Daerah Kegiatan

Pondok Pesantren Siapkan Santri Hadapi New Normal

KOTA PEKALONGAN – Memasuki era New Normal, para santri di Kota Pekalongan akan kembali memulai aktivitas mereka di pondok pesantren. Hal ini berdasarkan rapat koordinasi yang telah dilakukan oleh Pemerintah Kota Pekalongan, Dinas Kesehatan, Kementrian Agama, dan Pimpinan Pondok Pesantren mengenai langkah-langkah persiapan menghadapi new normal. Sehubungan dengan kembalinya para santri ke pesantren, para pengurus pesantren telah memberikan pengarahan kepada para santri mereka.

Demikian diungkapkan oleh Kasi Pendidikan Agama dan Keagamaan Islam, Drs. H.M. Nadhif, Senin (6/7/2020). Pihaknya telah melakukan sosialisasi kepada para pimpinan pesantren dan para santri senior mengenai pedoman protokol kesehatan di lingkungan pesantren. (pekalongankota.go.id, 7/7/2020)

Kementerian Kesehatan telah memberikan himbauan bagi para santri dari luar kota untuk melakukan isolasi mandiri selama 14 hari sebelum berangkat ke pondok pesantren. Selain itu, para santri diharuskan membawa surat kesehatan dari puskesmas.

Menurut Nadhif, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah memberikan intruksi kepada kabupaten/kota di Jawa Tengah untuk memberikan fasilitas layanan pemeriksaan kesehatan gratis kepada para santri.

“Untuk menghindari adanya interaksi dengan banyak orang, diharapkan para santri tidak menggunakan kendaraan umum ketika berangkat ke pesantren,” tegas Nadhif.

Nadhif berharap pondok pesantren dapat berkoordinasi dengan puskesmas setempat untuk menyambut para santri. Selain itu, pesantren juga harus memiliki ruang isolasi dan para santri diharuskan melakukan isolasi dahulu di pesantren.

Selanjutnya Nadhif mengungkapkan, Kementerian Agama dan Pemerintah Kota Pekalongan juga telah membuat surat edaran mengenai persiapan new normal pendidikan keagamaan. Meliputi Pesantren, Taman Pendidikan Al-qur’an dan Madrasah Diniyah. Protokol kesehatan pada TPQ tidak jauh berbeda dengan protokol kesehatan pada pondok pesantren, namun pengawasan pada TPQ dan Madrasah Diniyah akan lebih ketat dari pesantren.

“Anak-anak TPQ dan Madrasah Diniyah tetap berinteraksi dengan dunia luar. Mereka datang kemudian pulang ke rumah yang berada di lingkungan terbuka,” pungkas Nadhif. (Siedoo)

Apa Tanggapan Anda ?