Advertorial Daerah

Siswa-siswi SMPN 1 Kota Magelang Diajari Tari Tradisional

MAGELANG - Kebudayaan menjadi kekayaan yang perlu untuk dijaga dan dilestarikan. Menanggapi hal ini, SMPN 1 Kota Magelang, Jawa Tengah menerapkan pembelajaran tari bagi siswanya, khususnya kebudayaan tari tradisional di Indonesia. Siswa diajarkan menari mulai dari kelas VII sampai kelas IX.

"Dari kelas VII kami memberi pelajaran yang paling dasar. Lalu berjenjang semakin naik kesulitan dalam hal gerakan dan koreografinya," ujar Pengampu Guru Tari, Sugiharti Sudiana, S.Sn.

Dijelaskan, siswa kelas VII diajarkan tarian dasar dan pembentukan kelompok serta pembangunan kemistri antar individu. Pembentukan anggota kelompok yang bermacam-macam karakter akan membentuk kelompok yang lebih kompak.

Diterangkan, dalam mengajarkan budaya tari tradisional ini membutuhkan usaha untuk menarik siswa agar mau mengenal budaya tari, terutama siswa laki-laki. Maka pembangunan mind set tentang melestarikan budaya tari dan penekanan bahwa menari tidak hanya dilakuka perempuan menjadi titik paling penting di awal pembelajaran.

Tarian yang diajarkan pada kelas awal yaitu tarian kembang dolanan. Tarian ini dipilih karena tarian kembang dolanan dianggap sudah jarang ditampilkan dan perlu untuk dibudayakan lagi. Selain itu juga mudah untuk diajarkan kepada siswa.

Pada jenjang berikutnya di kelas VIII siswa akan dibimbing untuk mengembangkan tarian-tarian dasar. Dalam proses ini siswa akan dibebaskan untuk memilih sendiri tarian mana yang akan ditampilkan. Mulai dari tarian kembang dolanan, tari budaya dan tari tradisional yang lain. Kerja sama antar siswa ditekan lebih dalam dalam jenjang ini untuk membangun kelompok yang lebih kompak.

"Dikelas VIII ini siswa juga akan dibebaskan untuk memilih kelompok sendiri dengan catatan tidak boleh egois dan mau belajar bersama dan membangun kelompok yang bagus," tuturnya.

Selain bimbingan untuk menari, siswa juga diajarkan untuk membuat koreografi tarian serta tata panggung. Siswa akan mempresentasikan hasil koreografi dan tata panggung menggunakan peraga yang dibuat dengan bahan-bahan di sekitar.

"Siswa akan presentasi hasilnya secara mandiri dan berkelompok setiap pertemuan. Lalu saya evaluasi dan saya beri masukkan supaya mereka bisa berkembang lebih baik lagi," ungkapnya.

Dalam pembelajaran tari ini, selain siswa diajak untuk melestarikan budaya dengan cara mempraktikkan budaya menari, siswa juga diajarkan untuk bekerjasama kelompok dengan baik dengan saling membantu.

"Saya tidak melihat hasilnya dalam tarian, tapi yang saya lihat adalah proses siswa belajar dan melestarikan budaya. Karena di sini kita tidak mendidik anak jadi seniman tapi mengenalkan budaya tari," jelasnya.

Beberapa siswa mengaku tertarik dan sangat senang dengan adanya pembelajaran menari. "Saya sendiri merasa menari itu hobi, apa lagi tari tradisional karena waktu nari itu mendalami menjadi lebih kuat waktu menari tradisional itu," kata Arif Putra Effendy, siswa kelas IX yang sudah menjadi penari profesional dalam tarian tradisonal. (Siedoo)

Apa Tanggapan Anda ?