Inovasi

Pendampingan Masalah Mental Berbasis Game

Siedoo, Permasalahan mental yang terjadi pada remaja disabilitas intelektual akibat pelecehan seksual harus diselesaikan, khususnya dalam memberikan pendampingan bagi korban. Mahasiswa memberikan perhatian terhadap persoalan tersebut.

Mereka memberikan solusi dengan membuatkan wadah khusus untuk berkonsultasi. Sekelompok mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) merancang e-konseling berbasis game sebagai salah satu alternatif penanganan masalah mental yang dapat digunakan secara jarak jauh selama masa pandemi Covid-19.

“Kami mengembangkan website e-konseling berbasis game sebagai salah satu media yang dapat mengakomodasi kebutuhan penanganan psikologis dan mendeteksi masalah mental remaja disabilitas intelektual akibat pelecehan seksual,” kata Kenanga Kusuma Murdiyani, salah satu mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta.

Selain ia, perancang e-konseling berbasis game ini adalah Salsabila Tulus Rinindra dan Orchid Violeta Arbaroni prodi pendidikan luar biasa, Arif Nur Hidayat prodi bimbingan dan konseling serta Haya Antesya Rahma prodi teknologi pendidikan. Seperti diketahui, layanan e-konseling yang dikembangkan ini memiliki fitur game yang mampu mendeteksi tingkat stress dan masalah mental akibat pelecehan seksual.

Fitur ini juga sangat menyenangkan karena diusung dengan basis game. Saat ini belum banyak layanan e-konseling yang memiliki fitur game untuk menangani masalah mental akibat pelecehan seksual pada remaja disabilitas intelektual.

Kekerasan seksual rentan terjadi pada remaja dengan kasus terbanyak berupa pelecehan. Kelompok yang paling rentan mengalami kasus tersebut yakni remaja disabilitas intelektual.

Hal tersebut sejalan dengan pendapat bahwa kerentanan yang terjadi pada remaja disabilitas intelektual bukan hanya dipengaruhi kondisi keterbatasannya saja. Tetapi dipengaruhi juga oleh kurangnya jaminan perlindungan yang memadai dari lingkungan sosialnya.

Pelecehan seksual dapat mempengaruhi kemandirian dan pandangan tentang masa depan, selain itu salah satu dampak serius akibat pelecehan adalah trauma. Oleh karena itu penting untuk diadakan pendampingan secara psikologis agar dapat menangani masalah mental remaja disabilitas.

Penanganan psikologis atau konseling dapat dilakukan melalui pendampingan secara tatap muka langsung oleh tenaga profesional. Namun sejak pandemi Covid-19 hal tersebut akan sangat beresiko dalam penyebaran wabah penyakit ini.

Oleh karena itu, diperlukan media yang bersifat fleksibel dan dapat melakukan pendampingan secara jarak jauh. Sekelompok mahasiswa UNY merancang e-konseling berbasis game sebagai salah satu alternatif penanganan masalah mental.

Salsabila Tulus Rinindra menambahkan layanan e-konseling yang tersedia saat ini hanya mengakomodasi masalah secara umum belum spesifik. Fitur yang tersedia juga belum mampu mendeteksi masalah mental itu sendiri.

Jika layanan e-konseling hanya melalui website chat digunakan untuk menggali masalah bagi remaja disabilitas intelektual akan sulit dilakukan, karena mereka memiliki hambatan dalam pemahaman yang sulit untuk berfikir secara abstrak. “Untuk itu kami tambahkan fitur baru melalui game karena bersifat menghibur sebagai sarana penyembuhan pasien,” jelasnya.

Orchid Violeta Arbaroni menjelaskan pada awal e-konseling ini pelanggan diminta mengisi biodata sesuai keadaan sebenarnya. Lalu diberikan edukasi tentang apa yang dilakukan agar orang asing tidak menyentuh tubuh. Setelah itu masuk layanan konseling.

“Seorang yang mengalami pelecehan seksual membutuhkan seorang pendamping atau konselor untuk mencegah permasalahan mental yang bisa terjadi,” ujarnya.

Konselor ini bertugas untuk menjadi seseorang yang mengambil keputusan dan memberikan dukungan mental maupun sosial korban. Untuk mulai mendamping konselor harus melakukan beberapa tahapan. Seperti pencarian informasi melalui media untuk mengetahui pendekatan apa yang akan digunakan, tahap pendekatan antara konselor dan korban yang disesuaikan dengan usianya.

Tahap orientasi untuk menggali semua data korban agar dapat diidentifikasi, tahap kerja bagaimana konselor memberikan solusi kepada korban dan tahap terminasi. Yaitu solusi yang diberikan oleh konselor untuk meningkatkan fungsi sosial, rasa identitas terhadap dirinya, dan pengembangan perilaku yang lebih adaptif.

Dengan adanya pendampingan terhadap korban diharapkan dapat meminimalisir adanya dampak negatif yang menyerang psikis. Hal ini juga dapat memberikan dorongan pada korban untuk mengembalikan tingkat percaya diri dan menghilangkan anggapan-anggapan negatif yang menghambat untuk berkembang.

Karya ini berhasil meraih dana Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi dalam Program Kreativitas Mahasiswa bidang Riset Sosial Humaniora tahun 2021 dan lolos dalam Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) yang akan dilaksanakan akhir Oktober secara daring. (*)

Apa Tanggapan Anda ?