Kelas Parenting. Komunikasi yang baik antara orang tua dan anak akan membentuk mental serta karakter yang baik dan kuat.

Daerah

Kelas Parenting, Membangun Komunikasi Orang Tua dan Anak

MAGELANG – Pola asuh terhadap anak akan menciptakan karakter yang bisa membentuk sikap dan sifat bagi anak. Kompleksnya masalah yang dihadapi remaja masa kini terkadang dapat membawa mereka kearah yang negatif.

Berangkat dari keperihatinan akan maraknya problematika yang dihadapi oleh remaja ini, SMK Muhammadiyah 2 Muntilan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah mengadakan kelas parenting bagi orang tua siswa. Tema yang diangkat dalam kegiatan ini adalah “Membangun Komunikasi Orang Tua dan Anak”, dengan pemateri Dra. Hj. Eni Harjanti yang merupakan konsultan keluarga dan pemateri acara Jendela Hati di salah satu stasiun tv swasta.

Acara yang diadakan beberapa waktu yang lalu ini diikuti sekitar 280 orang tua serta wali murid. Para peserta yang hadir adalah para orang tua serta wali murid dari kelas X sampai kelas XII.

“Kami ingin sekolah tidak hanya sebagai tempat belajar saja, tapi juga menjadi sarana memperbaiki moral bangsa,” kata Untung Supriyadi S.Pd.I, Kepala SMK Muhammadiyah 2 Muntilan.

Program kegiatan seperti ini dipandang perlu dilakukan oleh sekolah karena permasalahan remaja yang dapat menjurus kearah tindakan yang negatif dapat bersumber dari pola didik orang tua. Suasana gedung Muhammadiyah Bakalan Muntilan menjadi semakin semarak dengan banyaknya tanya jawab yang dilontarkan oleh para peserta.

“Suasana parenting class seperti ini dapat menjadi salah satu media untuk menemukan dan memecahkan problem generasi muda,” lanjut Untung Supriyadi.

Pertanyaan orang tua yang paling banyak dipertanyakan seputar cara menangani anak. Bagaimana sikap saya menghadapi anak yang ijin mengerjakan tugas.

“Padahal saya tau dia berbohong dari status sosial medianya,” kata salah satu orang tua mengajukan pertanyaan.

Eni Harjanti menjawab pertanyaan tersebut dengan mengatakan bahwa sebagai orang tua ketika mengetahui hal seperti itu jangan langsung bersikap keras atau marah. Jangan langsung bertanya kepada anak.

“Tapi tanyakan kondisi tempatnya bermain, misalnya orang tua dapat menanyakan gimana kondisi Parangtritis sekarang, ya kapan – kapan main kesana yuk,” katanya.

Dengan model pendekatan tersebut, anak akan bercerita dengan sendirinya dan komunikasi dapat terjalin dengan baik. Anak juga tidak akan menyimpan rasa amarah dengan pendekatan yang halus dari orang tuanya.

Selanjutnya pihak sekolah berharap kegiatan seperti ini dapat terus rutin diadakan. Sekolah percaya dengan komunikasi yang baik antara orang tua dan anak akan membentuk mental serta karakter yang baik dan kuat. Sehingga dapat mengantarkan mereka ke gerbang kesuksesan.

Apa Tanggapan Anda ?