KEMENAG. Kasi PAKIS Kankemenag Kota Magelang H. Fathurrohim, S,Ag., M.Ag. (foto: ist)
Siedoo.com - KEMENAG. Kasi PAKIS Kankemenag Kota Magelang H. Fathurrohim, S,Ag., M.Ag. (foto: ist)
Opini

Produktif di Bulan Ramadan Penuh Barokah, Jangan Dilewatkan Begitu Saja

Siedoo, Abu Bakar al-Warroq al-Balakhy, sebagaimana dinukil oleh Ibnu Rajab dalam kitab Lathoiful Ma’arif menyatakan bahwa Ramadan adalah masa panen bagi kaum muslimin. Ia menggambarkan amal ibadah sebagai tanaman.

Di bulan ini tanaman yang telah ditanam di bulan Rajab dan dipelihara di Bulan Sya’ban sudah waktunya untuk dituai. Maka tak heran jika umat Islam begitu antusias dalam menyambut bulan panen raya yang diyakini penuh barokah ini. Di tengah masyarakat bahkan berkembang tradisi padusan untuk mensucikan jiwa dan raga agar lebih siap menyambut bulan suci, sang tamu agung.

Begitu memasuki bulan Ramadan baik di dunia nyata ataupun di dunia maya riuh ucapan marhaban yaa Ramadan. Sesama muslim saling memberi selamat, saling menyemangati, dan saling memohon maaf untuk bersama-sama memanfaatkan Ramadan sebagai kawah Candradimuka menuju cita menjadi hamba yang bertakwa.

Bahkan saudara-saudara non muslimpun tak ketinggalan ikut mengucapkan selamat dalam rangka memberi penghormatan kepada kaum muslimin.

Antusiasme penyambutan itu hendaknya terus dipelihara untuk mengisi bulan Ramadan ini dengan lebih banyak aktivitas positif. Jangan sampai begitu sudah di dalamnya semangat justru menurun. Kondisi fisik yang lemah karena berpuasa tidak perlu menjadi alasan penurunan produktifitas dalam berkarya.

Selama bulan Ramadan jadwal ataupun pola aktifitas biasanya memang berubah. Hal ini menuntut pengaturan yang tepat terkait jadwal kerja maupun istirahat yang cukup. Tuntunan yang mengatakan “tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah” mestinya dipahami dengan konotasi positif.

Tidur dilakukan sebagai strategi menghindari perbuatan maksiat. Tidur dimanfaatkan sebagai sarana istirahat untuk mengumpulkan energi agar dapat beribadah dengan baik. Itu baru tidur yang produktif dan bernilai ibadah.

Imam Al Ghazali dalam karya monumentalnya Ihya’ Ulumuddin bahkan memberikan pandangan bahwa di antara adab orang yang sedang berpuasa adalah mengurangi tidur di siang hari. Dengan sedikit tidur, orang akan bisa lebih banyak mengambil hikmah dari ibadah puasanya.

Baca Juga :  Dukungan Penuh Skanida untuk Kemajuan Sekolah Berintegritas

Di samping itu ada baiknya menerapkan kaidah  analogi prioritas (al qiyas al aulawy), sehingga bisa dipahami bahwa bagi orang yang sedang berpuasa tidur saja dianggap sebagai ibadah, apalagi kalau melakukan aktifitas yang lebih bermanfaat, tentu nilainya lebih utama.

Semua aktifitas positif sepanjang didasari niat yang baik dan keikhlasan akan bernilai ibadah. Jika itu dilakukan di Bulan Ramadan, pahalanya akan dilipatgandakan. Iming-iming pahala yang berlipat ganda ini harusnya menjadi motivasi untuk lebih banyak berkarya dan terus produktif. Semakin banyak karya tentu pahalanya akan semakin banyak pula.

Sangat disayangkan jika momen istimewa bulan penuh barokah ini tidak diambil secara optimal. Rasulullah SAW menegaskan bahwa setiap orang yang memanfaatkan bulan Ramadan ini dengan memperbanyak ibadah di dalamya akan mulia dan tak akan terhina.

Oleh karenanya jangan sampai kita lewatkan begitu saja dengan minim karya dan tidak produktif. Apalagi jika melakukan perbuatan yang kontra produktif (maksiat). Ibadah di bulan ini pahalanya dilipatgandakan, namun ingat, maksiat di bulan ini dosanya juga berlipat ganda. (*)

Penulis

*) Fathurrohim, S,Ag., M.Ag.

Kasi PAKIS Kankemenag Kota Magelang

Apa Tanggapan Anda ?