Nasional

Webinar Pancasila, Kemendikbud Angkat Topik Aktualisasi Kenormalan Baru

JAKARTA - Menyusul kesuksesan pada 10 Juni 2020 lalu, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui Pusat Penguatan Karakter (Puspeka) kembali menggelar webinar “Aku, Kamu, Dia, dan Pancasila” dalam rangka memperingati Hari Lahir Pancasila 2020. Kali ini topik yang diangkat adalah “Aktualisasi Kenormalan Baru”.

Dilansir dari kemdikbud.go.id (23/6/2020), webinar kedua ini, hadir kembali empat narasumber, yaitu Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikbud Iwan Syahril, Tokoh Pemerhati Pendidikan Najelaa Shihab, influencer dan alumnus Harvard University Nadhira Nuraini Afifa, dan Guru PPKn berprestasi Tingkat Nasional Eko Wahyu Jamaluddin.

Sebagai pembicara pertama, melalui video konferensi di Jakarta, pada Rabu (17/06/2020), Iwan Syahril menerangkan bagaimana pengamalan Pancasila dapat dilakukan dalam pembelajaran di masa kebiasaan baru (new normal). Dari beberapa butir pancasila yang disampaikan, Iwan menekankan pada pentingnya gotong-royong di masa kenormalan baru ini.

“Jadikan Pancasila contoh konkret dalam kehidupan sehari-hari, sehingga mendorong kita untuk berlomba-lomba dalam melakukan kegiatan kemanusiaan dan menjadi teladan. Untuk seluruh jenjang SD, SMP, SMA, dan semuanya, mulai dari RT/RW hingga di mana saja,” terang Iwan.

Iwan menekankan terkait peran pendidik dalam proses pembelajaran pengenalan Pancasila. Dikatakan Iwan, untuk pengajaran karakter, ciptakan ruang aman (safe-space), buka ruang perjumpaan keberagaman ide dan manusia, dan  lakukan asesmen yang reflektif.

Pada kesempatan berikutnya, Najelaa Shihab juga menerangkan bahwa pengamalan nilai-nilai Pancasila dan mempelajari sistem pemerintahan dapat dilatih dalam diri siswa melalui kehidupan di sekolah. Budaya sekolah yang mempraktikkan dan melebur dengan nilai-nilai Pancasila ini akan membuat Pancasila terus hidup dan berkesan dalam diri siswa.

Najelaa menuturkan, dengan cara itu siswa dapat belajar melalui mengamati, mempraktikkan, dan merefleksikan sehingga Pancasila tidak lagi mudah dilupakan, tidak sekedar hapalan, atau sesuatu yang tidak bermakna bagi siswa. Menjelaskan Pancasila tidak perlu menunggu momen seperti di Hari Lahir Pancasila, pendidik dapat menjelaskan langsung kepada murid tanpa menunggu momen.

“Keragaman, Bhinneka Tunggal Ika harus diapresiasi dan dipraktikan dalam kehidupan sehari-hari,” tutur Najelaa.

Sementara itu, keberhasilan Nadhira Nuraini Afifa menjadi perbincangan publik Indonesia pada beberapa bulan terakhir ini. Nadhira berhasil menjadi mahasiswa terpilih di T.H. Chan School of Public Health untuk menyampaikan pidato kelulusan. Influencer yang juga lulusan Sarjana Kesehatan ini menyampaikan tentang bagaimana mengaktualisasikan Pancasila di luar negeri.

Menurut Nadhira, ada empat nilai utama Pancasila yang perlu diaktualisasikan selama menempuh pendidikan di luar negeri, yaitu suportif, adaptif, kompetitif, dan kontributif. Pengalamannya menjadi minoritas di Amerika saat belajar di Harvard University. Personal mantra “Lift as you climb”, sama artinya dengan gotong royong.

“Itulah yang saya lakukan untuk bisa survived di luar negeri. Bertemu dengan komunitas-komunitas orang Indonesia di perguruan tinggi lain di Amerika. Saling menjadi support system untuk satu sama lain. Saling membantu dalam kehidupan sehari-hari,” urainya.

Selanjutnya, Guru PPKn di SMA Negeri 3 Seulimeum Aceh Besar Eko Wahyu Jamaluddin membagikan pengalamannya dalam menggunakan aplikasi Konstitusiku. Yaitu untuk menguatkan pengamalan nilai gotong-royong pada siswa melalui pembelajaran jarak jauh (PJJ). Pembelajaran yang dilakukan Eko ini memiliki beberapa tantangan. Seperti masih adanya siswa yang tidak memiliki fasilitas gawai, sinyal internet yang tidak stabil, dan kurangnya kepedulian orang tua.

Di masa Belajar di Rumah melalui aplikasi Konstitusiku peserta didik saling membantu dengan meminjamkan gawai. Memunculkan kepekaan sosial peserta didik melalui materi pembelajaran berdasarkan isu-isu/masalah di masa pandemi.

“Hal ini membuat sistem untuk peserta didik agar bahu-membahu bergotong royong di dalam pembelajaran,” jelas Eko.

Seperti halnya pada webinar sebelumnya, webinar kali ini cukup menarik banyak peserta. Peserta yang mendaftarkan diri mengikuti webinar kedua ini mencapai 4.000 peserta, melebihi jumlah peserta pada webinar pertama yang berjumlah 1.512 peserta.  Mayoritas peserta webinar adalah pendidik dan pelajar yang berasal dari 34 provinsi di Indonesia maupun dari luar negeri. (Siedoo)

Apa Tanggapan Anda ?