Advertorial Daerah

Kembangkan Revolusi Industri 4.0, Guru Pakai Mesin 3D Printer Buatan UGM

MAGELANG – Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Muhammadiyah 1 Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah mengadakan workshop Pendampingan, Pelatihan dan Penyusunan Modul Pembelajaran Industri 4.0, Senin (30/12/2019). Hal ini merupakan rangkaian dari Teaching Factory. Sekolah harus mengembangkan salah satu bidang yang ditunjuk dari direktorat untuk pembelajaran industri 4.0.

"Ada Robotic, E-commerce, VR, Tourism Promotion. Ada 3D printing. Kita lalu bekerja sama dengan UGM (Universitas Gadjah Mada) sebagai pembimbing, pedamping, pelatih sampai ke alat – alatnya,” kata Kepala SMK Muhammadiyah 1 Borobudur, Munif Hanafi, S.S.

Pesertanya ialah para guru, terdiri dari unsur pimpinan, wakil kepala sekolah dan kaprodi tiap jurusan. Pelatihan dan bimbingan lebih difokuskan kepada gurunya terlebih dulu, sebelum diajarkan kepada para siswa.

“Kalau gurunya sudah oke, kita mulai menyusun model pembelajarannya. Paling tidak dua pembelajaran atau dua kompetensi dasar yang sesuai dengan 3D printing,” imbuhnya.

Pihak sekolah memilih 3D printing. Targetnya untuk pembelajaran tentang industri 4.0. Selain itu untuk menumbuhkan jiwa kreatif, inovatif dan jiwa kewirausahaan terhadap siswa.

Pada kesempatan tersebut, pihak sekolah menghadirkan dua pemateri peneliti dari UGM. Sejak 2010 ke atas, UGM memang sudah intens mengembangkan 3D printing.

Salah satu pemateri Syahirul Alim Ritonga, S.T mengatakan, dirinya memberikan materi revolusi industri 4.0 dan 3D printing sebagai salah satu teknologi yang termasuk ada di dalamnya.

“Jadi 3D printing ini teknologi yang masih jarang di masyarakat Indonesia. Mungkin hanya baru segelintir saja yang mengetahui, padahal manfaatnya sangat besar. Poin yang kami tekankan ialah bagaimana teknologi ini, overview potensinya, cara menggunakan alatnya dan memanfaatkannya secara maksimal,” kata Syahirul Alim Ritonga, S.T.

Dijelaskannya, hal yang paling penting dalam 3D printing adalah kreatvitas. Menggunakan alat 3D printing tidak sulit karena mesin yang bekerja. Hal pentingnya adalah kreativitas dalam menentukan desain seperti apa yang akan dicetak.

“3D printing sebenarnya adalah teknologi yang sangat luas. Kalau kita lihat sekarang di negara – negara maju seperti di Eropa dan Amerika, mereka bisa me-3D printing besi dan alumunium. Bahkan mesin jet itu sudah ada yang hasil 3D printing dan langsung bisa dipakai,” jelasnya.

Untuk SMK Muhammadiyah 1 Borobudur, baru disosialisikan 3D printing menggunakan plastik, karena sebagai dasar dan paling mudah. Segi plastik sendiri potensinya juga sangat banyak, seperti membuat prototype dan membuat berbagai macam benda custom.

Tidak hanya memberikan teori, namun praktik pengoperasian mesin 3D printing juga diajarkan. Pihak pemateri membawakan mesin 3D printing (H – 01 Series) hasil ciptaan dari HAL Tech, sebuah perusahaan 3D printer di bawah bimbingan Fakultas Teknik UGM.

“Mesin yang kami bawa ini,  kami buat dan produksi sendiri. Jadi bukan hasil impor dan sudah mulai kami pasarkan. UGM sekarang juga mengembangkan dan merambah ke bidang lain seperti 3D printer cokelat, bahkan sekarang sedang mencoba 3D printer untuk membangun rumah,” ungkapnya.

Pemateri kedua Yarabisa Yanuar, S.T berharap, guru – guru bisa menggunakan teknologi 3D printer ini secara optimal. Selain kreativitas, keterampilan untuk mengelola file 3D dan siap di-printing juga menjadi penting untuk menghasilkan produk yang berkualitas.

“Meskipun ini baru dibukan dengan pelatihan singkat, nanti bisa dilanjutkan dengan pendampingan secara berkala. Tujuannya agar hasil – hasil printing-nya mempunyai kualiatas yang semakin baik. Bisa bersaing dengan produk lain,” ujar Yarabisa. (Siedoo)

Apa Tanggapan Anda ?