Advertorial Daerah

Gelar Pameran dan Luncurkan Batik Burung Hantu, Berikut Filosofinya

MAGELANG - Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 3 Kota Magelang, Jawa Tengah mengadakan pameran dan pagelaran seni. Kegiatan yang diadakan satu tahun satu kali tersebut untuk memenuhi ujian praktik mata pelajaran seni rupa dan prakarya siswa kelas 9, Sabtu (01/2/2020).

“Acara ini dalam rangka ujian praktik yang dikemas dengan pameran seni dan prakarya, sekaligus akan di­-lounching batik SMPN 3 Magelang. Perlu kami sampaikan, persiapan siswa dari satu bulan dalam mengemas acara dan karyanya cukup luar biasa. Karakter tercipta, kegotong royongan, kemandirian. Saya lihat betul-betul kerja sama antara siswa sangat luar biasa,” kata Kepala SMPN 3, Harjanta, M.Pd.

Para siswa dalam mempersiapkan bisa bekerja sama dengan baik, tanpa bentrokan. Jiwa tanggung jawab siswa cukup menyenangkan. Para siswa di setiap kelas memamerkan berbagai karya seperti  lukisan dan kerajinan tangan yang jumlahnya ribuan.

Setiap tempat dari masing-masing kelas dalam menyajikan karyanya juga dihias dengan dekorasi yang menarik. Para siswa juga mengenakan baju batik sebagai pemanis dan menambah kesan seni budaya selama kegiatan.

Tidak hanya sekadar pameran, namun siswa juga unjuk menampilkan tarian daerah dan pertunjukan seni bela diri pencak silat. Sedangkan konsep batik yang di­-lounching bersimbol burung hantu.

“Makna filosofinya ialah burung matanya hanya melihat ke depan. Tidak bisa ke samping. Tetapi kepalanya dapat berputar 270 derajat. Hal itu menggambarkan hanya fokus pada satu tujuan, namun tetap bisa memahami keadaan sekitar,” terangnya.

Burung hantu memiliki pendengaran yang baik, menggambarkan banyak mendengar dan tidak akan bertindak sebelum memahami. Tidak seperti burung lainnya yang memamerkan kebolehan untuk diperhatikan, namun lebih memilih diam. Hal ini menggambarkan rendah hati dan tidak sombong.

Pengetahuan manusia akan meningkat, saat menghadapi kesulitan dan tantangan yang bisanya cenderung gelap tidak terlihat dan penuh misteri. Burung Hantu berkelana menembus gelapnya malam, menandakan memiliki sifat yang menyukai tantangan.

“Burung hantu merupakan pemakan daging seperti tikus yang identik dengan perusak dan pemakan tanaman. Burung hantu lah yang membasmi perusak tersebut. Selain itu juga melambangkan kebijakan, ilmu pengetahuan dan kecerdasan. Itu semua filosofi desain batik SMPN 3 Magelang,” imbuhnya.

Kegiatan tidak hanya dinikmati warga sekolah, namun dibuka untuk umum dan dihadiri wali murid, komite dan Kepala Disdikbud (Dinas Pendidikan dan Kebudayaan) Kota Magelang.

Kepala Disdikbud Kota Magelang, Drs, Agus Sujito mengatakan, hasil karya dan potensi siswa sangat baik dan perlu ditingkatkan. Program – program yang kaitannya dengan seni, budaya dan olahraga perlu dikembangkan, diwadahi melalui ekstrakurikuler.

“Kami mohon kepada SMPN 3 Magelang, monggo untuk potensi-potensi di sekolah perlu diwadahi dalam rangka menggali minat bakatnya, disamping aspek akademis. Kedepannya agar siswa kita bisa dipersiapkan untuk event – event. Mari kita bimbing bersama dan arahkan para siswa kita,” kata Agus.

Menurutnya, hal yang ditampilkan para siswa sudah cukup baik. Dirinya memberi masukan agar kemasan acaranya bisa lebih bagus lagi dan seni tariannya bisa terus dipoles.

“Jarang ada sekolah yang mengadakan pemeran-pameran, ya mungkin setiap sekolah punya karakter sendiri. Contohnya di SMPN 3 ini adalah seni budayanya dan di SMP lain mungkin literasinya. Kegiatan ini bisa menjadi tambahan inspirasi untuk Disdikbud. Kedepannya mungkin akan menyelenggarakan pameran untuk semua hasil karya siswa se-Kota Magelang,” ujarnya.

Ditambahkannya, anggaran dari pemerintah kota membantu untuk memfasilitasi dan ada BOSDA (Bantuan Operasional Sekolah Daerah). Termasuk di dalamnya untuk pengembangan seni budaya. (Siedoo)

Apa Tanggapan Anda ?