Kegiatan

Strategi Pembelajaran ABK Menghadapi New Normal Ala PSD LPPM UNS

SURAKARTA - Banyak hal yang harus disiapkan sekolah sebelum dibuka kembali pada masa Covid-19. Untuk SLB kegiatan tatap muka dapat diatur melalui kebijakan Kepala Sekolah. Kepala Sekolah juga harus mampu berkoordinasi dengan melibatkan pihak-pihak terkait. Seperti guru dan orangtua siswa agar pembelajaran yang dilakukan selama masa pandemi ini dapat dikontrol dengan baik.

Demikian disampaikan Direktur GTK Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Dr. Praptono dalam webinar melalui aplikasi Zoom dan live streaming YouTube, Selasa (9/6/2020). Webinar digelar oleh Pusat Studi Difabilitas (PSD) Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Adapun tema yang diangkat adalah Strategi Pembelajaran ABK Menghadapi New Normal”.

Diskusi yang menerima pendaftaran sebanyak 1.014 peserta melalui Google form ini, menggandeng Asosiasi Profesi Pendidikan Khusus Indonesia (APPKhI) Pusat. Serta APPKhI Jawa Tengah, Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Pendidikan Menengah dan Khusus (Dikmensus) Kemendikbud RI, dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah.

Dilansir dari uns.ac.id (10/6/2020), sebagai pemantik diskusi, dihadirkan Prof. Munawir Yusuf, dosen Prodei pendidikan Luar Biasa UNS. Webinar ini menghadirkan 4 narasumber utama yakni Dr. Praptono, Irma Listyanawati, M.Si., Dr. Padmaningrum dan Ummul Mustaqimah, M.T.

Pada sesi pertama, diskusi dan materi disampaikan oleh Dr. Praptono berupa ulasan strategi penyiapan guru Sekolah Luar Biasa (SLB) dalam menghadapi New Normal pandemi Covid-19. Dr. Praptono mengimbau para guru harus memastikan bahwa setiap peserta didik tetap mendapatkan kesempatan pembelajaran yang berkualitas saat pandemi berlangsung. Untuk pembukaan kembali satuan pendidikan harus memenuhi beberapa syarat seperti berada di daerah dengan status zona hijau atau biru dan adanya kesiapan sekolah.

Setiap satuan pendidikan harus paham betul mengenai syarat dan ketentuan yang harus dipenuhi dalam pembukaan sekolah kembali. Adapun, kesiapan sekolah yang dimaksud adalah adanya alat-alat kesehatan, seperti alat pengukur suhu badan. Selain itu, semua warga sekolah diimbau untuk menggunakan masker dan menerapkan jaga jarak.

“Selain hal tersebut, guru-guru yang berumur di atas 45 tahun harus melakukan pemeriksaan kesehatan oleh Satuan Petugas Sekolah,” kata Dr. Praptono.

Pembicara kedua yakni Irma Listyanawati, M.Si membahas kesiapan pembelajaran menuju New Normal di SLB dalam menghadapi Covid-19. Pengawas SLB di Jawa Tengah ini, menjelaskan bahwa media daring yang digunakan di SLB yaitu 97% dilakukan melalui aplikasi WhatsApp. Pemahaman New Normal menurut survei terhadap 147 responden yang terdiri dari guru Aparatur Sipil Negara (ASN) maupun guru-non ASN dan dari berbagai jenjang pendidikan yaitu 48,30% paham, 30,61% cukup paham, 14,29% amat paham, 5,44% kurang paham, dan 1,36% tidak paham.

Model pembelajaran yang diinginkan responden yakni daring dan tatap muka namun kenyataan di lapangan selama ini menunjukkan bahwa guru lebih banyak memberi tugas melalui aplikasi WhatsApp. Pola masuk pembelajaran dalam sepekan yakni 2 hari tatap muka dan 3 hari daring.

Irma menjelaskan pembelajaran menuju New Normal di SLB menghadapi Covid-19 dikatakan cukup siap, tetapi jika pemerintah sudah menganjurkan, tetap akan dipatuhi. Sekalipun protokol kesehatan telah dinyatakan siap, tetapi siswa berkebutuhan khusus memiliki risiko yang lebih besar dibanding anak usia sebaya. Ini dikarenakan sebagian besar pemahaman terhadap Covid-19.

“Dan risikonya tidak dipahami atau tidak tahu risiko, tidak paham cara menghindari, dan daya tahan jenis Anak Berkebutuhan Khusus tertentu lebih rentan,” katanya.

Materi selanjutnya dibawakan oleh Sekdis Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah, Dr. Padmaningrum. Dia meninjau kebijakan Disdik Jawa Tengah tentang pembelajaran di SLB dalam kondisi new normal menghadapi Covid-19. Pedoman penyelenggaraan pembelajaran dan layanan pendidikan pada SLB di Jawa Tengah harus sesuai tatanan New Normal guna melindungi anak difabel dalam menghadapi pembelajaran di sekolah.

Dikatakan Dr. Padmadiningrum, dengan adanya pedoman tersebut dapat memberikan jaminan keamanan bagi anak difabel yang rentan terkena Covid-19. Dengan protokol atau panduan itu, dapat meningkatkan pemberian layanan yang tepat pada difabel di masa Covid-19. Serta menciptakan lingkungan sosial yang mendukung pemenuhan hak-hak difabel dengan memperhatikan keberagaman difabel.

Pembicara terakhir dari orang tua anak ABK, yakni Ummul Mustaqimah, M.T. Dia  mengulas peran orangtua dalam pembelajaran pada situasi New Normal dalam menghadapi Covid-19 untuk putra-putrinya dengan berkebutuhan khusus.

Terdapat beberapa aspek yang harus dipersiapkan orangtua untuk menghadapi New Normal. Yaitu menerima perubahan, berdamai dengan kondisi baru, gali hal-hal yang menyenangkan, buka saluran komunikasi, membangun quality time, mutual time saat di rumah aja.

“Dari sisi kognitif, pelajari kembali kemajuan belajar anak buat lesson plan. Lakukan komunikasi dengan guru, para profesional dan terapis terkait perkembangan belajar anak,” ujar Ummul. (Siedoo)

Apa Tanggapan Anda ?