Daerah

Kampus Mengajar UNY, Latih Siswa Berpikir Kritis Sejak Dini

KEBUMEN - Kementerian Pendidikan Kebudayaan Ristek Dikti menggulirkan program Kampus Mengajar. Mahasiswa yang lolos seleksi program Kampus Mengajar ditempatkan di sekolah dasar di seluruh Indonesia yang terakreditasi C dan berada di daerah 3T (Terdepan, Terluar dan Tertinggal). Mereka dikirim untuk membantu proses belajar mengajar di sekolah tersebut.

Mahasiswa Program Studi Pendidikan Fisika Fakultas MIPA Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Aji Nur Wijaksono mengajar di SD Negeri Sidorejo, Kecamatan Ambal, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Di sekolah ini, sesuai bidang ilmunya, Aji melatih kemampuan berpikir kritis siswa sejak dini dengan mengajarkan science experiment. Yaitu kegiatan praktikum/percobaan sederhana untuk membuktikan suatu teori.

“Percobaan yang dilakukan antara lain pensil patah, lilin minum air dan balon takut api,” katanya.

Untuk diketahui, Kampus Mengajar merupakan bagian dari program Kampus Merdeka yang bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada mahasiswa belajar dan mengembangkan diri melalui aktivitas di luar kelas perkuliahan. Kampus mengajar merupakan satu dari delapan kegiatan yang diselenggarakan untuk mensukseskan program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) yaitu KKN Tematik, Pertukaran Mahasiswa, Magang/Praktik Kerja, Proyek Kemanusiaan, Kegiatan Wirausaha, Kampus Mengajar, Studi/Proyek Independen, dan Penelitian/Riset.

Konsep yang dilaksanakan Aji yaitu mentor memberikan penjelasan nama percobaan dan alat bahan yang dibutuhkan. Kemudian siswa disilahkan secara berkelompok untuk melakukan percobaan yang diminta dengan kreatifitas masing-masing.

Setelah ada satu kelompok yang menurut mentor berhasil, maka mentor akan meminta kelompok yang belum berhasil untuk memberikan alasan sebab akibat dari percobaan yang dilakukan. Disini mentor mengajak semua siswa untuk memberikan gagasan dan melatih kemampuan berpikir kritis siswa.

Sehingga sampai ditemukan sebab akibatnya. Jika ada siswa yang menjawab dengan benar, maka mentor akan memberikan reward.

Aji menjelaskan bahwa pensil patah mengajak siswa belajar tentang pembiasan cahaya. Pensil yang dicelupkan sebagian dalam air akan terlihat patah dikarenakan jalannya cahaya dari bagian pensil yang berada di atas permukaan air dan dari bagian yang tercelup dalam air menempuh lintasan yang tidak sama.

Baca Juga :  34 Negara Bersaing di World Youth Invention and Innovation Award

Cahaya dari bagian pensil yang berada di atas permukaan air menempuh lintasan lurus dari bagian pensil menuju mata. Sedangkan cahaya dari bagian pensil yang tercelup dalam air menempuh lintasan yang telah dibelokkan karena terdapat dua medium berbeda yang dilaluinya (air dan udara) dari bagian pensil menuju mata.

Sementara lilin minum air, mempelajari tentang tekanan udara dimana lilin dinyalakan di dalam baskom/mangkok, kemudian air berwarna dituangkan ke dalam baskom, tutup lilin menyala dengan gelas bening. Api menjadi padam dan air masuk ke dalam gelas.

"Hal ini terjadi karena oksigen yang membantu proses pembakaran di dalam gelas berkurang," urainya.

Oksigen yang berkurang menyebabkan tekanan udara yang ada dalam gelas ikut berkurang. Sehingga terjadi perbedaan tekanan udara di dalam gelas dan di luar gelas. Tekanan udara di luar gelas lebih besar daripada tekanan udara di dalam gelas sehingga air di luar gelas masuk ke dalam gelas.

Sedangkan balon takut api adalah percobaan yang membuktikan bahwa air merupakan penyerap panas yang sangat baik. Sehingga saat kebakaran, cara termudah untuk memadamkan api adalah dengan menggunakan air.

"Air sepuluh kali lebih besar menyerap panas dari pada besi. Sehingga wajar jika balon tersebut tahan api karena adanya air yang menyerap sebagian besar panas api yang mengenai balon," jelasnya.

Sementara itu, guru kelas V SDN Sidorejo, Badriyah Ussholikhah mengapresiasi kegiatan yang sudah dilaksanakan mahasiswa karena sangat membantu dalam menumbuhkembangkan kemampuan berpikir kritis siswa.

“Perlu perhatian khusus yang harus dilakukan untuk memunculkan berpikir kritis siswa apalagi masih mengenyam pendidikan sekolah dasar,” katanya.

Badriyah juga meminta kepada mahasiswa untuk membuatkan modul panduan pelaksanaan kegiatan yang sudah dilaksanakan. Sehingga, dikemudian hari bisa dilaksanakan secara mandiri oleh guru kelas. (Siedoo)

Apa Tanggapan Anda ?