Opini

Selaraskan Mitra Sekolah Dalam Pendidikan Jarak Jauh

Siedoo, Belajar dari piala dunia 2018, bahwa sebuah tim sepakbola akan sukses manakala memiliki pertahanan yang kuat dan kesolidan sebuah tim. Banyaknya pemain bintang tidak serta merta mempengaruhi sebuah pencapaian prestasi termasuk figur pemain bintang yang menonjol tidak begitu punya arti, lihatlah semisal Argentina ataupun Portugal. Begitu juga nama besar, juara bertahan, peringkat 1 FIFA, tidaklah berimbas pada prestasi.

Dalam konteks sebuah sekolah yang ingin maju, ingin meningkatkan kualitas diri, berprestasi, atau ingin meninggalkan diri dari keterpurukan, maka ada solusi. Yaitu yang bisa diambil dari pelajaran Piala Dunia 2018, berupa pertahanan yang kuat dan kesolidan sebuah tim.

Pertahanan yang kuat adalah sisi internal dari sebuah sekolah. Sekolah dapat diartikan sebuah komunitas yang terdiri dari kepala sekolah sebagai manajerial. Guru sebagai ujung tombak pembelajaran, siswa sebagai subjek belajar, dan staf tata usaha atau komite sebagai daya dukung pembelajaran.

Mereka harus bersinergi membentuk harmonisasi yang saling peduli, mengerti, memahami, dan mengisi kekurangan. Tidak dipungkiri bahwa menyatukan semua kompenen sekolah bukanlah hal yang mudah, namun jika semua lini dapat berperan, maka kekokohan sekolah akan terbaca oleh masyarakat.

Kesolidan sebuah tim dalam arti sekolah dapat dilihat dari sisi eksternal, yang mana sekolah tidak dapat berdiri kokoh tanpa adanya kemitraan yang kuat ataupun jalinan sinergi antara sekolah dengan orangtua dan masyarakat. Sebuah sekolah akan jalan di tempat bahkan tumbang, manakala tidak mampu mengoptimalkan peran kerja sama kemitraan dengan mereka.

Kemitraan sekolah-masyarakat telah lama dipandang sebagai cara yang menjanjikan untuk membantu siswa, keluarga, dan lingkungan masyarakat. Di zaman yang maju ini, sekolah lokal umumnya dipandang sebagai institusi pusat komunitas (Dewey, 1902). Dryfoos (1994) berpendapat bahwa sekolah tidak dapat memenuhi kebutuhan siswa sendiri, tetapi harus berkoordinasi dengan sistem layanan sosial dan menjadi "sekolah layanan penuh".

Para ahli teori perkembangan menekankan dimensi ganda dan saling terkait perkembangan manusi: fisik, psikologis, sosial, kognitif, etika, dan linguistik. Mereka juga membicarakan perspektif ekologis tentang pembangunan manusia, yaitu memeriksa konteks lingkungan yang mendukung atau menghambat perkembangan dan pembelajaran yang sehat, serta interaksi di antara mereka.

Berdasarkan konteks sekolah, orangtua, dan masyarakat yang membentuk sebuah ekologi, maka perlu adanya hubungan timbal balik yang saling menguntungkan. Keterjalinan kemitraan akan menimbulkan daya jual yang kuat sebuah sekolah serta daya magnet tersendiri di mata masyarakat luas. Kemitraan ini akan memberikan penguatan input, kualitas proses, sehingga output dari sebuah pembelajaran dapat meningkat.

Hal ini bukanlah sebatas wacana saja. Namun fakta di lapangan telah menunjukkan bahwa sebuah sekolah yang memiliki kemitraan yang kuat akan memiliki tonggak keberhasilan. Yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana sekolah menjalin kemitraan dengan orangtua dan masyarakat?

Perlu diperhatikan bahwa setiap sekolah memiliki karakter sendiri sesuai visi misi sekolah tersebut, bahkan budaya masyarakat. Umumnya sekolah yang masih dimarginalkan oleh masyarakat setempat inilah yang seharusnya berbenah. Sebelum ia kehilangan murid yang banyak pada penerimaan peserta didik baru, atau bahkan gulung tikar karena tidak ada siswa yang mau mendaftar.

Kemitraan sekolah dengan orangtua dapat diwujudkan dengan pembentukan paguyuban. Paguyuban ini bisa levelnya satu kelas ataupun satu sekolah, setidaknya membentuk komunitas WhatsApp atau Facebook.

Sebuah kebijakan sekolah sebelum ditelurkan seyogyanya didiskusikan dengan anggota paguyuban. Sekalipun kebijakan tersebut sudah mendapat persetujuan dari komite sekolah. Diskusi yang mengarah pada pertahanan yang solid ini, akan memberikan saling pengertian akan program-program yang berasal dari sekolah. Sekolah harus siap menerima kritikan, sanggahan, bahkan pembatalan jika ternyata banyak anggota paguyuban yang tidak setuju.

Sejatinya sebuah kemitraan adalah adanya hubungan yang saling memberi dan menerima. Sebuah program dari sekolah, seyogyanya tidak hanya pihak sekolah saja yang menjalankan, namun perlu keterlibatan dengan orangtua siswa. Kegiatan seperti ini yang jarang terjadi.

Kemitraan dengan masyarakat dapat diwujudkan dengan adanya berbagai pembentukan komunitas. Di beberapa negara maju misalnya, mereka membentuk komunitas perlindungan hukum bagi guru, ikatan alumni untuk kesejahteraan guru, komunitas ikatan kerja, auditor keuangan sekolah. Kemudian penyediaan sarana prasarana sekolah, bimbingan belajar, rekreasi, dan lain-lain. Sungguh banyak yang dapat dicontoh oleh sekolah.

Jika kemitraan antara sekolah dengan masyarakat dapat terwujud ataupun adanya komunikasi yang intens, maka akan majulah sekolah tersebut. Karena dengan sendirinya masyarakat akan mempromosikan sekolah tersebut ke masyarakat luas. Hal ini bukanlah sebuah kemustahilan yang sulit diwujudkan. Dalam hal ini kepala sekolah memiliki tugas yang berat dalam manajerial kemitraan tersebut.

Pentingnya kemitraan antara sekolah, orangtua, dan masyarakat terutama dalam fase pendidikan jarak jauh, maka sekolah harus secepatnya mewujudkan melalui ide-ide yang konstruktif. Menciptakan banyak peluang partisipasi kemitraan serta mendorong budaya kerjasama yang sehat dan menguntungkan.

Sinergitas kemitraan ini akan memberikan warna, penguatan, dan kemajuan sebuah sekolah di mata masyarakat yang lebih luas. Bahkan bisa memberikan percontohan terhadap sekolah yang lainnya. (*)

Tundung Memolo, M.Sc
Guru SMP Negeri 3 Kepil,
Wonosobo, Jawa Tengah

Apa Tanggapan Anda ?