Internasional Kegiatan

Kurikulum dan Buku Teks Sains Siswa di Jepang Dibahas FKIP-PSJ UNS

SURAKARTA – Di Jepang, ide dasar kurikulum yang baru adalah peningkatan kualitas dan kemampuan siswa untuk dapat hidup dan bersosialisasi dengan masyarakat. Agar dapat terealisasi, pembelajaran diperkuat pada deep learning dan juga active learning.

Dalam pembelajaran active learning, terdapat 3 poin yang difokuskan yakni deep learning, interactive learning, dan subjective learning. Deep learning adalah siswa tidak sekadar belajar konten namun lebih jauh menerapkan proses berpikir, pengambilan keputusan, dan mengekspresikan pendapatnya. Interactive learning menekankan bahwa tidak hanya siswa yang belajar, tetapi stakeholder juga ikut belajar bersama dan berbagi ilmu. Sementara pada subjective learning, siswa belajar secara mandiri, dan dilatih agar mempunyai semangat untuk terus belajar.

Demikian tentang kurikulum di Jepang yang dibahas dalam menggelar webinar dengan tema “What Japanese Students Learn in Science? An Analysis of Science Curriculum and Textbooks”. Webinar itu digelar oleh Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS) dan Pusat Studi Jepang (PSJ) – LPPM UNS. Digelar bekerjasama dengan Himpunan Pendidik dan Peneliti Biologi Indonesia (HPPBI) dan Persatuan Alumni dari Jepang (PERSADA) Cabang Solo, Selasa (30/6/2020). Webinar berlangsung melalui aplikasi Zoom Meeting dan Live Streaming via Youtube Channel Prodi Pendidikan Biologi UNS.

Acara dibuka oleh Dr. Eng Kusumaningdyah N.H, ST, MT selaku Ketua PSJ, yang sekaligus memperkenalkan profil PSJ-LPPM UNS. Diskusi dimoderatori oleh Murni Ramli, Ed.D (Ketua RG Biology Education – FKIP UNS). Adapun sebagai narasumber menghadirkan Prof. Kiyoyuki Ohshika dari Department of Natural Sciences, Aichi University of Education, Jepang. (uns.ac.id, 1/7/2020)

Webinar ini diharapkan dapat memberikan gambaran tentang kurikulum dan buku pelajaran sains di Jepang, bagaimana proses belajar mengajar di kelas, yang cukup jarang ditemui di dalam pemberitaan ataupun artikel ilmiah.

Webinar dihadiri lebih dari 100 peserta dari kalangan guru, dosen, mahasiswa, termasuk peserta dari Thailand, Dr. Patcharee Wichaidit, yang ikut bergabung bersama mahasiswanya. Webinar berlangsung dalam tiga bahasa, yaitu Bahasa Inggris, Jepang, dan Indonesia.

Prof. Ohshika menerangkan bahwa sangat penting untuk merancang pendidikan untuk keperluan masa depan. Oleh karena itu, kurikulum atau dalam bahasa Jepang disebut dengan Gakushuushidouryouyou atau Course of Study di Jepang dirancang berdasarkan keperluan masa depan. Kurikulum terbaru di Jepang menekankan pada tiga poin penting, yaitu key competencies, active learning, dan curriculum management di level sekolah. Sementara, kurikulum yang lama lebih fokus pada konten di setiap mata pelajaran. Di mana ada tiga fokus pembelajaran yang ditekankan pada setiap mata pelajaran.

“Yaitu apa yang bisa siswa lakukan, kedua adalah apa yg dipelajari, dan yang ketiga adalah bagaimana siswa harus belajar,” terang Prof. Ohshika.

Hal menarik yang dibahas pada webinar ini adalah bagaimana proses belajar sains dengan menerapkan scientific inquiry process tidak hanya diterapkan di kelas, tetapi juga di dalam buku pelajaran sains. Pada buku sains, tahapan proses inkuiri disebutkan dan dijelaskan dengan teks singkat dan gambar, sehingga siswa dan guru lebih mudah menerapkan proses inkuiri. Terkait dengan proses inkuiri pada pembelajaran sains, ada penekanan kemampuan atau keterampilan yang berbeda pada setiap jenjangnya. Demikian pula pada konten di setiap topik materi.

Pemerintah Jepang juga telah memasukkan isu-isu Sustainable Development Goals (SDGs) dalam kurikulum sekolah. Sekolah diberi kebebasan mendesain penerapan topik SDGs di setiap jenjang kelas. Isu-isu SDGs diakomodasi agar siswa-siswa di Jepang lebih memahami apa makna belajar sains bagi kehidupan mereka sehari-hari. Sehingga semakin termotivasi untuk belajar sains. (Siedoo)

Apa Tanggapan Anda ?