Nasional

Berikut Strategi Tumbuhkan Kepercayaan DUDI Pada Lulusan Vokasi

JAKARTA – Kemampuan berkomunikasi adalah hal yang utama dalam menjalin kerja sama dengan dunia usaha dan industri. Industri akan senang jika diajak berdiskusi tentang kebutuhan mereka dan mau berhubungan baik dengan pemerintah. Dunia Usaha dan dunia Industri (DUDI) yang punya mindset bahwa SDM adalah investasi yang sangat strategis dan fondasinya ada di dunia pendidikan akan bisa diajak bekerjasama.

Untuk itu, Direktur Jenderal (Dirjen) Vokasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Wikan Sakarinto mengatakan bahwa vokasi harus terus melakukan inovasi dan terobosan. Meski sebagian besar sudah berkolaborasi dengan dunia usaha dan dunia industri, link and match harus terus ditingkatkan. Demikian dikatakannya saat membuka SBMPN secara dalam jaringan (daring) di Jakarta baru-baru ini.

Dilansir dari kemdikbud.go.id (26/5/2020), Wikan mengatakan, pihaknya mendorong agar vokasi benar-benar ’menikah’ dengan dunia usaha dan industri. Kurikulum harus kolaborasi, pengajar tamu rutin, ada sertifikasi kompetensi bagi mahasiswa yang sudah magang, dan penyerapan lulusan harus dilakukan lebih.

“Jangan pernah puas, selalu perbaiki berinovasi lebih sempurna lagi, harus kita kejar,” ujarnya.
Wikan menambahkan, apabila Kemendikbud bisa buktikan lulusan vokasi sesuai dengan kebutuhan industri, maka sangat mungkin DUDI berebut untuk bekerja sama dengan para lulusan. Kementerian, lajutnya, bahkan mau membuat prodi khusus yang menjadi kebutuhan.

“Kuncinya adalah komunikasi, kesepakatan, komitmen, maka akan tercipta kepercayaan, trust,” kata Wikan.

Enam Strategi

Sejalan dengan konsep yang disampaikan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) tentang ‘pernikahan massal’ antara vokasi dengan DUDI, Wikan menjabarkan hal-hal yang perlu dilakukan dalam mempercepat implementasi konsep tersebut. Pertama, sepakati tujuan, apa yang ingin diciptakan dan ramu mekanismenya bersama-sama. Kedua, undang tenaga ahli untuk mengajar dalam kerangka kurikulum yang telah disepakati.

Strategi ketiga, susun program magang di DUDI yang konsepnya didesain bersama-sama, evaluasi prosesnya dan terus perbaiki.  Keempat, beri legalitas kepada peserta yang telah selesai magang berupa sertifikat kompetensi yang disahkan oleh perguruan tinggi dan industri.

“Akan sangat baik jika lulusan magang bisa menghasilkan prototype yang real berbasis masalah yang ditemukan di DUDI,” kata Wikan.

Kelima, dunia usaha dan industri bisa berkontribusi kepada mahasiswa vokasi dengan pemberian beasiswa, ikatan, dinas, maupun sumbangan alat praktik. Alat-alat praktik yang bagus dapat menunjang pembelajaran. Wajar bagi industri memiliki alat-alat canggih sesuai perkembangan teknologi karena ia berhubungan langsung dengan pasar profesional yang mengedepankan tuntutan kualitas produk barang maupun jasanya.

“Akan sama baiknya jika mahasiswa memiliki alat peraga yang relevan untuk mendukung proses pembelajarannya,” urai Dirjen Vokasi itu.

Sedangkan strategi keenam, libatkan mahasiswa dalam membuat produk inovasi dosen maupun perguruan tinggi. Kemudian buat patennya dan produksi secara massal agar lebih berdaya guna bagi masyarakat luas. Ini yang disebut teaching industry.

“Bisa dibayangkan, pernikahan massal ini harus terjadi secara simultan dan tidak berhenti untuk improving,” pungkas Wikan. (Siedoo)

 

Apa Tanggapan Anda ?