Tokoh

Usung Sistem Irigasi, Imam Arifin Terpilih Jadi Mawapres UNS 2020

Siedoo, Lahan pasir sebenarnya memiliki potensi yang besar untuk budidaya pertanian, tapi kendalanya adalah pengelolaan irigasi. Lahan pasir pantai dihadapkan dengan masalah seperti kandungan hara dan kemampuan menukar kation yang rendah serta rendahnya kemampuan dalam menyimpan air.

Melihat hal itu, Imam Arifin mengusung sistem irigasi yang dapat dimonitoring melalui smartphone dalam ajang Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Pilmapres) Universitas Sebelas Maret (UNS) minggu lalu. Dengan gagasan itu dia terpilih sebagai Mawapres Utama UNS 2020. (uns.ac.id, 17/6/2020)

Mahasiswa kelahiran Purbalingga, 5 Mei 1998 tersebut saat ini sedang menempuh pendidikan semester 6 pada Program Studi (Prodi) Ilmu Tanah Fakultas Pertanian (FP) UNS, Surakarta. Dengan raihan itu, mahasiswa muda dan berprestasi akan mewakili UNS di ajang Pilmapres Nasional.

Berasal dari desa tidak menjadi penghalang untuk mengukir prestasi. Hingga saat ini, banyak prestasi baik tingkat nasional maupun internasional yang telah ditorehkan. Pada tahun lalu, ia terpilih mengikuti program Asean International Mobility for Student (AIMS) selama 1 semester di Universiti Malaysia Sabah, Malaysia.

Beberapa capaian lain yang berhasil diraih yaitu Juara 1 Esai Nasional Universitas Bengkulu 2019, Juara 1 Esai Universitas Lambung Mangkurat 2019, Juara 1 Cerdas Cermat Universitas Padjajaran 2019, Juara 2 Esai Nasional Universitas Negeri Semarang, dan masih banyak prestasi lainnya.

Proses yang Ia lalui untuk meraih predikat Mawapres Utama UNS ini tidaklah mudah. Anak ke-7 dari 8 bersaudara tersebut memiliki prinsip untuk selalu mencoba setiap kesempatan yang datang.
“Saya tidak pernah menyangka bisa berada di titik seperti ini. Tujuan utama saya adalah menambah ilmu dan pengalaman, untuk hasil saya anggap sebagai bonus atas usaha saya. Jadi, setiap ada kesempatan yang menghampiri akan selalu saya coba,” ujarnya.

Penerima beasiswa bidikmisi tersebut tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk selalu memberikan yang terbaik sebagai wujud bakti kepada almamater. Keenam kakaknya hanya lulusan Sekolah Menengah pertama (SMP), oleh karena itu Imam bertekad agar bisa menempuh pendidikan hingga bangku perkuliahan. Dukungan dari keluarga tentu berperan bagi kehidupan Imam.

“Keluarga selalu mendukung, kakak saya selalu bilang bahwa saya harus terus sekolah. Urusan biaya nanti mereka yang akan menanggung, itu kata kakak saya. Alhamdulillah saya juga mendapatkan beasiswa bidikmisi sehingga untuk keperluan hidup selama kuliah tidak perlu meminta kiriman dari keluarga,” jelasnya.

Persiapan yang akan dilakukan untuk menuju tingkat nasional yaitu memaksimalkan kemampuan berbahasa Inggris dan memperbaiki karya tulis. Selain itu, gagasannya juga sudah diaplikasikan dalam bentuk aplikasi, namun ia akan berusaha untuk mengoptimalkannya. (*)

Apa Tanggapan Anda ?