Daerah

Politap Hadir dengan Prioritas Empat Program Desa

KETAPANG - Warga kerap kali protes dengan perusahaan sawit di daerah Ketapang, Kalimantan Barat. Mereka lebih banyak merekrut tenaga kerja dari luar Ketapang.

"Padahal di Ketapang sendiri terdapat 76 perusahaan sawit dan 48 perusahaan tambang, namun jumlah pengangguran di sini merajalela,” kata Direktur Politeknik Negeri Ketapang (Politap) Endang Kusmana, S.E.,M.M., Ak.

Menurut dia, kondisi ini diperparah saat banyak tenaga kerja yang sering keluar. Mereka banyak yang tidak betah. Sementara jika harus rekrut tenaga dari desa sangat tidak qualified.

Dengan keadaan itu, sebenarnya keadaan ini membuat bingung pihak industri juga. Mereka ingin merekrut tenaga kerja dari desa, namun tidak qualified.

"Sementara itu tenaga kerja dari luar juga sering tidak betah, makanya banyak yang keluar,” imbuhnya.

Mengatasi permasalahan yang dialami oleh industri dan warga sekitar, akhirnya Politap mencoba untuk menerapkan empat praktik. Antara lain membentuk Desa Unggul, Desa Akses, Desa Sinergi, dan Desa Wisata.

Terdapat empat program yang akan diaplikasikan. "Program-program tersebut akan diterapkan di wilayah Kabupaten Ketapang untuk meningkatkan SDM di wilayah ini,” terang Endang.

Untuk diketahui, Politeknik Negeri Ketapang (Politap) merupakan satu-satunya perguruan tinggi yang berada di Kabupaten Ketapang, Provinsi Kalimantan Barat. Saat ini, perguruan tinggi ini sangat fokus terhadap proses pengembangan sumber daya manusia di Indonesia.

Keempat visi ini diterapkan oleh Politap guna membangun sumber daya unggul di Indonesia. Setiap program, memiliki tujuan masing-masing. Seperti halnya pada program Desa Unggul.

Program ini merupakan program yang diinisiasi oleh Politap untuk mendidik anak desa supaya punya keterampilan vokasi dan kerja di industri. Sehingga mereka bisa dibekali skill agar qualified di lingkungan kerja nanti.

Baca Juga :  TK Pertiwi Tanamkan Jiwa Nasionalisme Sejak Dini

Setelah program ini, Politap juga membentuk Desa Sinergi yang sangat digunakan untuk menjembatani anak-anak dari desa yang ingin melanjutkan ke perguruan tinggi. Dengan demikian, anak-anak dari desa ini bisa mengenyam pendidikan dengan baik.

Program ketiga adalah Desa Akses, program ini merupakan program kuliah yang digelar di balai desa atau kantor kecamatan.

Menariknya lagi, seluruh calon mahasiswa akan dilakukan tes penerimaan berbasis CBT dan memanfaatkan platform EdLink. Yang mana saat menggunakan platform EdLink ini seluruh data yang digunakan sudah terintegrasi dengan SEVIMA Cloud.

Yang terakhir, Politap juga menerapkan program Desa Wisata. Setelah adanya akses internet di wilayah ini, banyak anak muda yang sudah mulai melek dengan teknologi.

Ini membuat mereka lebih gencar mempromosikan wisata di wilayah ini. Tak hanya itu, adanya program Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari mahasiswa juga berdampak pada berkembangnya teknologi di wilayah ini.

Kendala dan Prestasinya

Berada di wilayah yang cukup dibilang masih belum berkembang, membuat Politap harus menghadapi berbagai tantangan. Tantangan pada program Desa Sinergi misalnya, keadaan wilayah Ketapang yang sangat parah membuat akomodasi sulit menggapai wilayah ini. Perjalanan untuk sampai di wilayah ini memerlukan waktu yang relatif lama sekitar 12 jam dari Kota Pontianak.

Tidak hanya itu saja. Banyak orang di sini yang masih berpikir jika kuliah tidak akan menghasilkan uang. Sementara anak lulus dari SMK sudah dituntut untuk bekerja dan berpenghasilan. Ini membuat Politap harus memikirkan strategi yang tepat untuk mensosialisasikannya.

Setelah Politap berjuang menerapkan program ini di wilayah Ketapang, akhirnya berbuah manis. Lulusan sekolah menengah di wilayah Ketapang akhirnya bisa mengenyam pendidikan dengan baik.

Baca Juga :  Pengaruh Hubungan Baik Anak dan Orang Tua terhadap Kesuksesan

Mereka menggunakan Balai Desa untuk melakukan proses perkuliahan. Fasilitas internet pun akhirnya bisa dirasakan oleh pelajar di wilayah ini.

Tak hanya itu saja, pada program Desa Unggul juga mencetak pelajar yang siap melanjutkan ke perguruan tinggi. Jadi, jika ada 5 anak per desa yang bisa melanjutkan kuliah seperti ini, maka industri dan kebutuhan tenaga kerja di wilayah ini juga akan terpenuhi. Sehingga, keuangan di setiap desa bisa stabil dan industri sendiri juga dimudahkan.

Kabar baik juga datang dari program Desa Wisata. Program ini membuat kampus bisa lebih fokus untuk tidak membeli banyak alat, namun bisa melakukan fokus terhadap investasi SDM dan teknologi. Sehingga, dengan jumlah mahasiswa yang banyak ini bisa membuat desa semakin makmur dan kebutuhan industri bisa terpenuhi dengan baik.

Upaya dan usaha yang dilakukan oleh Politap ini memang patut diacungi jempol. Keinginan yang tulus untuk merubah SDM menjadi lebih baik sangat membantu merubah nasib bangsa ini menjadi lebih baik. Terlebih, Politap juga memperkenalkan teknologi melalui EdLink kepada masyarakat sekitar. (Siedoo)

Apa Tanggapan Anda ?