ADV Tokoh

Nur Aini dan Faradhita Dorong Peternak Windusari Mengolah Pupuk Organik

Siedoo, Ketersediaan kotoran sapi terbilang melimpah di Dusun Plalar, Desa Genito, Kecamatan Windusari, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Kalau ditimbang, jumlahnya bisa mencapai 200 kilogram setiap hari. Kotoran-kotoran itu dihasilkan dari sekitar 24 ekor sapi, peliharaan para peternak yang tergabung dalam Kelompok Tani "Makmur" di Dusun Plalar.

Selama ini, para peternak hanya menumpuk feces sapi mereka di bawah kandang, untuk kemudian dimanfaatkan oleh petani sekitar. Sehingga, nilai ekonomi yang diperoleh dengan cara seperti itu, tentu kurang maksimal.

Mengetahui hal tersebut, Nur Aini Suci Lestari dan Ganesha Ucha Faradhita dari Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian Universitas Tidar (Untidar) Magelang, tak tinggal diam. Mereka mendorong para peternak untuk mengolah tinja sapi menjadi POC (pupuk organik cair), yang memiliki nilai lebih tinggi.

Nur Aini dan Faradhita menyampaikan, gagasan ilmiah ini bersama Tim Program Kreativitas Mahasiswa Gagasan Futuristik Konstruktif (PKM GFK) Untidar, serta bimbingan seorang dosen bernama Nurul Anindyawati serta.

"Kenapa POC yang kami sarankan? Karena POC lebih mudah diserap oleh akar tanaman," terang Nur Aini, Jumat (22/1/2021).

Sebelum menjadi POC, lanjut Nur Aini, kotoran sapi lebih dulu difermentasikan dalam drum komposter, menggunakan bioaktivator berupa saccharomyces cerevisiae. Penambahan bioaktivator ini bertujuan agar berbagai kandungan organik dalam tinja sapi, terdegradasi menjadi senyawa yang siap diserap oleh tanaman.

Faradhita, rekan Nur Aini menjelaskan, terdapat tiga proses biologis yang akan dilalui selama masa fermentasi itu. "Proses pengomposan, ekstraksi dan inkubasi," tutur mahasiswi semester enam ini.

Setelah tahapan-tahapan itu dilalui, maka POC dari feces sapi telah siap untuk diaplikasikan. "Prosesnya memang agak lama, sekitar dua bulan," ungkap Nur Aini.

Baca Juga :  Antin Purwanti Peroleh IPK Tertinggi

Namun, dibalik proses yang relatif panjang itu, para peternak nantinya dapat memperoleh keuntungan yang jauh lebih tinggi ketimbang sebelumnya. Nur Aini kemudian memaparkan secara rinci yang akan didapat oleh peternak.

Sebelum tinja sapi diolah menjadi POC, peternak hanya memperoleh sekitar Rp 100 ribu perhari, dari hasil sebanyak 200 kilogram kotoran sapi.

"Karena tiap kilo cuma Rp 500," terang Nur Aini.

Akan tetapi, jika dibuat POC, pendapatan tambahan itu akan meningkat berkali-kali lipat. Faradhita menghitung, 200 kilogram feces sapi dapat diolah menjadi kurang lebih 800 liter POC. Sedangkan tiap liter POC, bisa dinilai Rp 20 ribu.

"Sangat signifikan peningkatannya," tegasnya, sembari berharap, gagasan yang mereka berikan itu dapat diwujudkan oleh para peternak di Dusun Plalar.

Nurul Anindyawati, Dosen Fakultas Pertanian Untidar menjelaskan, pupuk organik yang berasal dari kotoran sapi bermanfaat untuk meningkatkan unsur hara dalam tanah. Ini berkebalikan dengan pupuk NPK sintetis, yang justru akan mengurangi unsur hara apabila dipergunakan dalam jangka panjang.

"Untuk dibuat biogas juga bisa, karena mengandung Carbon dan Nitrogen yang tepat," terang Nurul. (*)

Apa Tanggapan Anda ?