Advertorial Opini

Simak, Jurus Jitu Wujudkan Pembelajaran Daring Berintegritas di Era Pandemi

Siedoo, Guru di era sekarang ini tugasnya tidak ringan apalagi dalam era pandemi covid-19 yang semula dengan pembelajaran tatap muka atau luar jaringan (luring) menjadi pembelajaran jarak jauh atau online atau dalam jaringan (daring).Tentu banyak perubahan terkait dengan strategi, pendekatan, dan metode pembelajaran yang harus dilakukan oleh guru serta kesiapan murid-murid untuk mengikuti pembelajaran online.  Tentunya dalam pembelajaran daring banyak permasalahan-permasalahan yang dijumpai dan harus segera dicarikan solusi.

Ada beberapa permasalahan yang dijumpai pada pembelajaran daring antara lain: (1) Lokasi rumah tidak terjangkau jaringan internet, termasuk quota internet murid minimalis, (2) Media pembelajaran yang digunakan para guru dominan monoton dan membuat para murid merasa jenuh atau bosan, (3) Pembelajaran dominan belum interaktif, (4) Karakter ataupun perilaku para murid sulit dipantau, (5) Pemelajarannya cenderung tugas online, (6) Tugas diberikan para murid menumpuk, (7) Penyerapan materi pelajaran sangat minimalis, dan (8) Penilaian yang dilakukan guru berupa Penilaian Harian (PH), Penilaian Tengah Semester (PTS), Penilaian Akhir Semester (PAS) termasuk Ujian Sekolah (US) kurang berintegritas.

Untuk mengatasi permasalahan tersebut sangat perlu diwujudkan pembelajaran daring untuk tetap berintegritas. Pembelajaran daring berintegritas merupakan pembelajaran dalam jaringan atau online dengan dikondisikan bahwa guru dan murid-muridnyaselalu memiliki pribadi jujur dan karakter kuat, dengan nilai-nilai integritas selalu melingkupi guru dan murid-muridnya di mana saja berada. Meliputi: jujur, peduli, mandiri, disiplin, tanggung jawab, kerja keras, sederhana, berani, dan adil.

Menurut siswa bahwa guru yang ideal berintegritas itu tercermin pada untaian kata: gerak langkahnya selalu diikuti, usaha untuk mencerdaskan bangsanya sangat dikagumi, rasa percaya dirinya selalu menyertai, untuk bekal kelak murid-muridnya nanti. Kalau seorang guru melakukan kebaikan maka tidak mustahil bagi muridnya akan melakukan kebaikan yang lebih baik lagi.

Menurut guru bahwa murid yang ideal berintegritas itu tercermin pada untaian kata-kata: merasa dirinya murid sejati, ulangan mendadak paling disukai, rasa percaya diri selalu menyertai, ingin menyontek sangat anti, dan hasil prestasi yang dicapai tidak perlu diragukan lagi alias tuntas belajarnya. Sifat keteladanan guru sangat kuat untuk membentuk karakter muridnya.

Untuk mewujudkan guru yang ideal berintegritas dan juga murid yang ideal berintegritas seperti tersebut di atas agar pembelajaran daring dapat terealisasi dengan baik bahkan terwujud pembelajaran daring beintegritas di era pandemi ini maka diperlukan jurus-jurus jitu untuk dapat mengantisipasi permasalahan tersebut melalui Guru 11 B sebagai Jurus Jitu pembelajaran daring di era pandemi antara lain guru yang seperti paparan berikut:

  1. Berpribadi Guru Sejati

Guru yang berpribadi guru mempunyai andil yang sangat besar terhadap keberhasilan pendidikan dalam kegiatan pembelajaran. Karena pribadi guru yang baik itu menyebabkan guru tersebut menjadi idola muridnya sehingga murid suka mencontoh kepribadian gurunya. Seringkali kita jumpai ketika orang tua akan mendaftarkan anaknya ke sekolah maka orang tua tersebut akan mencari tahu seperti apa kualitas sekolah tersebut dan mencari tahu seperti apa guru-guru yang akan membimbing anaknya kelak.

Guru tidak hanya dituntut untuk memaknai pembelajaran, tetapi guru tersebut menjadikan pembelajaran sebagai ajang pembentukan kompetensi dan perbaikan kualitas pribadi murid. Kompetensi yang harus dimiliki guru, yaitu kepribadian: berakhlak mulia, mantap stabil dan dewasa, arif bijaksana, menjadi teladan, mengevaluasi kinerja sendiri, mengembangkan diri, dan religius.

Guru yang berpribadi sebagai guru yang harus dicermati di antaranya: (1) guru harus haus akan ilmu  yang berarti guru harus gemar, biasa, dan merasa butuh membaca karena ilmu itu berkembang dengan cepat,  kalau tidak banyak membaca akan ketinggalan. (2) guru setiap akan mengajar harus benar-benar mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya dan merasa kecewa bila murid-muridnya nilai ulangan atau tesnya jelek-jelek.

