TU. Kasubbag TU Kankemenag Kota Magelang, Abdurrosyid, S.Pd.I., M.Hum. (foto: ist)
Siedoo.com - TU. Kasubbag TU Kankemenag Kota Magelang, Abdurrosyid, S.Pd.I., M.Hum. (foto: ist)
Opini

Ramadan Pembelajaran Menebar Kasih dan Kebaikan Bagi Sesama

Siedoo, Di seluruh dunia, kini umat Islam tengah menapaki awal bulan Ramadan. Dimana kedatangan bulan suci ini senantiasa ditunggu-tunggu kehadirannya mengingat begitu banyak kemuliaan dan keberkahan di dalamnya.

Istimewa, itulah kata singkat yang menggambarkan keberadaan Bulan Ramadan bimana dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya. Di bulan ini Alloh SWT mewajibkan para Mukmin berpuasa, sebagaimana  telah diwajibkan pula bagi orang-orang sebelumnya untuk mencapai ketaqwaa. Rasulullah SAW juga bersabda “Sekiranya umatku mengetahui apa saja yang ada di bulan Ramadan, niscaya mereka akan berharap satu tahun penuh menjadi Ramadan”.

Puasa merupakan ibadah universal, dipraktikkan oleh agama-agama selain Islam. Bahkan, ibadah puasa bukan hanya diklaim dimiliki agama samawi semata, namun Hindu dan Budha pun mempraktikkan ibadah puasa sebagai sarana atau persiapan untuk melakukan ritual ibadah dan mendekatkan diri kepada Tuhan.

Ibadah puasa merupakan salah satu rantai dari mata rantai yang menunjukkan aspek kesinambungan atau kontinuitas agama-agama di dunia. Maka, puasa inilah yang dapat kita jadikan sebagai sarana perekat secara universal menuju terciptanya perdamaian.

Pesan Damai Ramadan

Perintah utama pada bulan Ramadan adalah untuk berpuasa. Puasa berarti menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkannya. Bisa pula dimaknai untuk mengontrol atau mengendalikan diri. Mereka yang menjalankan puasa rela menekan keinginannya untuk makan dan haus sebelum waktunya tiba. Dengan cara ini, mereka akan terlatih mengendalikan diri dan niscaya menjadi pribadi-pribadi yang mampu mengendalikan sikap dan perbuatan.

Menahan diri, adalah salah satu doktrin bagi orang yang sedang berpuasa. Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim disebutkan, “Jika ada salah seorang yang mencelanya atau mengganggunya, hendaklah mengucapkan sesungguhnya, aku sedang berpuasa.” Sehingga orang yang berpuasa tidak mudah emosi terhadap orang lain, meskipun dirinya diposisi yang benar.

Baca Juga :  Pendidikan Bukan Masalah Jarak, Tetapi Mendekatkan Peserta Didik Pada Kehidupan

Melawan celaan dan gangguan dengan kebaikan, akan bisa memadamkan konflik yang tengah terjadi. Layaknya menyiram api dengan air, api tersebut akan padam. Namun sebaliknya, ketika celaan ditanggapi dengan celaan yang serupa, bisa jadi akan memperburuk keadaan. Seperti api yang dilawan oleh api, tidaklah akan padam, tetapi akan membuatnya semakin berkobar.

Pertikaian atas nama agama, etnik, bangsa, dan negara menghiasi peradaban manusia modern. Karena itu, ajaran Islam tentang puasa, selain melarang menahan haus dan lapar juga melarang hamba-hamba Allah agar menahan diri dari kebencian, kedengkian dan kemungkaran antar sesama umat manusia. Rasulullah menganjurkan puasa sebagai amanah bagi umat Islam untuk dikerjakan sepenuh hati. Oleh karena itu, puasa sebagai amanah harus dimaknai sebagai tanggung jawab untuk membentuk masyarakat Muslim yang taat, salih, dan mengajak perdamaian.

Menurut Imam Ghazali, puasanya orang yang spesial adalah puasanya orang yang menahan makan, minum dan hubungan seks, menahan anggota badannya dari perbuatan maksiat dan menahan hatinya dari relaksasi buruk serta menahan perbuatan jelek lainnya. Dapat diartikan pula harus menahan sifat marah, benci dan dengki, serta untuk berbuat yang menimbulkan permusuhan. Dari sini, tampak jelas jika ibadah puasa Ramadan ikut mendorong terciptanya perdamaian atas yang ada.

Bagi mereka yang sedang berpuasa dianjurkan pula untuk berbagi dengan sesama. Nabi Muhammad SAW semakin menggencarkan perilaku berbagi kepada orang lain saat bulan Ramadan tiba. Diriwayatkan oleh Ahmad, Tirmidzi, Ibn Majah, dan  ad-Darimi, Nabi Muhammad bersabda, “Siapa yang memberi makan kepada orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa, tanpa sedikit pun berkurang bagi orang yang berpuasa tersebut.”

Ajakan Rasulullah SAW untuk berbagi merupakan salah satu pintu utama untuk menyebarkan perdamaian dan kasih sayang. Dengan memberi, akan memunculkan perasaan diperhatikan dan dicintai. Disamping itu juga mempertajam kepekaan. Apa yang dirasakan oleh orang lain, kita merasakannya juga. Yang tidak kalah pentingnya, tindakan berbagi sangat efektif untuk meredam benih-benih konflik yang mungkin hadir di masyarakat.

Baca Juga :  Pentingnya Penerapan Budaya Literasi Pada Siswa Sekolah Dasar

Visi perdamaian dalam ibadah puasa menuntut kita untuk menghindari sikap permusuhan. Islam sendiri secara otentik bisa dimaknai sebagai agama perdamaian. Kata “al-Islam” atau “as-salam” artinya damai. Bahkan dalam fiqih pun terdapat istilah dar al-salam yang merujuk pada makna “wilayah damai”.

Pesan aktual puasa adalah menciptakan perdamaian sejati dalam kerangka agama, dan bukannya menyulut pertikaian dan memperbanyak perang. Sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, idealnya Indonesia mampu menjadi prototype kesuksesan bahwa Ramadan menjadi wahana memupuk perdamaian dan cinta kasih. Gemblengan selama Ramadan, diharapkan melahirkan insan cinta damai penyebar kasih sayang ke seluruh penjuru dunia. (*)

Penulis

*) Abdurrosyid, S.Pd.I., M.Hum.

Kasubbag TU Kankemenag Kota Magelang

Apa Tanggapan Anda ?