Inovasi

Pondasi Tiang Rakit, Antarkan Tim Teknik Sipil Juara

Siedoo, Mahasiswa merancang pondasi tiang rakit yang merupakan gabungan dari pondasi dangkal dan pondasi dalam. Komponen rakit merupakan bagian pondasi dangkal dan komponen tiang adalah bagian pondasi dalam.

Rancangan yang dibuat menggunakan konsep perancangan creep piling yang mensyaratkan bahwa tiang di bawah pondasi rakit harus mendapat mobilisasi beban sekitar 70-80 persen.

“Kami dapat jumlah tiang 44 buah dengan panjang 21 meter dan diameter 0,7 meter,” kata Wildan Pramadistya Rifliansah, salah satu mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Jawa Timur.

Wildan menjelaskan itu berkaitan dengan karya timnya saat mengikuti lomba Analisis Geoteknik pada ajang Civil National Expo 2021 yang diadakan oleh Universitas Tarumanegara, beberapa waktu lalu. Lomba analisis geoteknik ini dimenangkan oleh Tim Wani ITS yang beranggotakan Wildan Pramadistya Rifliansah, Muhammad Farhan Firmansyah, dan Willy Tantowi.

Pada lomba ini, para peserta diminta untuk merancang sebuah pondasi tiang rakit yang bisa menahan beban gedung di atasnya. Para mahasiswa Departemen Teknik Sipil ITS ini berhasil meraih juara pertama.

Soal yang dibagikan saat lomba itu berisi tentang studi kasus dengan informasi berupa layout, elevasi gedung, dan hasil pengujian tanah berupa Standard Penetration Test (SPT).

Hasil pengujian tanah ini yang menjadi salah satu patokan dalam merancang pondasi. Gedung yang diberikan adalah gedung 20 lantai dengan empat lantai basement.

"Pemodelan gedungnya dilakukan oleh tim kami sendiri,” terangnya.

Tim mereka membuat sebuah grafik yang pada akhirnya memberikan kontribusi besar terhadap kemenangan tim. Grafik ini dapat menyajikan variasi jumlah tiang, diameter, mobilitas, serta penurunannya. Dengan demikian, dapat diketahui mana variabel yang bisa memberikan kestabilan yang optimal.

“Dengan kombinasi grafik dan konsep creep piling dalam tahap preliminary design, didapatlah jumlah tiang dan diameter yang sudah disebutkan sebelumnya yang dapat menahan beban gedung sebesar 52.625 ton,” paparnya.

Baca Juga :  Antisipasi DBD, 3 Dosen Ini Ciptakan Aplikasi e-Jatim Sehat untuk Indonesia

Wildan yang juga ketua tim melanjutkan, grafik yang dibuat oleh tim yang berisi mahasiswa angkatan 2018 ini mendapat pujian dari para juri. Pada tahap final, juri bertindak seperti owner dari proyek, sedangkan tim peserta berperan sebagai kontraktor saat presentasi.

Menurut para juri, grafik yang mereka buat mirip dengan grafik yang digunakan di proyek konstruksi nyata. “Grafik ini mirip seperti yang digunakan kontraktor saat tender,” urainya.

Mahasiswa asal Sidoarjo ini mengaku bahwa perancangan pondasi tiang rakit merupakan hal yang baru bagi mereka karena kombinasi pondasi dalam dan dangkal tidak pernah dipelajari selama kuliah. Dengan bantuan dosen pembimbing Dr Yudhi Lastiasih ST MT, mereka mencari berbagai literatur terkait dan mendapat banyak revisi serta masukan.

“Masalah pengolahan data sudah dipelajari di kuliah, namun perancangan pondasi tiang rakit ini masih sangat baru bagi kami,” tambahnya.

Mengakhiri wawancara, Farhan mengatakan, kemenangan Tim Wani tentunya dibawa dengan antusias dan dedikasi oleh anggotanya. Selain itu, persiapan yang bagus dalam menyelesaikan studi kasusnya pun memiliki peran besar dalam kelancaran tim.

“Giat tim inilah yang akhirnya membantu kami meraih juara satu dari lima tim yang masuk final,” jelasnya. (*)

Apa Tanggapan Anda ?