Daerah Opini

Pentingnya Pemkot Magelang dan Pegiat Literasi Bangun Sinergitas

Siedoo, Sinergitas antara pemerintah, masyarakat dan pegiat literasi menjadi bagian penting untuk membuat gerakan literasi nasional yang dicanangkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Sehingga program pemerintah tersebut bukan sekadar menjadi gerakan tanpa makna. Sehingga Kota Magelang yang bergerak maju harus menyikapi dengan arif dan bijaksana. Apalagi potensi kerelawanan dalam menghidupkan budaya literasi sudah mulai menggeliat di Kota Tidar ini.

Memang harus kita sadari bahwa budaya literasi merupakan sesuatu yang teramat penting. Tidak heran jika sastrawan Amerika Serikat, Thomas Stearns Eliot (1888) pernah mengatakan: “Kita akan kesulitan membangun peradaban tanpa budaya literasi”. Fakta sejarah menunjukkan bahwa bangsa dan negara-negara maju adalah mereka yang memiliki apresiasi tinggi pada dunia literasi. Namun ironisnya, potret rendahnya budaya literasi negeri ini sudah menjadi rahasia umum. Banyak survey dan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa budaya literasi di Indonesia masih masuk kategori memprihatinkan.

Dalam sebuah penelitian, perbandingan kebiasaan membaca sebagai awal literasi, Indonesia masih kalah jauh. Disebutkan, Jerman siswa wajib menamatkan 22-32 judul buku (1966-1975), Jepang 15 judul buku (1969-1972), Malaysia 6 judul buku (1976-1980), Singapura 6 judul buku (1982-1983), Thailand 5 judul buku (1986-1991). Sementara di Indonesia, sejak tahun 1950-1997 terdapat nol buku atau tidak ada kewajiban bagi siswa untuk menamatkan satu judul buku pun di luar buku pelajaran. Karenanya tidak heran jika tingkat literasi kita kini masih tertinggal negara lain.

Menurut Lerner (1988:349), kemampuan membaca merupakan dasar untuk menguasai berbagai bidang studi. Jika anak pada usia sekolah permulaan tidak segera memiliki kemampuan membaca, maka ia akan mengalami banyak kesulitan dalam mempelajari berbagai bidang studi pada kelas-kelas berikutnya.

Di Kota Magelang untuk gerakan literasi di sekolah-sekolah sudah menyeluruh meskipun tingkat keberhasilannya masih bervariasi. Sehingga setiap sekolah saat ini terus menggairahkan budaya literasi, bahkan beberapa sekolah mampu meraih prestasi bidang literasi baik di tingkat daerah maupun di tinkat nasional.

Baca Juga :  Taruna Prancis Sambangi Markas Akmil

Sinergitas Pemerintah Kota dan Pegiat Literasi

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) kala itu, Muhadjir Effendy menyampaikan bahwa ruh dari semua gerakan pendidikan adalah literasi. Guru Besar Universitas Negeri Malang itu mengingatkan agar makna literasi jangan direduksi sekadar membaca buku saja. Menurutnya, literasi itu tidak hanya membaca buku saja. Melalui membaca itu kemudian seseorang memiliki perspektif baru. Kemudian dia juga membuat karya. Proses itu terjadi terus menerus sepanjang hayat. (siedoo.com, 27/8/2029)

Dalam hal ini, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Magelang berharap program literasi yang dijalankan dapat tertanam dalam kegiatan pembelajaran di sekolah. Selain itu, selalu mendorong kegiatan untuk menanamkan sikap positif gemar membaca, gemar menulis, gemar berimajinasi. Selain kepada para siswa, juga kepada para guru, tutor, bahkan kepada para tokoh masyarakat. Menyadarkan mereka tentang betapa pentingnya literasi itu.

Melihat tumbuhnya komunitas-komunitas literasi di Kota Magelang, Disdikbud berusaha merangkul mereka untuk menggiatkan kegiatan dan menularkan kepada warga masyarakat untuk membudayakan literasi. Komunitas literasi tidak hanya tumbuh di sekolah-sekolah saja, namun juga di tengah-tengah masyarakat Kota Magelang. Sebut saja Paguyuban Pembaca dan Penulis Magelang (Pamulang), Komunitas Pinggir Kali, Warung Literasi dan sebagainya. Mereka tidak hanya aktif di media sosial dalam berkarya, namun terkadang aktif berkegiatan sebelum masa pandemi.

Disdikbud bersama Pemerintah Kota (Pemkot) Magelang perlu memberikan ruang untuk berekspresi di bidang literasi. Salah satu program yang sedang dilaksanakan adalah mewujudkan Rumah Budaya sebagai sarana untuk kegiatan literasi bagi masyarakat di bidang seni dan budaya di Kota Magelang.

Sinergitas yang dibangun antara Pemkot Magelang menjadi hal penting untuk memajukan Kota Magelang di bidang literasi. Sehingga ke depan mampu menyusul kota-kota lain yang sudah lebih dulu mewujudkannya, seperti Bandung, Banjar, Cirebon, Surabaya, dan lainnya.

Baca Juga :  Guru Harus Maksimalkan Metode Pembelajaran Daring Pada Semester Genap 2020/2021

Semoga sinergitas yang terbangun mampu mewujudkan Kota Magelang sebagai Kota Literasi, Kota Budaya, dan Kota Pendidikan. Semua berawal dari komunikasi intens antara Pemkot, Disdikbud, sekolah, dan masyarakat pegiat literasi. (prokompim/kotamgl). (*)

Drs. Agus Sujito
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan
Kota Magelang, Jawa Tengah

Apa Tanggapan Anda ?