Kemudian, (3) guru melakukan refleksi sebelum mengakhiri pembelajaran. Bagaimana pembelajaran pada hari ini, membosankan atau mengasyikkan, menjenuhkan atau menyenangkan. Bagaimana suara guru dapat didengar dengan baik, bagaimana tempo suara guru ketika menjelaskan terlalu cepat atau terlalu lambat, bagaimana tulisan guru dapat terlihat dengan jelas, dan seterusnya. Serta, (4) mengelola kelas dengan baik dan ketika mengajar harus dapat menyenangkan siswa. Itulah guru yang dirindu, kehadirannya sangat ditunggu-tunggu oleh murid-muridnya.

Sedangkan pribadi guru sejati di antaranya: (1) Sabar  dalam menghadapi berbagai situasi. (2) Empati terhadap warga sekolah beserta murid-murid yang selalu dicintai. (3) Jujur dalam menapaki kehidupan  yang hakiki. (4) Amanah dalam melaksanakan tugas sehari-hari. (5) Tawakal menghadapi masalah silih berganti. (6) Ikhlas melaksanakan tugas berbalut Imani.

  1. Berjiwa Pendidik yang Inspiratif

Guru inspiratif adalah guru yang terbuka dan membawa wawasan bagi murid-muridnya maupun dirinya sendiri, terbuka dengan pemikiran barudan cara-cara baru untuk tugas mengajarnya. Hal-hal yang harus dilakukan guru inspiratif di antaranya: (1) menunjukkan keterbukaan  perencanaan mengajar dan kegiatan belajar mengajar. (2) menjadikan materi pelajaran berguna bagi kehidupan nyata siswa. (3) mempertimbangkan berbagai alternatif cara menyampaikan isi pelajaran kepada murid-muridnya. (4) menunjukkan perilaku demokratis dan tenggang rasa kepada semua murid.

Selanjutnya, (5) menggunakan humor secara proporsional dalam menciptakan situasi kegiatan belajar mengajar yang menarik. (6) memandang murid sebagai patner dalam kegiatan belajar mengajar. Dengan demikian guru dapat menerapkan cara mengajar yang tidak membosankan tatapi menyenangkan bagi murid-muridnya melalui metode atau pendekatan atau strategi pembelajaran yang relevan dan baik.

Untuk menjadi guru inspiratif harus mempunyai komitmen tinggi terhadap perubahan, mampu membawa murid-muridnya memahami dunia melalui dirinya sendiri , mampu memberikan layanan pendidikan kepada murid-muridnya dengan berbagai latar belakang yang berbeda (fisik, intelektual, sosial, dan emosional).

Apabila guru sudah memiliki jiwa inspiratif yang selalu tampil menyenangkan maka murid-muridnya akan merasa nyaman berada di kelas (luring) maupun berada di rumah melalui daring (online). Bahkan guru inspiratif  selalu dinantikan kehadirannya. Guru inspiratif juga dapat mencetak generasi penerus yang berintegritas (berpribadi jujur dan berkarakter kuat) serta dapat menjadi tombak keberhasilan pendidikan.

  1. Beri’tikad Mendidik Dengan Hati

Mendidik dengan hati adalah mendidik dengan kelembutan dan kasih sayang yang bersumber dari hati. Cara mendidik dengan hati diantaranya dengan: memberikan lebih banyak kasih sayang terhadap pekerjaan sebagai guru juga kepada murid-muridnya. Murid-murid adalah titipan mulia yang harus diajari dari tidak tahu menjadi tahu, dididik dari tidak baik menjadi baik, dari baik menjadi lebih baik lagi.

Guru senantiasa peduli dan berbagi, tidak suka memberikan hukuman tetapi lebih suka memotivasi dan memberikan pujian. Mengajar dan mendidik dengan kasih sayang  dan kelembutan akan melahirkan generasi yang tumbuh dengan sifat positif seperti kepercayaan diri yang tinggi, berani, bertanggungjawab, dan tidak mudah patah semangat.

Guru harus mampu menghadirkan hati di kelas ketika berhadapan dengan murid-muridnya dengan mengungkapkan perkataan berkualitas yang menyentuh hati mereka dan menghujam ke dalam jiwamengakar ke dalam dada,memberikan pengaruh ke dalam ibadah, membangun akhlak mulia sehingga membentuk generasi harapan bangsa dan agama.

Guru yang mendidik dengan hati, murid-muridnya tidak akan melupakan apa yang mereka rasakan karena guru, ini berarti guru yang mendidik dengan hati yang akan sampai juga ke hati murid-muridnya. Guru yang mendidik dengan hati yakni guru yang penampilannya berbasis kualitas hatinya, secara tulus ikhlas menjadi guru yang merupakan bagian dari kebajikan tertanam dalam hatinya.

