Opini

Melatih Keterampilan Berfikir Positif Pada Anak di Tengah Pendemi Covid-19

Siedoo, Pandemi Covid-19 telah memaksa jutaan orang di dunia menghadapi kondisi sulit, termasuk masyarakat Indonesia. Tak hanya dalam masalah ekonomi, kesulitan yang dirasakan mengimbas kepada berbagai sektor, seperti sektor pariwisata, pendidikan, dan lainnya.

Salah satu yang sangat terasa dampaknya yakni dalam kehidupan sosial, di mana jalinan interaksi yang selama ini menjadi suatu hal yang alamiah, saat ini harus direkayasa demi menghindari penyebaran Covid-19. Berbagai interaksi sosial baik perorangan maupun kolektif dibatasi dan diatur, kondisi ini menjadi tekanan tersendiri dan memicu dampak psikologis. Meningkatnya data terkait jumlah penderita depresi selama pendemi Covid-19 menjadi gambaran beratnya kondisi yang dihadapi saat ini.

Salah satu pihak yang paling terdampak dengan kondisi ini adalah anak-anak. Dunia anak yang penuh dengan keceriaan, kegembiraan, bermain, berkumpul, berbagi cerita dan pengalaman baik di rumah maupun di sekolah, kini terkendala. Mereka harus  mengadapi kondisi yang sulit di mana ruang gerak dan interaksi sosial mereka dibatasi.

Waktu yang biasa mereka habiskan untuk belajar dan bermain kini tampak membosankan. Meskipun mereka tetap belajar namun situasinya berbeda, karena mereka harus belajar di rumah, tanpa interaksi langsung dengan guru dan teman-temannya. Kondisi ini, mau tidak mau harus mereka terima, dan diharapkan mampu “berdamai” dengan keadaan saat ini.

Untuk itu, penting bagi orang tua untuk membangun keterampilan berfikir positif pada anak. Sehingga mereka terbiasa melihat sisi positif dalam menghadapi situasi di luar kehendak mereka. Keterampilan berfikir positif ini akan menjadi bekal penting bagi anak di masa yang akan datang. Karena kehidupan pasti tidak selalu menyenangkan dan indah, begitu banyak tantangan, persoalan, maupun kendala yang harus dihadapi oleh setiap individu sepanjang hidupnya.

Membangun keterampilan berfikir postif pada anak menghadapi Covid-19 dapat dilakukan orangtua dengan memberikan gambaran yang berbeda atas dampak Covid-19. Antara lain quality time yang dimiliki orang tua dan anak  melalui berbagai kegiatan dan permaian yang dilakukan bersama. sehingga menguatkan bonding antara orang tua dan anak.

Di samping itu, banyaknya orang yang menghadapi kesulitan secara ekonomi menjadi momen bagi orang tua mengajarkan pada anak untuk berbagi dengan sesama. Situasi demikian menjadi momen guna mengajarkan anak untuk selalu bersyukur. Dalam hal ini, anak diajak untuk memaknai atas semua yang dimiliki.

Rasa syukur menjadi kekuatan dalam berfikir positif. Karena di dalam rasa syukur ada pengakuan atas kelimpahan yang dimiliki dan menjadi pendorong untuk berbagi dengan orang lain.

Pemberlakuan social distancing yang memaksa setiap orang untuk tidak berinteraksi secara langsung dalam jarak dekat. Demikian pula larangan untuk berkumpul, membangun kesadaran akan berharganya kebersamaan dengan teman, tetangga, keluarga dan lainnya harus ditaati. Interaksi bisa dilakukan melalui dunia maya.

Sisi positif lain yang dapat diambil hikmahnya dari kondisi saat ini yakni pembiasaan untuk bergaya hidup bersih dan sehat. Meskipun kepersihan selalu diajarkan dan diingatkan baik di lingkungan keluarga maupun sekolah, namun penerapannya belum benar-benar diperhatikan dan dipastikan.

Wabah Covid-19 mendorong setiap orang untuk menerapkan perilaku hidup sehat, termasuk mengkonsumsi makanan sehat, olahraga dan memperhatikan waktu istirahat yang cukup, di mana perilaku tersebut cenderung diabaikan sebelum merebaknya Covid-19. Suatu perilaku yang sungguh-sungguh mulai dijadikan kebiasaan dengan tujuan untuk membangun imunitas tubuh yang kuat dan dapat terhindari dari paparan Covid-19.

Sepanjang hidup manusia, pasti akan berhadapan dengan kondisi yang tidak selalu menyenangkan. Baik yang diakibatkan oleh pilihan hidupnya sendiri atau kondisi yang harus diterima diluar kemampuannya, karena faktor alam maupun bukan alam. Kemampuan untuk berfikir positif di tengah situasi sulit penting diajarkan dan dimiliki oleh setiap anak. Sebagai salah satu bekal penting menghadapi masa depan, di mana mereka mungkin akan menghadapi masalah dan tantangan hidup yang tidak ringan. Mengingat   kehidupan global berjalan dengan dinamika yang begitu cepat dan seringkali berdampak masif. (*)

Nunung Nurjanah, S.Sos., M.Pd.
Dosen STKIP Pangeran Dharma Kusuma, Indramayu.
Kandidat Doktor Program Studi PKn 
Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung
Apa Tanggapan Anda ?