CERAMAH. KH Anwar Zahid, Penceramah kondang asal Bojonegoro. (foto: nuonline)
Siedoo.com - CERAMAH. KH Anwar Zahid, Penceramah kondang asal Bojonegoro. (foto: nuonline)
Daerah

Perlombaan Agustusan Sudah Lalu, Tapi Ini Ada Imbauan dari KH Anwar Zahid, Penting!

BOYOLALI, siedoo.com – Merayakan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-77 memang sudah sebulan lalu, Agustus. Tetapi jenis-jenis perlombaan dalam memperingatinya, yang kita kenal dengan Agustusan, terkadang masih saja berseliweran di media sosial (medsos). Ada beberapa lomba yang menjadi perhatian dari KH Anwar Zahid.

Dalam video di YouTube dengan akun Anza Channel KH. Anwar Zahid, dai kondang itu awalnya bercerita tentang mensyukuri nikmat. Kemudian merambah tentang mensyukuri nikmat kemerdekaan.

“Kalau dulu, mensyukuri nikmat kemerdekaan itu dibagi. Para elit, para pejabat, para tokoh, para pembesar, para pemimpin rapat menyusun kebijakan, bermusyawarah. Merencanakan bagaimana membangun Indonesia kedepan,” katanya dikutip dari akun YouTube tersebut.

Sedangkan masyarakat awam, terangnya, diberi hiburan agar tidak mengganggu yang sedang rapat.

“Masyarakat dikasih yang senang-senang dengan perlombaan. Makanya lomba-lomba merayakan kemerdekaan. Kalau zaman dulu itu, isinya murni hiburan, menghibur masyarakat,” tandasnya.

Penjelasan tersebut disampaikan saat mengisi pengajian di Boyolali, Jawa Tengah dalam memperingati Tahun Baru Islam 1444 H dan HUT Kemerdekaan RI ke-77.

“Kersane seneng, mboten ganggu pejabat-pejabat yang nembe rapat. Dadi lombane yo panjat pinang. Balapan lari karung. Terus lomba tarik tambang. Lomba makan kerupuk. Ngono-ngono kuwi,” tambahnya dengan tutur bahasa Jawa.

KH Anwar Zahid menilai, lomba semacam itu sekarang sepertinya mulai dirusak.

“Ironinya banyak perlombaan yang, maaf, merusak karakter generasi bangsa. Saya pernah nonton di YouTube ada lomba dalam peringatan kemerdekaan, itu gereget ne. Ibu-ibu dikongkon ngempit terong. Tangane diiket. Terus disuruh memasukkan terong itu ke kempitan temannya. Gak boleh pakai tangan,” ceritanya kiai yang saat ceramah mengenakan peci hitam itu.

Dalam memasukkannya pun, tidak boleh dibantu dengan tangan.

Baca Juga :  UNIMMA Tanamkan Kelestarian Lingkungan Hidup ke Sekolah

“Coba bagaimana cara memasukkan terong, dari satu kempitan ke kempitan yang lain. Tanpa pakai tangan. Ngene-ngene,” kata Anwar Zaid sambil memberi ilustrasi dengan menurunkan badan sedikit.

“Ditonton anak-anak. Inikan pertunjukan pornografi,” tambahnya.

Lalu KH Anwar Zahid bercerita tentang lomba yang lainnya.

“Adalagi lomba membeledoskan plembungan (balon). Pesertane lanang karo wedok. Plembungan disebul, mlempung. Dicancang ning sabuke wong lanang, deleh ngarep. Disuruh mledoske ning bokonge wong wedok, sik wedok njengking,” katanya penuh kekecewaan.

Pendakwah asal Bojonegoro, Jawa Timur tersebut memberi imbauan. Agar kalau mengadakan perlombaan yang mendidik.

“Maka imbauan ya, kalau mengadakan lomba dalam merayakan kemerdekaan, ya hiburan-hiburan. Tapi jangan sampai merusak moral. Nilainya harus ada nilai edukasi, dan perjuangannya,” imbaunya. (siedoo)

Apa Tanggapan Anda ?