dapat mengalihkan beberapa manfaat positif dari pengalaman membaca Bersama. Bukan berarti buku elektronik tidak bermanfaat, hanya manfaatnya kurang jika dibandingkan dengan buku cetak,” kata Munzer melalui emailnya.

Baca Juga :  Sejauh Mana Realisasi Skema Kredit Pendidikan di Indonesia

Untuk penelitian ini, tim Munzer merekam 37 pasangan orang tua dan anak selama sesi membaca yang dilakukan di laboratorium. Orangtua membaca cerita serupa dalam tiga format berbeda: buku cetak, buku elektronik tanpa efek suara bunyi bel atau peluit. Dan buku elektronik yang disempurnakan dengan fitur tambahan seperti efek suara atau animasi.

Selama setiap sesi membaca, peneliti mengamati seberapa banyak interaksi, percakapan dan kolaborasi yang terjadi antara orang tua dan anak mereka.

Saat menggunakan buku cetak, orang tua lebih banyak berbicara kepada anak tentang cerita yang dibaca bersama. Orang tua akan berhenti sejenak untuk melakukan hal-hal seperti bertanya kepada anak-anak.

Apakah mereka mengingat sesuatu yang mereka lakukan yang mirip dengan apa yang terjadi dalam cerita. Atau bertanya kepada anak apa yang menurut mereka akan terjadi selanjutnya, kata peneliti dalam laporan yang dirilis di Pediatrics.

Buku elektronik yang disempurnakan dengan fitur tambahan memicu lebih banyak interaksi daripada buku elektonik tanpa efek suara. Batita juga lebih banyak berbicara dan mengajukan pertanyaan, berbagi pendapat dan ide mereka terkait cerita ketika orang tua membaca buku cetak.

Buku elektronik dengan fitur tambahan memicu lebih banyak interaksi yang dimulai oleh anak-anak daripada buku elektronik biasa. Studi ini tidak dapat mengatakan apakah atau bagaimana format buku tertentu dapat secara langsung mempengaruhi perkembangan sosial, emosional atau kognitif anak.

Percobaan ini juga tidak dirancang untuk menentukan apakah format yang berbeda mempengaruhi seberapa mudah atau cepat anak-anak kemudian belajar membaca.

Dr. Suzy Tomopoulos dari Departemen Pediatri di Fakultas Kedokteran Universitas New York mengatakan melalui email. Bahwa salah satu manfaat membaca untuk anak adalah saling bertukar yang dapat terjadi ketika orangtua berbagi cerita dengan anak-anak. Serta membantu menempatkan cerita dalam konteks pengalaman hidup anak.

Baca Juga :  Empat Tingkatan Ilmu Manusia, Anda Masuk yang Mana

“Contohnya, jika buku itu tentang perjalanan ke kebun binatang, orangtua dapat berbicara tentang perjalanan terakhir mereka ke kebun binatang dan hewan-hewan apa yang mereka lihat,” kata Tomopoulos, yang ikut menulis editorial yang diterbitkan bersama penelitian ini.

“Membaca buku cetak bersama telah dipelajari dengan baik dan diketahui dapat membantu perkembangan anak, bahasa dan keterampilan sosial mereka, Salah satu masalah utama dari membaca di layar adalah mereka mengganggu interaksi orang tua dan anak.” tambah Tomopoulos. (*)

Apa Tanggapan Anda ?