Guru yang selalu berkomunikasi dengan hati, mendidik dengan hati, hati-hati, baik hati, sepenuh hati, dan tidak menyakitkan hati. Artinya seorang pendidik dalam menyampaikan keilmuan harus memiliki keikhlasan dan kasih sayang serta mengedepankan sikap bersahabat, menyenangkan, empati, konsistensi terhadap komitmen, antusias, membangun team work, ramah, santun, dan sabar.

  1. Bersemangat Juang Tinggi

Guru yang bersemangat juang tinggi adalah guru yang mempunyai dorongan kekuatan dan perwujudan yang dinamis dari jiwa yang membangkitkan kemauan berjuang meraih kesuksesan. Sedangkan jiwa yang dimaksudkan adalah sesuatu yang menjadi sumber kehidupan dalam ruang lingkup makhluk Tuhan Yang Maha Esa. Merupakan keseluruhan keadaan batin manusia yang terdiri atas pengetahuan (kognitif), perasaan (afektif), kehendak (konasi), dan keterampilan (psikomotorik).

  1. Berpikir Kritis

Guru yang berkemampuan berpikir kritis adalah guru yang memiliki keterampilan berpikir yang ada pada dirinya  dan kemampuan mengkritisi berbagai permasalahan yang ada di lingkungan warganya. Serta mencari solusi untuk kebaikan semuanya.

  1. Bertindak Dinamis

Guru yang bertidak dinamis adalah guru yang melakukan tindakan (aksi atau perbuatan) dengan penuh semangat dan berkekuatan. Sehingga cepat bergerak dan mudah menyesuaikan diri dengan keadaan lingkungannya guna meraih kemajuan atau prestasi yang membanggakan.

  1. Bekerja Efektif

Guru dikatakan bekerja efektif kalau pekerjaan yang dilakukan oleh guru itu memberi hasil yang sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan dari semula. Sedangkan efektivitas berhubungan erat dengan pencapaian tujuan bersama atau tujuan sosial bukan pencapaian tujuan pribadi. Apabila guru bekerja secara efektif, murid-murid aktif mengikuti pembelajaran dengan baik maka sekolahpun akan menjadi produktif.

  1. Berkarya Kreatif

Guru yang berkarya kreatif adalah guru yang mampu mengerjakan suatu pekerjaan sampai menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi semua orang. Serta mampu untuk memberi suatu gagasan baru dalam pemecahan masalah serta mampu untuk membuat suatu sistem atau komposisi yang baru.

  1. Berkiprah Inovatif

Guru berkiprah inovatif adalah guru berkualitas yang melaksanakan tugasnya mampu membangkitkan semangat besar murid-muridnya untuk menjadi ‘agen perubahan’ dunia di era global dewasa ini.

  1. Berkomitmen Menguasai Teknologi Informasi (TI)

Dalam melaksanakan tugasnya sebagai pendidik, seorang guru dituntut mampu mengikuti perkembangan zaman yang semakin maju. Para guru mengikuti sekaligus menguasai perkembangan teknologi informasi untuk mendukung tugasnya sebagai pendidik. Perkembangan teknologi informasi cukup pesat yang diiringi dengan adanya perubahan generasi, semestinya diikuti pula oleh para guru dengan terus mengikuti perkembangan.

Sekarang ini guru dituntut untuk menyesuaikan kondisi tersebut. Maka dari itu, salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mempersiapkan kapasitas guru dalam menghadapi perkembangan teknologi informasi. Yakni dengan membekali mereka dengan kemampuan  dalam penguasaan teknologi tentang hal-hal dan kualitas-kualitas tertentu dalam kehidupan sehari-hari.

  1. Berkemampuan Literasi Baca-Tulis Dengan Baik

Literasi baca-tulis adalah pengetahuan dan kecakapan untuk membaca, menulis, mencari, menelusuri, mengolah dan memahami informasi. Untuk menganalisis, menanggapi, dan menggunakan teks tertulis untuk mencapai tujuan, mengembangkan pemahaman dan potensi, seta untuk berpartisipasi di ligkungan sosial.

Dengan kemampuan literasi baca-tulis yang memadai dan mantap, kita sebagai individu, masyarakat, dan/atau bangsa tidak mudah terombang-ambing oleh berbagai informasi beraneka ragam yang datang secara bertubi-tubi kepada kita. Di samping itu dengan kemampuan literasi-baca-tulis yang baik, kita bisa meraih kemajuan dan keberhasilan.

Sebagai guru yang memiliki predikat Guru 11B tentunya akan mudah untuk mengatasi permasalahan-permasalahan pembelajaran daring dengan cerdas. Termasuk mengkondisikan agar pembelajaran daringpun tetap berintegritas. (*)

Drs. M. Arief Fauzan Bukhori, M.Pd.Si.
Kepala SMA Negeri 1 Magelang,
Jawa Tengah
Apa Tanggapan Anda ?